Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BP Batam Beri Dukungan Penuh

Kadin Indonesia Lepas Ekspor Perdana Arang Batok Kelapa dari Batam, Kontrak 36 Ribu Ton per Tahun
Oleh : Aldy Daeng
Selasa | 10-02-2026 | 18:48 WIB
Lepas-Ekspor-Kelapa.jpg Honda-Batam
Kadin Indonesia Lepas Ekspor Perdana Arang Batok Kelapa dari Batam. (Aldy/BTD)

BATAMTODAY.COM, Batam - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia resmi melepas ekspor perdana arang batok kelapa melalui kolaborasi Kadin Indonesia, Kadin Pintahilir, Kadin Batam, dan Kadin Kepulauan Riau.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pembinaan dan Koordinasi Ekspor, Frits Novianto Suhendar, mengatakan, program ini mendapat dukungan langsung dari Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, sebagai upaya mendorong pergerakan UMKM di daerah.

"Kolaborasi ini sangat baik karena mampu menggerakkan UMKM di daerah. Kontrak yang berjalan hari ini mencapai sekitar 36 ribu ton per tahun. Jika dikalkulasikan, itu setara kurang lebih 125 kontainer ekspor per bulan. Kebutuhannya sangat besar dan alhamdulillah sudah bisa kita laksanakan," ujar Suhendar, saat acara pelepasan ekspor perdana, di Kawasan Sekupang, Batam Selasa (10/2/2026).

Sehendar menjelaskan ekspor perdana ini juga melibatkan kolaborasi antar pelaku usaha daerah yang digagas Anggota Kadin Riau dan Kepri, yang tidak hanya berperan sebagai penghubung, tetapi juga terlibat langsung sebagai pengusaha dalam bisnis ini.

Suhendar menubuatkan, produk arang batok kelapa ini diekspor ke Tianjin, China. Pengiriman ini menjadi langkah awal kerja sama dagang dengan mitra di Tiongkok.
"Tahap awal kita ekspor arang batok kelapa ke Tianjin, China. Selanjutnya sudah dipersiapkan juga ekspor serabut kelapa," jelasnya.

Ke depan, kata dia, kerja sama ini tidak hanya sebatas perdagangan komoditas, tetapi juga akan mencakup transfer teknologi.

"Dari pihak China akan mengirimkan peralatan untuk mempercepat proses produksi. Jadi ke depan akan ada hilirisasi teknologi, supaya pengolahan produk kelapa kita makin cepat dan efisien sebelum dikirim ke China," ungkapnya.

Lebih jauh, Suhendar memaparkan, nilai ekspor arang batok kelapa diperkirakan mendekati Rp 200 miliar per tahun. Sementara untuk produk serabut kelapa, nilai kontraknya masih dalam pembahasan. Untuk arang batok kelapa, nilainya hampir mendekati Rp 200 miliar per tahun. Untuk serabut kelapa masih belum bisa dihitung secara rinci, namun, pihaknya menargetkan di tahun pertama bisa mencapai Rp 500 miliar.

Disisi lain, program ini melibatkan puluhan UMKM, terutama kelompok usaha rumahan di Kabupaten Indragiri Hilir yang tersebar di empat kecamatan. Dampak ekonomi dari ekspor ini juga meluas ke berbagai sektor pendukung.

"Harapannya nilai ekspor terus bertambah. Selain UMKM, kegiatan ini juga melibatkan perusahaan logistik, forwarder, PBM pelabuhan, sampai TKBM. Efek dominonya besar sekali karena menyentuh banyak lini usaha," paparnya.

Batam Jadi Pintu Ekspor

Saat ini bahan baku kelapa masih berasal dari Indragiri Hilir, Riau. Namun, proses ekspor dilakukan melalui Pelabuhan Batam karena dinilai paling dekat dan memiliki fasilitas ekspor memadai.

"Untuk sekarang sumber kelapanya dari Indragiri Hilir, dan ekspornya lewat Batam karena pelabuhan di sana yang paling siap. Ke depan, Kadin Kepri juga menyambut baik jika ada pengembangan sumber kelapa langsung dari wilayah Kepri," Sebutnya.

Ia menambahkan, pengiriman ekspor dilakukan secara rutin setiap minggu, dengan volume menyesuaikan kesiapan barang.

"Pengiriman sekitar 10 sampai 20 kontainer per minggu, tergantung kesiapan produksi. Kontrak payungnya berlaku satu tahun dengan total 36 ribu ton," kata Frits Novianto Suhendar.

Di tempat yang sama, Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, menegaskan dukungan penuh BP Batam terhadap langkah Kadin Indonesia dalam mendorong ekspor arang batok kelapa yang melibatkan pelaku usaha dan UMKM daerah. Menurutnya, sinergi tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem investasi dan industri di Batam.

"BP Batam mendukung penuh apa yang dilakukan Kadin Indonesia. Kami juga sudah menyiapkan aplikasi dan dasbor untuk memudahkan akses informasi investasi sekaligus menampung pengaduan dari para pelaku usaha," katanya.

Fary mengungkapkan, capaian investasi Batam tahun ini melampaui target yang ditetapkan pemerintah pusat. Realisasi tersebut dinilai menjadi sinyal positif meningkatnya kepercayaan investor terhadap Batam.

"Tahun ini target investasi Batam sebesar Rp 60 triliun, dan per 31 Desember realisasinya mencapai Rp 68,7 triliun atau 118 persen dari target. Yang luar biasa juga adalah peningkatan penanaman modal dalam negeri, dari sebelumnya Rp 5,5 triliun menjadi Rp 14,7 triliun. Ini menunjukkan pelaku usaha dalam negeri semakin percaya diri untuk berinvestasi," sebutnya.

Ia menegaskan, peningkatan investasi tersebut tidak mengurangi minat investor asing, namun justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih merata antara modal asing dan domestik.

"Bukan berarti investasi internasional menurun, tapi investasi dalam negeri tahun ini memang tumbuh sangat signifikan. Artinya ruang dan kesempatan bagi pengusaha nasional semakin terbuka lebar," katanya.

Menurutnya, pertumbuhan investasi akan berdampak langsung pada penguatan rantai pasok dan aktivitas ekspor di Batam, termasuk komoditas turunan kelapa. "Kalau investasi meningkat, maka rantai pasok juga ikut bergerak. Kegiatan ekspor dan sektor-sektor pendukung investasi di Batam akan terus tumbuh," ujar Fary.

Fary juga menyoroti terbitnya regulasi baru yang memberikan kewenangan lebih luas kepada Batam dalam pengurusan perizinan, sehingga proses investasi menjadi lebih cepat dan efisien.

"Pada 2025 Presiden menerbitkan PP 25 dan PP 28. Intinya, sejumlah perizinan dasar seperti persetujuan lingkungan, tata kelola darat dan reklamasi, serta tata ruang darat dan kehutanan kini bisa diurus langsung di Batam. Ini kabar baik bagi investor karena prosesnya menjadi lebih sederhana," ungkap Fary.

Ia menambahkan, Batam harus terus mengandalkan kekuatan sumber daya manusia dan teknologi untuk menciptakan nilai tambah dari setiap aktivitas industri dan ekspor.

"Batam tidak memiliki sumber daya alam melimpah, tapi kita punya keunggulan di teknologi dan sumber daya manusia yang kreatif. Ke depan, selain ekspor bahan baku, kita juga harus mendorong hilirisasi agar produk bernilai tambah bisa dihasilkan di dalam negeri," tutupnya.

Editor: Yudha