Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Apindo Batam Waspadai Dampak Penutupan Selat Hormuz, Biaya Industri dan Investasi Terancam
Oleh : Aldy
Rabu | 04-03-2026 | 10:08 WIB
Penutupan-Selat-Hormuz.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Rencana penutupan Selat Hormuz akibat memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai diwaspadai kalangan pelaku usaha di Batam. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam menilai dampaknya berpotensi merembet ke biaya produksi industri, arus investasi, hingga kinerja ekspor kota industri tersebut.

Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, mengatakan Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global. Menurut dia, sekitar 80 persen minyak dari kawasan Arab melintasi selat tersebut. "Selat Hormuz merupakan jalur lalu lintas utama minyak dari kawasan Arab. Jika jalur ini ditutup, hampir dapat dipastikan harga minyak dunia akan melonjak," ujar Rafki kepada media, Rabu (4/3/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak akan langsung menekan struktur biaya industri di Batam yang masih bergantung pada energi berbasis bahan bakar minyak (BBM) serta sistem logistik global. Kenaikan harga energi, lanjutnya, akan berdampak berantai terhadap sektor transportasi.

"Semua moda transportasi masih mengandalkan BBM. Ketika harga minyak dunia naik, ongkos angkut ikut naik. Biaya bahan baku dan distribusi terdorong, sehingga harga barang dan jasa berpotensi meningkat. Dalam kondisi seperti ini, inflasi akan sulit dicegah," katanya.

Rafki menuturkan, di tengah ketidakpastian global, pelaku usaha di Batam mulai melakukan kalkulasi risiko untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Namun, hingga saat ini belum ada langkah mitigasi strategis yang konkret karena eskalasi konflik berlangsung cepat.

"Pengusaha sedang berhitung untuk berbagai skenario. Akan tetapi, langkah strategis yang benar-benar matang memang belum ada karena situasinya berkembang sangat cepat dan cukup mengejutkan," ujarnya.

Selain persoalan biaya produksi, Apindo Batam juga menyoroti potensi tertahannya arus investasi asing. Menurut Rafki, investor global cenderung bersikap menunggu dan melihat (wait and see) ketika tensi geopolitik meningkat.

"Biasanya investor menahan ekspansi atau investasi baru saat situasi global tidak menentu. Kondisi ini berpotensi menyebabkan stagnasi investasi di Batam," katanya.

Sebagai kota industri sekaligus hub logistik, Batam dinilai rentan terdampak dari sisi pelayaran internasional. Perubahan rute pelayaran global akibat konflik dapat mendorong kenaikan biaya logistik ekspor-impor. Dampak lanjutan yang diwaspadai adalah pelemahan permintaan pasar global.

"Jika ekonomi global terganggu dalam waktu lama, permintaan terhadap produk Batam bisa menurun. Hal ini harus diantisipasi pelaku usaha," ujar Rafki.

Ia menegaskan besarnya dampak sangat bergantung pada durasi konflik. Apabila konflik berlangsung singkat, tekanan dinilai masih dapat dikelola. Namun, jika berkepanjangan, beban terhadap industri akan jauh lebih berat.

Apindo Batam berharap pemerintah pusat dan daerah segera menyiapkan kebijakan konkret untuk menjaga daya saing daerah. Dukungan terhadap kelancaran ekspor dan stabilitas biaya logistik dinilai krusial agar industri tetap bertahan.

"Kami berharap pemerintah proaktif merumuskan kebijakan agar pelaku usaha dapat beroperasi dengan aman dan lancar. Jangan sampai gejolak global ini memukul industri kita," kata Rafki.

Ia juga mengingatkan agar tekanan ekonomi tidak berujung pada efisiensi tenaga kerja. Menurutnya, dunia usaha akan berupaya bertahan di tengah gejolak global, tetapi tetap membutuhkan kepastian kebijakan.

"Jika eskalasi berlangsung berkepanjangan, Batam sebagai kota industri berorientasi ekspor dikhawatirkan akan merasakan tekanan yang signifikan," pungkasnya.

Editor: Gokli