Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menperin Tegaskan Kerja Sama Industri Indonesia-Rusia Kian Strategis
Oleh : Redaksi
Senin | 15-12-2025 | 15:28 WIB
menperin-agus1.jpg Honda-Batam
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa kerja sama industri antara Indonesia dan Rusia terus berkembang pesat dan semakin strategis.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menghadiri pertemuan bilateral sekaligus membuka kegiatan Indonesia-Russia Business Matching yang digelar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI di Moskow pada awal Desember 2025.

Agus menyatakan, hubungan bilateral kedua negara kini bergerak menuju kerja sama yang lebih substantif dan komprehensif, seiring pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin. Pertemuan tersebut dinilai memperkuat koordinasi bilateral serta membuka peluang kolaborasi strategis yang lebih luas.

"Hubungan Indonesia dan Rusia semakin solid, khususnya setelah pertemuan kedua kepala negara yang mendorong penguatan kerja sama strategis lintas sektor," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/12/2025).

Menperin mengungkapkan, kinerja perdagangan bilateral Indonesia-Rusia menunjukkan tren positif. Pada 2024, nilai perdagangan nonmigas kedua negara tercatat sebesar USD 3,9 miliar atau meningkat 18,69 persen dibandingkan 2020. Hingga Oktober 2025, nilai perdagangan tersebut kembali naik menjadi USD 4,04 miliar.

Dari sisi investasi, Agus menyebutkan bahwa realisasi penanaman modal Rusia di Indonesia juga menunjukkan konsistensi. Pada 2024, investasi Rusia mencapai USD 262,7 juta, sedangkan hingga September 2025 tercatat sebesar USD 147,2 juta.

"Capaian ini mencerminkan kepercayaan pelaku industri Rusia terhadap stabilitas ekonomi dan prospek pengembangan industri di Indonesia," katanya.

Agus menjelaskan, Indonesia dan Rusia saat ini tengah merampungkan dua dokumen kerja sama penting di sektor industri, yakni Memorandum of Understanding (MoU) di bidang galangan kapal serta MoU kerja sama riset ilmiah terkait penggunaan aman chrysotile asbestos. Salah satu MoU tersebut telah ditandatangani bersama Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Anton Alikhanov di Moskow pada 8 Desember 2025.

"Kami berharap MoU lainnya segera diselesaikan agar memberikan kepastian kerangka kolaborasi bagi industri besar maupun industri kecil dan menengah kedua negara," ujar Agus.

Ia menambahkan, dialog intensif antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci dalam mengatasi berbagai hambatan teknis, termasuk tantangan biaya logistik akibat jarak geografis yang cukup jauh. Untuk itu, Agus mengapresiasi penyelenggaraan Working Group on Trade, Investment and Industry ke-6 pada Maret 2025 yang menghasilkan sejumlah kesepakatan teknis, mencakup sektor industri, logistik, standardisasi, sertifikasi, pertanian, hingga keuangan.

Lebih lanjut, Menperin menegaskan dukungan Indonesia terhadap percepatan penyelesaian Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Menurutnya, perjanjian tersebut akan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk industri nasional melalui peningkatan daya saing tarif dan pengurangan hambatan non-tarif.

"Kami berharap perjanjian ini segera ditandatangani dan menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan rantai pasok serta memperluas penetrasi produk industri Indonesia di kawasan Eurasia," tegasnya.

Dalam kerja sama multilateral, Indonesia juga menegaskan komitmen aktif dalam mendukung program BRICS, khususnya melalui partisipasi pada BRICS Centre for Industrial Competences (BCIC). Kerja sama ini diarahkan pada pengembangan digitalisasi industri, teknologi mobilitas baru, kecerdasan buatan, bioindustri, transformasi digital, penguatan SDM industri, serta pemberdayaan industri kecil dan menengah.

"BCIC merupakan platform strategis untuk transfer teknologi dan percepatan modernisasi industri nasional menuju industri yang cerdas, hijau, dan inklusif," imbuh Agus.

Rangkaian agenda bilateral tersebut diperkuat dengan penyelenggaraan Indonesia-Russia Business Matching yang dihadiri pejabat tinggi dan pelaku industri dari kedua negara. Forum ini bertujuan mempromosikan sektor industri strategis Indonesia, proyek investasi prioritas, serta membuka peluang joint manufacturing dan alih teknologi dengan mitra Rusia.

Kegiatan tersebut diikuti 19 peserta dari sembilan perusahaan Indonesia serta 51 peserta dari Rusia yang berasal dari sektor pertambangan, telekomunikasi, elektronik, mesin industri, jasa keuangan, hingga teknologi keamanan. Forum ini menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri (HKI) dengan dua lembaga Rusia, yakni Foreign Trade Center (FTC) Rusia dan Association of Industrial Parks (AIP) Rusia.

Kesepakatan tersebut mencakup fasilitasi peluang investasi, penyelenggaraan roadshow, misi dagang, pertukaran informasi, serta penguatan daya saing kawasan industri di kedua negara.

Agus menegaskan, capaian ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Rusia tidak hanya memperkuat dialog kebijakan, tetapi juga menghasilkan langkah konkret di tingkat dunia usaha. "Kami optimistis kerja sama ini akan memperkuat posisi Indonesia dan Rusia sebagai mitra strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.

Menperin juga menyoroti kesiapan Indonesia untuk tampil sebagai Partner Country pada pameran industri internasional INNOPROM 2026 yang akan berlangsung di Rusia pada 6-9 Juli 2026. Menurutnya, ajang tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan kekuatan industri manufaktur Indonesia ke pasar global.

"Kami berharap dukungan penuh Pemerintah Rusia agar partisipasi Indonesia sebagai Partner Country dapat berjalan optimal dan membuka peluang kolaborasi industri baru," pungkas Agus.

Editor: Gokli