Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Soroti Kondisi IHSG dan BEI, Arief Poyuono: Ini Kesalahan OJK
Oleh : Irawan
Minggu | 01-02-2026 | 12:08 WIB
PUYUONO_copy_470x250.jpg Honda-Batam
Politikus Partai Gerindra Arief Puyuono (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Politikus Gerindra yang juga Komisaris PT Pelindo Arief Poyuono menyoroti masalah pasar modal setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat ambrol.

Kondisi itu berujung pengunduran diri Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, diikuti sejumlah petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dalam keterangan tertulisnya, Arief menyebut pernah menulis karya akademis untuk tesisnya pada program S2 Ilmu Komunikasi yang berfokus pada komunikasi keuangan, berdasarkan penelitian dari tahun 2010.

Tulisan yang dipublikasikan melalui Academia itu menurutnya membahas dampak pelaporan keuangan internet sebagai media komunikasi terhadap sikap investor di pasar modal.

"Berdasarkan abstraksi tulisan tersebut, globalisasi ekonomi yang telah membuka batas negara telah menyebabkan dunia usaha sedang berada dalam masa transisi dari era revolusi industri menuju era revolusi informasi," kata Arief Puyuono, Minggu (1/2/2026).

Arief mendasarkan penelitiannya dengan adanya Kasus Enron di Bursa Saham Amerika Serikat yang menjadi skandal besar kecurangan akuntansi besar di AS pada 2001,.

Yakni melibatkan manipulasi laporan keuangan dan utang tersembunyi, menyebabkan kebangkrutan perusahaan energi raksasa tersebut dan an runtuhnya kantor akuntan Arthur Andersen.

Kasus itu l, menurutnya, berdampak global, memperketat etika akuntan publik di mana dalam laporan keuangannya Enron menyembunyikan utang miliaran dolar melalui Special Purpose Entities (SPE).

"Kecepatan penyebaran informasi yang berpotensi mempengaruhi baik perilaku individu maupun perilaku organisasi telah mengubah struktur konsumsi, produksi serta investasi di masa depan.

"Globalisasi, revolusi industri hingga revolusi informasi mendorong penyebaran informasi yang berpotensi mempengaruhi bahkan merubah perilaku individu, organisasi bahkan mengubah struksi produksi konsumsi dan investasi di masa depan," kata Arief.

Kemudian, interaksi dalam dimensi ruang dan waktu di antara berbagai variabel di belakang permintaan dan penawaran yang ditindaklanjuti dengan berbagai usaha untuk menyeimbangkan peningkatan kebutuhan dan proses pemenuhan kebutuhan.

Dampak selanjutnya, terhadap pola investasi, katanya, telah mendorong terbentuknya suatu lingkungan pasar yang semakin penuh ketidakpastian, karena corak pasar bukan lagi lokal atau domestik akan tetapi sudah bersifat global.

"Berbagai interaksi kontradiksi ruang waktu dalam ragam variabel yang menyertai permintaan penawaran dalam proses keseimbangannya, akhirnya berdampak pada pasar dan pola investasi yang bersifat local hingga global," tuturnya.

Dalam penelitian ini Arief menunjukkan bagaimana pelaporan keuangan berbasis internet memengaruhi perilaku dan sikap investor di pasar modal, bahkan data menunjukkan bahwa investor sering mengandalkan situs web perusahaan, situs investasi, dan platform berita untuk informasi keuangan, dengan lebih sedikit yang menggunakan sumber resmi pemerintah.

Penelitian tersebut , uga menjadi peringatan bahwa pasar saham memerlukan sebuah transparansi dan kejujuran agar investor bisa menginvestasikan dengan tepat dan tidak merasa ditipu.

Menurut Arief, laporan keuangan dalam bentuk Internet Financial Report dan prospektur emiten di bursa saham banyak disajikan atau dilaporkan pada investor seperti dengan penulisan berita di media massa dibandingkan kejujuran, fakta, kinerja emiten tersebut.

Karena itu, Arief mengklaim penelitiannya terbilang unik karena membedah laporan keuangan dari sisi Ilmu Komunikasi tidak dengan Ilmu Keuangan atau Ekonomi dan Manajemen.

Lewat penelitian itu, Arief memaparkan bagaimana penggunaan pelaporan digital yang mudah diakses untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan di antara investor.

"Pola pola Penggunaan Internet sebagai platform Informasi pelaporan Keuangan akhirnya mempengaruhi perilaku para investor bahkan pasar, namun pelaporan berbasis internet pun akan mendorong transparansi serta kepercayaan dari Investor," ujarnya.

Merespons Situasi IHSG, BEI, dan MSCI

Menyikapi situasi akhir-akhir ini atas kondisi IHSG, BEI akibat kebijakan MSCI, Arief Poyuono menilai merujuk tulisan penelitiannya, bahwa ini sebenarnya adalah kesalahan OJK yang tidak melakukan kontrol terhadap BEI selama ini, sehingga MSCI tahu situasi di bursa efek Indonesia.

"Merujuk pada penelitian dan tulisan saya tersebut, saya bisa menilai bahwa situasi yang menimpa BEI, IHSG, karena OJK tidak melakukan kontrol yang proper selama ini hingga akhirnya situasi ini diketahui MSCI," kata dia.

Salah satu yang disorot Arief adalah bagaimana BEI mudah sekali melakukan proses IPO, hanya dengan menggunakan perusahaan cangkang yang tidak jelas kinerja keuangannya akhirnya mampu melantai di Bursa Efek Indonesia.

"Kita lihatlah selama ini proses IPO sebuah perusahaan di BEI itu, kan, izinnya melalui OJK, dan OJK luput dalam menilai serta melakukan proses kontrol pada perusahaan-perusahaan tersebut hingga mudah untuk melantai di BEI," ungkapnya.

Dalam keadaan ini, katanya, MSCI menilai bahwa para emiten yang terlibat dalam goreng menggoreng saham ini melakukan laporan keuangan yang tidak transparan dan ini lolos di BEI, sehingga MSCI meminta agar saham para emiten yang free float minimal 15 persen, tidak tercapai dan ini menjadi peringatan keras dari MSCI.

Seharusnya, kata Arief, peringatan MSCI membuat BEI bisa belajar dari kasus Benny Tjokro dan Jiwasraya yang merusak kepercayaan investor di bursa saham.

"BEI terlalu kental dalam goreng menggoreng saham, mereka tidak belajar dari kasus Jiwasraya. Akhirnya permintaan MSCI terkait minimum Free float saham para emiten tidak tercapai. Inilah risiko tidak adanya transparansi laporan keuangan yang membuat IHSG drop," kata Arief.

Editor: Surya