Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

FTA Indonesia-EAEU Diteken di Rusia, Target Perdagangan RI-Kazakhstan Tembus USD 2 Miliar
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 02-01-2026 | 12:08 WIB
mendag-dubes.jpg Honda-Batam
Mendag Budi Santoso bersama Dubes Fadjroel Rachman, saat penandatanganan FTA Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di St Petersburg, Rusia, pada Minggu, 21 Desember 2025. (Foto: Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Hubungan dagang Indonesia dengan kawasan Eurasia memasuki babak baru setelah Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) resmi ditandatangani di St Petersburg, Rusia, pada Minggu, 21 Desember 2025. Perjanjian tersebut membuka peluang peningkatan nilai perdagangan Indonesia-Kazakhstan hingga USD 2 miliar dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun ke depan.

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr M Fadjroel Rachman, menyebut penandatanganan FTA ini sebagai tonggak strategis yang membangun "jembatan emas" antara Indonesia dan kawasan Eurasia. "Implementasi FTA Indonesia-EAEU diyakini akan menggandakan perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota EAEU," ujar Fadjroel, mendukung pernyataan Ketua Komisi Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev.

Penandatanganan FTA tersebut berlangsung dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi EAEU pada 21-22 Desember 2025 dan dihadiri langsung oleh para pemimpin lima negara anggota EAEU, yakni Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus, dan Kyrgystan, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

Indonesia diwakili oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso, didampingi Dubes Fadjroel Rachman dan Dubes Jose Tavares. Sementara itu, masing-masing negara EAEU diwakili oleh wakil perdana menteri, antara lain Serik Zhumangarin (Kazakhstan), Alexey Overchuk (Rusia), Mher Grigoryan (Armenia), Natalia Petkevich (Belarus), dan Daniyar Armangeldiev (Kyrgystan).

EAEU sendiri merupakan blok ekonomi yang dibentuk pada 2014 dan aktif sejak 2015, dengan total populasi sekitar 180 juta jiwa dan produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 2,56 triliun. Sementara Indonesia memiliki populasi sekitar 285 juta jiwa dengan PDB lebih dari USD 1,4 triliun. Kombinasi kekuatan ekonomi dan populasi tersebut menempatkan Indonesia dan EAEU sebagai aktor strategis dalam ekosistem perdagangan global.

"Kazakhstan memiliki PDB per kapita sekitar USD 15.000 dengan populasi 20 juta jiwa, sehingga berperan strategis dalam menyukseskan FTA Indonesia-EAEU," kata Fadjroel.

Ia menegaskan keterlibatannya sejak awal perundingan dilandasi keyakinan bahwa FTA ini sejalan dengan visi pembangunan nasional. "Pembukaan pasar Eurasia sangat menguntungkan Indonesia, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo serta arahan Menteri Luar Negeri Sugiono. Ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi lintas kementerian," ujarnya.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan, perjanjian ini membuka akses pasar baru sekaligus mendiversifikasi tujuan ekspor dan sumber investasi Indonesia, khususnya di sektor manufaktur dan pertanian. "Produk Indonesia akan memperoleh akses pasar yang lebih luas dan kompetitif melalui skema tarif preferensial hingga 90,5 persen," kata Budi.

Sejumlah komoditas unggulan Indonesia diproyeksikan meningkat ekspornya ke kawasan EAEU, antara lain minyak sawit dan turunannya, kakao, kopi, alas kaki, tekstil, produk perikanan, karet alam, furnitur, dan elektronik. Sebaliknya, Indonesia juga membuka pasar bagi produk EAEU, termasuk pupuk, besi, dan minyak mentah.

Terkait hubungan bilateral Indonesia-Kazakhstan, Kementerian Perdagangan dan Integrasi Kazakhstan menyambut positif FTA ini karena dinilai mampu meningkatkan ekspor sektor pertanian dan industri ke Indonesia. Nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai USD 691,3 juta pada 2022, sebelum turun menjadi USD 398,4 juta pada 2024.

"Kami optimistis nilai perdagangan Kazakhstan-Indonesia dapat meningkat hingga USD 1,5 miliar bahkan USD 2 miliar, ditopang kemajuan logistik, penerbangan langsung, bebas visa, perlindungan investasi, serta kerja sama energi dan mineral," papar Fadjroel.

KBRI Astana merekomendasikan agar Indonesia segera menyusun peta jalan strategis untuk menangkap peluang pasar EAEU, khususnya Kazakhstan, melalui harmonisasi tarif, efisiensi transportasi, dan penguatan diplomasi ekonomi berbasis pentaheliks.

"Penandatanganan FTA Indonesia-EAEU ini merupakan hadiah awal tahun 2026 bagi Indonesia dan Kazakhstan, sekaligus menandai gelombang baru globalisasi perdagangan yang saling menguntungkan," tutup Fadjroel, seraya mengutip filsuf Kazakhstan Abai Kunanbayev, "Persahabatan melahirkan kemakmuran bersama".

Editor: Gokli