Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Anomali Swasembada Energi di Tengah Rapuhnya Ketahanan Energi Indonesia
Oleh : Aldy Daeng
Rabu | 25-02-2026 | 19:08 WIB
Diskusi-Publik1.jpg Honda-Batam
Pengamat Ekonomi sekaligus dosen Universitas Internasional Batam (UIB), Dr. Suyono Saputra jadi narasumber diskusi publik bersama awak media, Rabu (25/2/2026). (Aldy/BTD)

BATAMTODAY.COM, Batam - Wacana swasembada energi di era Presiden Prabowo menjadi sorotan dalam diskusi publik bersama awak media yang digelar Rabu (25/2/2026). Pengamat, sekaligus dosen Universitas Internasional Batam (UIB), Dr. Suyono Saputra, menilai target kemandirian energi menghadapi tantangan besar jika melihat kondisi ketahanan energi Indonesia saat ini.

Suyono menegaskan, ketahanan energi merupakan aspek yang sangat krusial bagi sebuah negara. Sementara itu, istilah swasembada energi sejatinya bermakna kemandirian penuh dalam memenuhi kebutuhan energi domestik.

"Pertanyaannya, apakah kita mampu? Beberapa tahun silam Indonesia masih menjadi eksportir dan tergabung dalam OPEC. Namun dari tahun ke tahun produksi terus menurun, dan saat ini kita justru termasuk negara dengan ketahanan energi yang rendah," ujarnya.

Ia membandingkan dengan Singapura yang mampu menjaga cadangan energi hingga enam bulan. Indonesia, kata dia, saat ini bahkan belum memiliki cadangan energi untuk satu bulan penuh.

Menurut Suyono, peningkatan produksi energi mutlak diperlukan jika Indonesia ingin menuju swasembada. Namun upaya tersebut membutuhkan investasi yang sangat besar dan waktu panjang.

"Lifting minyak itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Biayanya besar dan prosesnya panjang," katanya.

Di sisi lain, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) memang menjadi salah satu solusi. Namun realisasinya dinilai masih jauh dari target kemandirian energi nasional. Hal ini tercermin dari beberapa contoh, misalnya, lambatnya transformasi penggunaan kendaraan konvensional ke kendaraan listrik.

Ia juga menyoroti fakta bahwa Indonesia masih mengimpor minyak mentah. Kondisi ini, menurutnya, menjadi anomali ketika wacana swasembada energi terus digaungkan.

"Semakin banyak kilang dibangun, semakin besar pula kebutuhan minyak mentah. Sementara pasokan domestik belum mencukupi," jelasnya.

Karena itu, Suyono menilai fokus utama saat ini seharusnya bukan sekadar swasembada energi, melainkan memastikan masyarakat memperoleh bahan bakar dengan mudah dan harga yang terjangkau.

"Yang paling penting adalah akses energi bagi masyarakat. Peralihan ke energi baru terbarukan juga belum berjalan optimal," tambahnya.

Khusus untuk Batam, Suyono melihat adanya perhatian serius dari pemerintah pusat. Sebagai daerah perbatasan, Batam dinilai berpotensi menjadi sentral energi sekaligus industri di kawasan barat Indonesia.

Ia menilai Batam dapat mencontoh Singapura dalam memperkuat ekosistem energi. Meski demikian, saat ini Batam masih sangat bergantung pada pasokan gas, terutama untuk kebutuhan industri.

Dari sisi infrastruktur gas, ekspansi PGN di Batam dinilai cukup progresif. Jaringan gas (jargas) bahkan mulai menjangkau kawasan permukiman. Namun kebutuhan gas untuk pembangkit listrik PLN di Batam juga terus meningkat seiring pertumbuhan industri.

Sementara itu, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Batam belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan industri. Dengan berbagai kondisi tersebut, Suyono menilai target swasembada energi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Tanpa peningkatan produksi yang signifikan dan percepatan transisi energi, kemandirian energi dinilai masih jauh dari kenyataan.

"Kita perlu mendaptkan data dari semua sisi, sehingga kata swasembada itu sperti apa, jangan hanya indah di narasi, namun pada kenyataannya itu sangat berbeda," ujarnya.

Editor: Yudha