Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Lewat Dialog Lintas Agama, Indonesia Tawarkan Model Kerukunan Ekologis untuk Dunia
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 12-12-2025 | 14:48 WIB
Dialog-Lintas-Agama.jpg Honda-Batam
Dialog Kerukunan Lintas Agama yang berlangsung di Auditorium KH M Rasjidi, Jakarta, Sabtu (6/12/2025). (Kemenag)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai laboratorium kerukunan dunia melalui Dialog Kerukunan Lintas Agama yang berlangsung di Auditorium KH M Rasjidi, Jakarta.

Kegiatan kolaboratif antara Kementerian Agama RI dan Muslim World League (MWL) itu tahun ini menempatkan ekoteologi sebagai tema utama, yakni pandangan bahwa tanggung jawab keagamaan mencakup hubungan manusia dengan alam.

Lebih dari 350 peserta menghadiri forum tersebut, meliputi pejabat Kemenag, tokoh lintas agama, akademisi, hingga komunitas keagamaan. Antusiasme publik kian meningkat terutama setelah bencana besar yang melanda Sumatra, yang menjadi pengingat pentingnya keseimbangan ekosistem.

Ekoteologi sebagai Kerangka Kerukunan Baru

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa nilai iman tidak dapat dipisahkan dari sikap manusia terhadap lingkungan. Ia menyebut tindakan merusak alam --seperti pembakaran hutan atau pembuangan sampah sembarangan-- sebagai pelanggaran moral sekaligus pengingkaran terhadap amanah keagamaan.

"Tidak mungkin seseorang mengaku beriman secara utuh jika masih merusak lingkungan," tegas Menag Nasaruddin, Sabtu (6/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa gagasan ekoteologi yang ia kembangkan kini semakin relevan seiring menguatnya krisis ekologis. Menurutnya, kerukunan umat beragama tidak dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang rusak, karena gangguan ekosistem pada akhirnya memengaruhi stabilitas sosial dan kenyamanan beribadah.

MWL: Ancaman Ekologis Melampaui Batas Agama

Sekretaris Jenderal MWL, Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa, menyambut pendekatan ekoteologi Indonesia dengan antusias. Ia menilai bahwa forum internasional yang menghubungkan agama dan ekologi masih sangat jarang dilakukan, padahal kerusakan lingkungan dirasakan semua pemeluk agama.

"Ketika banjir atau kerusakan ekosistem terjadi, tidak satu pun kelompok agama yang terbebas dari dampaknya," ujarnya.

Ia menyebut ekoteologi sebagai terobosan penting dalam percakapan global mengenai keberlanjutan.

Suara Lengkap Tokoh Lintas Agama

Dialog ini juga menghadirkan pemimpin agama dari berbagai tradisi di Indonesia, antara lain Lukman Hakim Saifuddin; Philip Kuntojo Widjaja (PERMABUDHI); Christophorus Tri Harsono (KWI); Jacklevyn Frits Manupatty (PGI); Xueshi Budi Santoso Tanuwiibowo (MATAKIN); I Ketut Budiasa (PHDI); serta KH Marsudi Syuhud (MUI). Akademisi Amany Lubis turut hadir sebagai penasihat Menteri Agama.

Para tokoh ini memaparkan perspektif ekologis masing-masing tradisi --mulai dari Islam yang menekankan amanah menjaga bumi, konsep stewardship dalam Kristen, prinsip Tri Hita Karana dalam Hindu, welas asih Buddha untuk semua makhluk, nilai harmoni Khonghucu, hingga kearifan Nusantara melalui ajaran memayu hayuning bawana.

Forum tersebut menyepakati bahwa kerukunan umat beragama perlu diperluas menjadi kerukunan ekologis, yaitu harmoni antara manusia, sesama, dan alam. Melalui ekoteologi, Indonesia menawarkan model kerukunan baru yang mengintegrasikan spiritualitas, etika publik, dan pelestarian lingkungan.

Kerja sama antara Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama dan MWL menjadi langkah strategis dalam membawa gagasan ini ke tingkat global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor dialog lintas agama dunia.

Editor: Gokli