Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BI Pertahankan Suku Bunga 4,75 Persen, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas
Oleh : Aldy Daeng
Jumat | 20-02-2026 | 10:08 WIB
2002_BI-pertahankan-suku-bunga.jpg Honda-Batam
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Februari 2026. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Februari 2026 memutuskan menahan BI-Rate di level 4,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 3,75 persen dan Lending Facility 5,50 persen.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan kebijakan tersebut sejalan dengan fokus BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Di saat bersamaan, langkah ini juga diarahkan untuk memastikan inflasi tetap terkendali pada 2026-2027 serta menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Perry, BI akan terus mengoptimalkan transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial. Ruang penurunan suku bunga tetap terbuka dengan mempertimbangkan proyeksi inflasi yang terjaga di kisaran 2,5+/-1 persen serta kebutuhan mendorong pertumbuhan yang lebih kuat.

Kebijakan makroprudensial pun tetap pro-growth, antara lain dengan mendorong peningkatan kredit ke sektor riil, khususnya sektor prioritas pemerintah. Percepatan penurunan bunga kredit dilakukan melalui implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian.

"Di sisi sistem pembayaran, BI terus memperluas akseptasi digital, memperkuat struktur industri, serta meningkatkan keandalan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Perry, Kamis (19/2/2026).

Perkuat Stabilitas Rupiah

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI menempuh sejumlah langkah, di antaranya:

  • Intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri serta spot dan DNDF di pasar domestik, termasuk pembelian SBN di pasar sekunder.
  • Penguatan operasi moneter pro-market guna menarik aliran investasi portofolio asing dengan tetap menjaga likuiditas.
  • Sinergi bersama pemerintah melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) guna mendorong penyaluran kredit dan penurunan bunga perbankan.
  • Pengembangan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), termasuk pelaksanaan hackathon dan program talenta digital Digdaya mulai akhir Februari 2026.
  • Peningkatan kesiapan sistem pembayaran menghadapi HBKN Idulfitri 1447 H lewat program SERAMBI 2026.

BI juga terus mempererat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), termasuk dalam mendukung pembiayaan program Asta Cita serta memperluas kerja sama internasional.

Ekonomi Global Melambat, Indonesia Tumbuh Positif

BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat menjadi 3,2 persen dari 3,3 persen pada 2025. Perlambatan dipengaruhi kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta tensi geopolitik yang masih berlangsung.

Sejumlah kawasan seperti Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India diprediksi mengalami perlambatan. Sebaliknya, ekonomi Amerika Serikat diperkirakan menguat berkat stimulus fiskal dan investasi, termasuk di sektor artificial intelligence (AI).

Di tengah tekanan global tersebut, ekonomi Indonesia justru menunjukkan kinerja positif. Pertumbuhan triwulan IV 2025 tercatat 5,39 persen (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya 5,04 persen (yoy). Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen (yoy), lebih tinggi dibanding 2024 sebesar 5,03 persen (yoy), serta diikuti perbaikan kualitas ketenagakerjaan.

Memasuki triwulan I 2026, pertumbuhan diperkirakan tetap berlanjut, ditopang konsumsi rumah tangga, stimulus pemerintah, pelonggaran moneter, serta momentum HBKN seperti Imlek, Nyepi, dan Idulfitri. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 4,9-5,7 persen (yoy).

NPI Sehat, Rupiah Diproyeksi Stabil

Kinerja eksternal juga terjaga. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat, dengan surplus neraca perdagangan Desember 2025 sebesar 2,5 miliar dolar AS, terutama dari ekspor berbasis sumber daya alam.

Aliran investasi portofolio asing hingga 13 Februari 2026 mencatat net inflows 1,6 miliar dolar AS. Cadangan devisa akhir Januari 2026 mencapai 154,6 miliar dolar AS atau setara 6,3 bulan impor.

Nilai tukar rupiah pada 18 Februari 2026 berada di Rp16.880 per dolar AS, melemah 0,56 persen (ptp) dibanding akhir Januari. Pelemahan dipengaruhi ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valas korporasi. Meski demikian, BI menilai rupiah masih undervalued dan berpotensi stabil bahkan menguat seiring fundamental ekonomi yang solid.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2026 tercatat 3,55 persen (yoy), naik dari 2,92 persen (yoy) pada bulan sebelumnya akibat faktor base effect diskon tarif listrik tahun lalu. Inflasi inti tetap rendah di 2,45 persen (yoy), sedangkan inflasi volatile food terjaga 1,14 persen (yoy) berkat peningkatan pasokan pangan. BI optimistis inflasi 2026-2027 tetap dalam target 2,5+/-1 persen.

Likuiditas Longgar, Kredit Tumbuh

Dari sisi likuiditas, ekspansi terus dilakukan. Posisi SRBI turun dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp819,50 triliun per 18 Februari 2026. Pembelian SBN sepanjang 2026 hingga pertengahan Februari mencapai Rp39,92 triliun.

Insentif KLM pada minggu pertama Februari 2026 tercatat Rp427,5 triliun, dengan porsi terbesar melalui lending channel sebesar Rp357,9 triliun.

Pertumbuhan kredit Januari 2026 mencapai 9,96 persen (yoy), ditopang kredit investasi 22,38 persen, kredit modal kerja 4,13 persen, dan kredit konsumsi 6,58 persen. Untuk 2026, BI memperkirakan pertumbuhan kredit berada di kisaran 8-12 persen.

Ketahanan perbankan tetap solid, tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) 25,89 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah di level 2,05 persen (bruto).

Transaksi ekonomi digital juga terus melesat. Volume pembayaran digital Januari 2026 mencapai 4,79 miliar transaksi atau tumbuh 39,65 persen (yoy). Transaksi QRIS bahkan melonjak 131,47 persen (yoy).

BI memastikan stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga serta ketersediaan uang rupiah terpenuhi melalui program SERAMBI 2026, termasuk untuk wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

"Dengan bauran kebijakan yang ditempuh, kami optimistis stabilitas makroekonomi tetap terjaga sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," pungkas Perry.

Editor: Gokli