Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Akademisi Dorong Posyandu Perkuat Edukasi Gizi, Kental Manis Masih Disalahartikan sebagai Susu Balita
Oleh : Redaksi
Selasa | 16-12-2025 | 09:28 WIB
1512_pola-konsumsi-kental-manis.jpg Honda-Batam
Akademisi merekomendasikan penguatan edukasi gizi melalui kader Posyandu agar informasi yang benar terkait konsumsi kental manis. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Hasil penelitian kolaboratif Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) mengungkapkan bahwa kental manis masih menjadi pilihan konsumsi bagi balita di beberapa wilayah, yakni Kabupaten Pamijahan, Bogor, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kota Semarang, Jawa Tengah.

Temuan tersebut mendorong para akademisi merekomendasikan penguatan edukasi gizi melalui kader Posyandu agar informasi yang benar terkait konsumsi kental manis dapat tersampaikan secara efektif kepada masyarakat.

Pengajar Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Luluk Rosida, S.St., M.K.M., menilai kader Posyandu memiliki kedekatan sosial dengan warga sehingga pesan edukasi gizi lebih mudah diterima dan dipahami. "Posyandu sangat potensial dimanfaatkan sebagai media edukasi untuk mengubah pola konsumsi masyarakat, khususnya terkait pemberian kental manis pada balita," ujar Luluk Rosida, dalam siaran pers, Senin (15/12/2025).

Ia menjelaskan, banyak orang tua rutin membawa anaknya ke Posyandu untuk pemeriksaan tumbuh kembang, namun tetap memberikan kental manis karena minimnya informasi yang diterima. "Hampir seluruh responden mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan bahwa kental manis tidak boleh diberikan kepada balita. Edukasi yang diterima umumnya terbatas pada pengukuran tinggi dan berat badan," katanya.

Penelitian Unisa di Kulon Progo juga mencatat konsumsi kental manis pada balita rata-rata satu hingga tiga kali per minggu, bahkan ditemukan satu kasus ekstrem dengan konsumsi hingga enam kali dalam sehari. Kondisi ini mencerminkan masih rendahnya pemahaman gizi di tingkat keluarga.

Senada dengan itu, Guru Besar Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof Tria Astika Endah Permatasari, menekankan perlunya edukasi gizi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan melalui peran aktif pemerintah hingga tingkat komunitas.

"Kebiasaan memberikan kental manis sudah berlangsung lintas generasi sehingga banyak keluarga menganggapnya sebagai susu. Perubahan perilaku tidak bisa instan dan membutuhkan pendampingan jangka panjang," ujar Prof Tria.

Ia menambahkan, kampanye singkat melalui media massa belum cukup untuk mengubah pola konsumsi masyarakat. Menurutnya, Posyandu merupakan kanal strategis untuk membangun pemahaman gizi yang benar secara berkelanjutan.

Para akademisi berharap penguatan peran Posyandu dalam edukasi gizi dapat menjadi bagian dari strategi nasional pencegahan masalah gizi pada anak, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi yang sehat dan sesuai rekomendasi kesehatan.

Editor: Gokli