Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemenag Siapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik untuk Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 26-12-2025 | 13:08 WIB
Abu-Rokhmad.jpg Honda-Batam
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad. (Foto: Kemenag)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan sebanyak 6.919 Masjid Ramah Pemudik yang tersebar di berbagai daerah untuk melayani masyarakat selama masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Program tersebut diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kemenag di Masjid Jami' An-Nur, Karawang, Jawa Barat, Selasa (23/12/2025).

Peluncuran program ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad; Direktur Urusan Agama Islam dan Bina, Syariah Arsad Hidayat; Kepala Subdirektorat Kemasjidan, Nurul Badruttamam; Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Barat, Dudu Rohman; jajaran Kemenag kabupaten/kota se-Jawa Barat, serta perwakilan TNI-Polri dan Kementerian Perhubungan.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyatakan bahwa program Masjid Ramah Pemudik merupakan bentuk nyata toleransi dan pelayanan keagamaan yang hadir di ruang publik. Ia menegaskan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang kemanusiaan yang terbuka bagi semua kalangan.

"Ini adalah bukti bahwa toleransi di Indonesia tidak berhenti pada tataran wacana. Masjid adalah rumah bagi siapa pun," ujar Nasaruddin dalam sambutan yang disampaikan secara virtual.

Menag menjelaskan, pada momentum Nataru 2025-2026, ribuan masjid tersebut disiapkan untuk memberikan layanan istirahat bagi pemudik dan musafir. Ia mengimbau para pengelola masjid agar memberikan pelayanan terbaik demi keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.

"Jika memungkinkan, sediakan kopi atau minuman hangat agar para pengemudi tidak mengantuk. Kehadiran masjid sebagai tempat istirahat terbukti mampu menurunkan angka kecelakaan hingga 50 persen pada musim mudik sebelumnya," katanya.

Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad menambahkan bahwa akhir tahun memiliki dimensi keagamaan sekaligus sosial kemasyarakatan. Di satu sisi, umat Kristiani merayakan Natal, sementara di sisi lain masyarakat memanfaatkan libur sekolah dan Tahun Baru untuk bepergian.

"Sebagaimana Idulfitri, ada dimensi ibadah dan ada pula aspek sosial. Mudik dan liburan merupakan fenomena kemasyarakatan yang dinikmati bersama," ujar Abu Rokhmad.

Ia menegaskan bahwa membuka masjid untuk melayani musafir merupakan praktik keagamaan yang bernilai luhur. "Pada hakikatnya kita semua adalah musafir. Ketika masjid dibuka dan layanannya dimanfaatkan, itu adalah praktik keagamaan yang sangat mulia," katanya.

Abu Rokhmad juga menyampaikan bahwa Kemenag akan terus menyempurnakan program Masjid Ramah Pemudik, termasuk untuk menghadapi arus mudik Lebaran Idulfitri mendatang. "Kerukunan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Arsad Hidayat menjelaskan bahwa kick-off Masjid Ramah Pemudik pada Nataru ini merupakan pelaksanaan perdana, meskipun konsep serupa telah diterapkan pada arus mudik Idulfitri. "Masjid Ramah Pemudik menegaskan bahwa masjid melayani seluruh warga, termasuk masyarakat nonmuslim, sebagai wujud Islam yang rahmatan lil 'alamin," ujar Arsad.

Ia menambahkan, konsep tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kemenag tentang masjid ramah, yang mencakup masjid ramah lansia, ramah anak, ramah perbedaan, ramah lingkungan, serta masjid sebagai ruang penyelesaian persoalan sosial.

"Kehadiran masjid sebagai tempat istirahat yang aman, bersih, dan nyaman menjadi salah satu faktor penting dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas," pungkasnya.

Editor: Gokli