Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BP Batam Garap Nagoya Heritage Jadi Kawasan Wisata Walkable City, Libatkan UMKM hingga Perbankan
Oleh : Aldy Daeng
Jumat | 02-01-2026 | 17:28 WIB
AR-BTD-9035-Mouris-Limanto.jpg Honda-Batam
Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai menggarap penataan kawasan Nagoya Heritage dan New Nagoya sebagai bagian dari pengembangan Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP). Kawasan ini dirancang menjadi destinasi wisata baru berkonsep walkable city yang ramah pejalan kaki dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya UMKM.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, saat melakukan peninjauan langsung di sejumlah titik kawasan bisnis Nagoya, Rabu sore. Peninjauan dilakukan mulai dari kawasan terpadu Harbour Bay hingga rencana akhir di kawasan Pakuwon.

"Kegiatan hari ini adalah survei lokasi. Nagoya Heritage dan New Nagoya merupakan salah satu dari lima WPP yang sedang kami garap. Rencananya, kawasan ini akan kami tata dari ujung Harbour Bay hingga ke Pakuwon," ujar Mouris saat diwawancarai di depan kawasan Harbour Bay, Jumat (2/1/2026).

Peninjauan tersebut turut dihadiri instansi terkait dari BP Batam dan Pemerintah Kota Batam, Dinas Perhubungan, Dinas Perkim, Dinas Pariwisata, Direktorat Pembangunan BP Batam, sejumlah asosiasi pengusaha, perwakilan PKL, serta pihak perbankan dari BRI Batam.

Lebih lanjut, Mouris menjelaskan, konsep utama pengembangan kawasan Nagoya Heritage adalah menciptakan kawasan yang berkonsep walkble atau sebuah konsep perencanaan kota dan pariwisata yang mengutamakan kemudahan dan kenyamanan untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Langkah awal konsep ini wisata baru dengan penataan pedestrian, lalu lintas, parkir, hingga sistem kawasan yang terintegrasi.

"Kita ingin membangun semacam walkable city. Ada kawasan-kawasan tertentu yang nantinya hanya bisa dilalui pejalan kaki, tidak untuk kendaraan bermotor. Pedestrian akan kita rapikan, kawasan juga kita tata, termasuk menyiapkan kantong parkir dan perbaikan sistem lalu lintas," jelasnya.

Selain menyasar pengusaha besar, BP Batam menegaskan komitmennya untuk mendukung pelaku UMKM dan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini menjadi bagian dari denyut ekonomi Nagoya.

"Kita tidak hanya fokus ke pengusaha besar, tapi juga mensupport UMKM. Kios-kios akan ditata dan diperbaiki, sistemnya diatur ulang, dan ke depan akan ada pengelola kawasan di Nagoya Heritage ini," tambah Mouris.

Pengembangan kawasan ini direncanakan dilakukan secara kolaboratif melalui skema kerja sama lintas pemangku kepentingan. BP Batam, Pemko Batam, pelaku usaha, asosiasi, hingga perbankan dilibatkan dalam konsep gotong royong.

"Penganggaran kita arahkan melalui kerja sama. Ini proyek gotong royong semua stakeholder," tegasnya.

Pada tahap awal, BP Batam akan fokus pada fase crowd gather atau menarik keramaian ke kawasan tersebut sebelum dilakukan pembenahan fisik secara bertahap. Momentum dua agenda besar, yakni Imlek dan Idulfitri, akan dimanfaatkan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi dan wisata di sepanjang Nagoya Heritage.

"Kita mau ramaikan dulu areanya. Budaya baru kita bangun, orang datang untuk kuliner, belanja, dan menikmati kawasan. Setelah itu hidup, barulah pembenahan fisik dilakukan pelan-pelan," kata Mouris.

Ia menambahkan, setelah arus pengunjung terbentuk, pertumbuhan ekonomi diyakini akan berjalan secara alami. Pelaku usaha diharapkan akan terdorong untuk berinovasi dan mempercantik usahanya secara mandiri.

Disinggung terkait adanya PKL yang sudah lama berusaha di kawasan tersebut, Mouris menyebutkan, BP Batam juga telah berkoordinasi dengan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) untuk pendataan dan penataan yang humanis. Penataan ini tidak bersifat penertiban, melainkan pengelolaan kawasan secara lebih tertib dan nyaman.

"Bukan ditertibkan, tapi ditata. Termasuk kawasan Tanjung Pantun, semuanya akan kita tata, termasuk sistem pembayaran digital yang saat ini masih manual," ungkapnya.

Dalam pengembangan UMKM, BP Batam juga menggandeng Bank BRI sebagai mitra potensial. Salah satu konsep yang ditawarkan adalah pembentukan "Kampung BRI" di kawasan PKL.

"Kita tawarkan ke BRI, apakah memungkinkan membuat Kampung BRI. Mulai dari penataan kios, pembiayaan murah untuk UMKM, hingga pengelolaan kawasan seperti sampah, keamanan, dan fasilitas umum," jelas Mouris.

Saat ini, kerja sama tersebut masih dalam tahap diskusi dan perumusan konsep. Namun, pihak BRI disebut merespons positif dan ikut turun langsung ke lapangan untuk meninjau lokasi.

Mouris menambahkan, melalui survei lapangan ini, BP Batam bersama seluruh pemangku kepentingan berupaya memetakan berbagai permasalahan teknis di lapangan, mulai dari kualitas pedestrian, drainase, fasilitas penyeberangan, hingga kenyamanan pejalan kaki.

"Fungsi survei hari ini adalah menangkap langsung apa saja persoalan di lapangan. Semua akan kita garap bersama sesuai peran masing-masing," pungkas Mouris.

Editor: Yudha