Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Mahasiswa UB Raih Runner Up Kompetisi Internasional 2026 Lewat Inovasi Alat Deteksi Kanker Payudara BUDDY
Oleh : Redaksi
Rabu | 11-03-2026 | 16:08 WIB
buddy.jpg Honda-Batam
Inovasi alat deteksi dini kanker payudara berbasis kamera termal mini yang diberi nama BUDDY. (Kemdiktisaintek)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Empat mahasiswa dari Universitas Brawijaya berhasil meraih posisi juara kedua (runner up) dalam ajang International Student Competition 2026 yang diselenggarakan oleh CEM UPM Malaysia.

Keempat mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian tersebut yakni Dastino Putra Rendy Lovind, Anggie Fadillah Dwiva, Livy Noer Azizah, dan Rifda Alfia Safina. Mereka menciptakan inovasi alat deteksi dini kanker payudara berbasis kamera termal mini yang diberi nama BUDDY.

Dastino menjelaskan, BUDDY merupakan singkatan dari Breast Urgency Detection Device with Thermography, yaitu sistem deteksi dini kanker payudara yang memanfaatkan teknologi kamera termal yang terintegrasi dengan aplikasi ponsel.

"Ide yang kami usung bernama BUDDY (Breast Urgency Detection Device with Thermography), merupakan sistem deteksi dini kanker payudara yang memanfaatkan kamera termal. Sistem ini dijalankan melalui aplikasi di ponsel dan dapat memberikan hasil secara cepat dalam 5-10 detik," ujar Dastino.

Menurutnya, inovasi tersebut lahir dari kepekaan tim terhadap tingginya kasus kanker payudara. Ia menilai metode deteksi yang umum digunakan seperti SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis) masih menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang, serta minimnya edukasi mengenai deteksi mandiri.

Karena itu, timnya mencoba mengembangkan alternatif pemeriksaan yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara yang lebih praktis.

Dastino menjelaskan cara kerja sistem tersebut cukup sederhana. Pengguna terlebih dahulu diminta mengisi survei melalui aplikasi, kemudian dilakukan pemotretan menggunakan kamera termal dari jarak sekitar 60 sentimeter secara horizontal dari area payudara.

Data hasil pemindaian kemudian dikirim ke sistem BUDDY melalui server. Selanjutnya, kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) akan menganalisis data tersebut. "AI yang telah dilatih menggunakan ribuan foto sampel dari DMR, anotasi Roboflow, serta model AI YOLO v8 akan menunjukkan hasilnya, termasuk lokasi, ukuran, dan stadium kanker payudara," jelasnya.

Ia menambahkan, sistem BUDDY terdiri dari dua komponen utama, yakni kamera termal sebagai alat pendeteksi dan perangkat lunak yang dilengkapi kecerdasan buatan untuk menganalisis hasil pemindaian. "Secara garis besar, aplikasi ini memiliki dua bagian utama, yaitu kamera termal sebagai ‘mata’ untuk melihat kondisi dan perangkat lunak sebagai ‘otak’ yang menganalisis data dengan bantuan AI," katanya.

Meski berhasil meraih prestasi di tingkat internasional, Dastino mengungkapkan bahwa dirinya bersama tim sempat mengalami kendala pendanaan untuk mengikuti tahap final kompetisi. Mereka harus mencari berbagai cara untuk menutupi biaya registrasi.

Ia bersyukur pihak fakultas dan tim akhirnya memberikan bantuan dana meskipun belum sepenuhnya menutupi kebutuhan. "Agar mahasiswa berani mengikuti lomba internasional, kami berharap pihak kampus dapat memberikan dukungan lebih, terutama dalam hal pendanaan," ujarnya.

Dastino juga berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional. "Jangan takut mencoba berbagai lomba. Kemenangan hanya bisa diraih jika kita berani mencoba terlebih dahulu," tuturnya.

Ke depan, ia berharap inovasi BUDDY dapat dikembangkan lebih lanjut hingga bisa dikomersialisasikan atau mendapat dukungan pengembangan dari pemerintah.

Saat ini, teknologi BUDDY telah didaftarkan hak patennya dengan nomor EC00202467457 sejak 18 Juli 2024.

Editor: Gokli