Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Tiada Hari Tanpa Baris Berbaris, Minggu Pertama Menguras Tenaga!
Oleh : Saibansah
Minggu | 29-03-2026 | 13:32 WIB
saiban_petugas_haji.jpg Honda-Batam
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak memeriksa kekompakan baris berbaris para peserta Diklat di minggu pertama. (Foto: Saibansah/BATAMTODAY.COM)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) para calon petugas PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026 selama 20 hari di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 10-30 Januari 2026, tiada hari tanpa baris berbaris. Pagi, siang, malam, baris, baris dan baris terus, sampai jalannya lurus.

Ini karena memang konsep Diklat PPIH 2026 yang dipilih Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI kali ini  didesain untuk menyiapkan para petugas haji tahun ini yang siap fisik, wawasan, komitmen dan berintegritas tinggi. Karena itulah, konsep yang dipilih adalah, Diklat Semi Militer PPIH Arab Saudi 2026.

Apa saja sih yang dilatih? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM, calon petugas PPIH Arab Saudi 2026, Saibansah Dardani yang telah melalui seluruh proses rangkaian seleksi, Diklat 20 hari, hingga pengukuhan oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Mochammad Irfan Yusuf di Lapangan Galaxy Makodau (Markas Komando Angkatan Udara) I Halim Perdana Kusuma Jakarta, Jumat 30 Januari 2026 lalu.

Minggu pertama Diklat, tidak ada materi lain yang diajarkan. Hanya baris berbaris dan penggemblengan mental serta disiplin ala militer. Inilah minggu terberat selama Diklat. Bagaimana tidak, setengah jam sebelum adzan subuh berkumandang, speaker yang terpasang di plafon dalam barak sudah lebih dulu berisik, lebih ramai dari ayam jantan tetangga rumah. Mulai dari tone suara 'persuasif' yang masih enak didengar, sampai dengan suara instruktur 'anak Medan' Briptu Wicaksono yang menggelegar.

"Banguuuuuuuuuuunnnnnnnn."

Sejak menit itulah, kegiatan baris berbaris dimulai. Yaitu, baris untuk bergerak dari barak menuju Masjid Al-Mabrur. Pergerakan dari satu titik ke titik lain harus baris. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Begitulah aturannya.

Usai sholat subuh, kami kembali ke barak. Istirahat? Tidak!

Komandan Kompi Aligator, Mayor Laut (PM) Kangian dan semua instruktur sudah standby di depan Gedung Utama. Bersama dengan para instruktur lain, yaitu Kapten Kavaleri Hari Susanto, Letda Mar Armawi, Letda Cba Hanif Faruzi, Letda Sus M.Alson, Aipda Helga Arfian, Serka Sugiyono, Serma Salman dan Briptu Wicaksono.

Mereka semua telah menunggu kami semua kembali dari masjid. Kami sholat subuh sudah pakai pakaian olah raga. Inilah saatnya jadwal penggemblengan fisik yang pertama. Olahraga dan lari pagi. Berapa jaraknya? Dari smartwatch saya muncul angka lebih dari 2 kilometer atau sekitar 4 ribu langkah. Jika ditambah dengan jarak dari barak ke Masjid Al-Mabrur sejauh 1 kilometer, maka pagi sebelum sarapan, kami di Kompi Aligator sudah jalan 3 kilometer.

Saat olahraga dan lari pagi pun, pergerakan kaki dan tangan harus seirama, serentak dan rapi. Saat joging pagi itu, tidak henti-hentinya kami menyanyikan yel-yel. Mulai dari lagu 'Gembira' sampai dengan teriakan khas kami sebagai anggota Kompi Aligator.

Kegiatan olah raga pagi ini selesai setelah sekitar 1 jam. Setelah itu dilanjutkan dengan sarapan pagi ala militer, antre dan pakai kupon. Setelah itu, mandi. Waktunya hanya setengah jam. Setelah itu? Baris berbaris!

Jam 08:00 WIB teng, baris berbaris dimulai. Kami di Kompi Aligator dibagi menjadi 4 pleton, saya pleton 4. Di dalam pleton kami ada beberapa anggota TNI dan Polri yang melaksanakan tugas dan fungsi (Tusi) Linjam (Perlindungan Jemaah).

Ada Kapten Muhammad Rifai Sitorus, pilot helikopter Angkatan Udara, ada Kapten Wilayuan Abniantoro, ada Kapten Amar Jhoni, alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur yang tidak memilih jalan hidup sebagai kyai, tetapi anggota TNI Angkatan Darat, serta beberapa anggota TNI dan Polri lainnya.

Tidak hanya di pleton 4 saja yang ada anggota TNI-Polri-nya. Tapi di semua pleton di semua kompi. Itulah makanya, saat baris berbaris, mereka yang dari Tusi Linjam ini banyak memberi kontribusi. Mereka tidak hanya memberikan contoh baris berbaris yang benar, tetapi mereka juga bergantian melatih kami semua.

Sebenarnya, paling susah adalah gerakan jalan di tempat yang dilakukan berulang-ulang. Ini paling menguras tenaga dan bikin otot-otot kaki terasa ketarik sana-sini. Bayangkan, bagaimana jika saat 'jalan di tempat' lagi asik-asiknya, eh asam urat dalam tubuh terus 'berontak', bisa kacaulah tuh barisan.

Kegiatan baris berbaris istirahat di jam 10:00 WIB. Saat istirahat, kami semua duduk di lantai dalam posisi berbaris. Lalu, kue dan minuman gelas air mineral disusun di depan kami semua, masing-masing mendapat jatah 1 kotak kue dan 1 gelas minuman. Tapi tidak boleh disentuh.

Ada ritual sebelum menikmati kudapan ala militer. Yaitu, komandan pleton melapor ke komandan kompi, melaporkan semua anggota siap menikmati kue. Setelah diizinkan, barulah semua peserta Diklat berdoa terlebih dahulu, sebelum menikmati kue dan minuman.

Istirahat hanya sekitar setengah jam. Setelah itu? Baris berbaris lagi. Hadap kiri, hadap kanan lagi, belok kiri, belok kanan lagi, langkah tegap maju jalan lagi, dan.....jalan di tempat! Begitulah terus menerus selama satu minggu pertama Diklat 20 hari tersebut.

Kegiatan baris berbaris sesi pagi ini berakhir sesaat sebelum masuk waktu sholat dhuhur. Karena setelah sholat dzuhur, makan siang dan dilanjutkan dengan baris berbaris lagi. Sampai kapan? Sampai sholat ashar. Setelah itu? Ya, baris berbaris lagi. Begitu seterusnya sampai malam hari sebelum masuk waktu istirahat.

Biar tidak bosan, instruktur mengisi kegiatan baris berbaris itu dengan bejalar nyanyi dan yel-yel ala militer. Ada berapa yel-yelnya? Banyak!

Editor: Surya