Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BEI Percepat Distribusi Data Perdagangan, Nilai Transaksi Harian Melonjak 73,83 Persen
Oleh : Aldy Daeng
Kamis | 22-01-2026 | 08:28 WIB
transaksi-harian.jpg Honda-Batam
Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Dok.Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan pembenahan guna menjawab kebutuhan informasi pasar yang kian tinggi seiring bertambahnya jumlah investor ritel dan meningkatnya aktivitas perdagangan.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah penyempurnaan format distribusi data perdagangan untuk memastikan seluruh pelaku pasar memperoleh informasi yang relevan, terukur, dan andal sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui penerapan distribusi laporan perdagangan tidak hanya pada akhir hari, tetapi juga pada akhir Sesi I. Kebijakan ini menjadi tonggak baru dalam penguatan integritas pasar sekaligus peningkatan efisiensi transaksi di pasar modal Indonesia.

Penyempurnaan format distribusi data tersebut dilatarbelakangi oleh hasil survei kepada pelaku pasar yang selama ini hanya menerima data perdagangan pada akhir hari atau end of day (EOD). Selain itu, evaluasi pasca-implementasi penutupan kode broker dan kode domisili pada 2022 turut menjadi dasar pengambilan kebijakan tersebut.

Distribusi data akhir Sesi I mulai dinyatakan live pada 23 Agustus 2025 dan efektif diterapkan secara penuh sejak 25 Agustus 2025. Melalui kebijakan ini, laporan perdagangan kini disalurkan kepada Anggota Bursa melalui Daftar Transaksi Bursa (DTB) AB, dengan nilai tambah berupa percepatan akses informasi.

"Penyempurnaan distribusi data ini memberikan kesempatan bagi investor untuk membaca kecenderungan pasar lebih awal, sehingga strategi perdagangan dapat disusun secara lebih terukur pada sesi berikutnya," demikian penjelasan BEI dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).

Dampak kebijakan tersebut tercermin dari peningkatan signifikan aktivitas transaksi. Berdasarkan data periode Januari hingga November 2025, rata-rata nilai transaksi harian di pasar reguler melonjak dari sebelumnya Rp 11,8 triliun menjadi Rp 20,6 triliun per hari setelah kebijakan diberlakukan. Kenaikan sebesar 73,83 persen ini menunjukkan bahwa percepatan akses data mampu meningkatkan kepercayaan dan partisipasi pelaku pasar.

Selain itu, porsi transaksi pada Sesi I juga mengalami peningkatan. Sebelum implementasi, kontribusi transaksi sesi pagi berada di kisaran 53,34 persen dari total nilai transaksi harian. Setelah distribusi data akhir Sesi I diterapkan, porsi tersebut meningkat menjadi 55,89 persen atau naik 2,55 persen.

Perubahan juga terlihat pada selisih kontribusi transaksi antara Sesi I dan Sesi II. Jika sebelumnya gap berada di angka 6,69 persen, setelah kebijakan berjalan selisih tersebut meningkat menjadi 11,78 persen. Kondisi ini mencerminkan pasar yang semakin responsif, likuid, dan dinamis karena investor memiliki informasi yang lebih cepat dan akurat untuk menentukan waktu masuk maupun keluar dari pasar.

BEI menegaskan, penyempurnaan format distribusi data tidak semata-mata berorientasi pada kecepatan, tetapi juga pada prinsip keadilan informasi. Akses data yang setara bagi seluruh pelaku pasar dinilai mampu meminimalkan potensi asymmetrical information dan mendorong terciptanya pasar yang lebih efisien.

Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen BEI dalam membangun pasar modal yang modern, berintegritas, dan berdaya saing global. Dengan dukungan data yang lebih cepat dan berkualitas, investor dapat menyusun strategi secara lebih matang, Anggota Bursa mampu memberikan rekomendasi yang lebih akurat, serta pasar modal Indonesia semakin dipercaya oleh investor institusi dan global.

Seiring meningkatnya jumlah investor ritel dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya investasi, BEI menilai penyediaan informasi yang berkualitas menjadi kebutuhan mutlak. Penyempurnaan distribusi data ini diharapkan menjadi fondasi transformasi pasar modal nasional yang berkelanjutan, sekaligus mendorong peningkatan literasi keuangan, inklusi investasi, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Editor: Gokli