Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemendag Fasilitasi Business Matching, Rempah Indonesia Bidik Pasar Belanda
Oleh : Redaksi
Senin | 06-04-2026 | 10:08 WIB
rempah-belanda.jpg Honda-Batam
Atdag RI di Den Haag memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir nasional, PT Sumber Inti Pangan, dengan perusahaan importir Belanda, InterAromat BV lewat pertemuan daring yang digelar pada 13 Februari 2026. (Foto: Kemendag)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan (Atdag) RI di Den Haag memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir nasional, PT Sumber Inti Pangan, dengan perusahaan importir Belanda, InterAromat BV. Pertemuan daring yang digelar pada 13 Februari 2026 ini bertujuan menangkap peluang pasar rempah dan bumbu Indonesia di Belanda yang dinilai kian menjanjikan.

Atase Perdagangan RI Den Haag, Annisa Hapsari, mengatakan fasilitasi tersebut merupakan langkah konkret untuk memperkuat penetrasi produk unggulan Indonesia ke pasar Eropa. "Fasilitasi ini merupakan upaya nyata memperkuat posisi rempah dan bumbu Indonesia yang dikenal memiliki standar kualitas tinggi. Meskipun pasar Belanda cenderung selektif dalam memilih pemasok, mereka berpotensi menjadi mitra jangka panjang apabila hubungan bisnis dibangun secara konsisten dan profesional," ujar Annisa.

Ia menambahkan, tren konsumsi produk etnik di Eropa turut mendorong meningkatnya minat terhadap rempah asal Indonesia. Namun demikian, konsumen Eropa kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan, etika, dan higienitas produk.

"Kami optimistis kepemilikan sertifikasi global akan menjadi nilai tawar penting bagi rempah Indonesia untuk menembus industri makanan global yang semakin kompetitif," katanya.

Untuk memperkuat kepercayaan pasar, Kemendag juga mendorong pemanfaatan program S'RASA (Rasa Rempah Indonesia) sebagai strategi penjenamaan produk nasional. Menurut Annisa, identitas nasional menjadi faktor penting dalam menarik minat konsumen Eropa yang sangat memperhatikan asal-usul produk.

Dalam pertemuan tersebut, PT Sumber Inti Pangan menawarkan beragam produk, mulai dari rempah tunggal, campuran bumbu, produk setengah jadi untuk industri, hingga minyak rempah terhidrasi. Perusahaan juga menyatakan kesiapan memenuhi standar internasional, termasuk sertifikasi keamanan pangan dan audit sosial guna memperluas akses pasar Eropa.

Export Marketing PT Sumber Inti Pangan, Auliya Qisthina, menilai kegiatan business matching tersebut efektif membuka peluang kerja sama konkret. "Kegiatan ini sangat efektif karena mempertemukan kami dengan mitra potensial yang memiliki ketertarikan terhadap produk kami, sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih nyata. Kami berharap dapat memperluas ekspor ke pasar Eropa," ujarnya.

Sementara itu, pihak InterAromat BV menyatakan minat terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti lada putih, kemiri, dan pala.

Direktur Utama perusahaan tersebut, Suryo Tutuko, mengapresiasi inisiatif Kemendag dalam mempertemukan pelaku usaha kedua negara. "Kegiatan ini berlangsung produktif dan telah menghasilkan pengembangan serta pengiriman sampel yang kini tengah dievaluasi oleh klien kami. Ini mencerminkan komitmen dalam mendorong peningkatan ekspor Indonesia sekaligus memperkuat kemitraan bisnis internasional," kata Suryo.

Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat melanjutkan komunikasi teknis untuk membahas spesifikasi produk secara lebih rinci. Kemendag, lanjut Annisa, akan terus mengawal proses tersebut hingga terealisasi dalam bentuk transaksi.

"Pengawalan ini merupakan komitmen kami agar produk nasional tidak hanya masuk, tetapi mampu memperkuat posisi dalam rantai pasok Eropa melalui pemenuhan standar global yang konsisten," tutupnya.

Kerja sama ini diharapkan memperkuat tren positif perdagangan Indonesia-Belanda. Pada 2025, total nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai USD 6,58 miliar dengan surplus bagi Indonesia sebesar USD 4,80 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 5,73 miliar dengan surplus USD 3,76 miliar.

Editor: Gokli