Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pendidikan Menengah Negeri di Kepri Dinilai Tertinggal, Pengamat Soroti Rendahnya Peringkat Nasional TKA 2025
Oleh : Aldy
Senin | 09-02-2026 | 16:08 WIB
Sirajudin-Nur.jpg Honda-Batam
Pengamat pendidikan sekaligus tokoh masyarakat, Sirajudin Nur. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Kualitas pendidikan menengah negeri di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinilai masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Indonesia. Berdasarkan capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, SMA Negeri 3 Batam yang menempati peringkat pertama di tingkat provinsi hanya berada di posisi 310 nasional. Bahkan, tidak ada satu pun sekolah menengah negeri di Kepri yang berhasil menembus 30 besar nasional.

Pengamat pendidikan sekaligus tokoh masyarakat, Sirajudin Nur, menilai kondisi tersebut sebagai persoalan sistemik yang memerlukan penanganan serius dan terstruktur. Ia mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi rendahnya capaian pendidikan di Kepri, mulai dari distribusi guru berkualitas yang belum merata, keterbatasan fasilitas laboratorium dan perpustakaan, hingga tantangan geografis wilayah kepulauan yang menghambat pemerataan proses belajar mengajar.

"Kualitas pendidikan kita masih tertinggal jauh dari standar nasional," ujar Sirajudin, Senin (9/2/2026).

Menurutnya, dampak dari rendahnya prestasi akademik tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Ia menyebut banyak siswa Kepri kehilangan peluang bersaing masuk perguruan tinggi negeri unggulan, sementara potensi pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan turut terhambat.

Sebagai solusi, Sirajudin mendorong pemerintah daerah dan pusat mengambil langkah konkret berbasis data dan kebutuhan riil di lapangan. Rekomendasi yang diajukan meliputi pemetaan kualitas guru, penerapan kurikulum berbasis kompetensi, intervensi pedagogik yang lebih intensif, serta evaluasi TKA secara berkala. Ia juga menekankan pentingnya pengalokasian anggaran pendidikan yang lebih berpihak pada peningkatan mutu sekolah dibandingkan proyek fisik semata.

"Tanpa langkah konkret, peringkat nasional Kepri akan terus stagnan, dan generasi muda akan terus tertinggal secara kualitas pengetahuan," tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bagi pemangku kebijakan agar menata kembali sistem pendidikan menengah di wilayah kepulauan strategis ini, sehingga generasi muda Kepri mampu bersaing secara setara dengan siswa dari provinsi lain di Indonesia.

Editor: Gokli