Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Aksi Penyiksaan Dwi Putri hingga Meregang Nyawa

Rizki Faisal Desak Hukuman Maksimal dan Pengusutan Jaringan TPPO di Balik Aksi Brutal Wilson
Oleh : Aldy
Senin | 08-12-2025 | 10:08 WIB
0812_rizki-faisal-batu-ampar.jpg Honda-Batam
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Golkar, Rizki Faisal, di Mapolsek Batu Ampar. (Aldy/BTD)

BATAMTODAY.COM, Batam - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Golkar, Rizki Faisal, meminta aparat kepolisian, mulai dari Polda Kepri, Polresta Barelang hingga Polsek Batu Ampar, untuk mengungkap tuntas kasus pembunuhan calon Ladies Companion (LC) Dwi Putri Aprilian Dini (25), yang diduga disiksa hingga tewas oleh pelaku Wilson bersama komplotannya.

Rizki Faisal yang turun ke Batam langsung mendatangi Mapolsek Batu Ampar untuk mendapatkan penjelasan lengkap terkait perkembangan penyidikan kasus yang menghebohkan jagat Batam itu. Ia juga bertemu dengan tim kuasa hukum keluarga korban dari Hotman Paris 911 yang tengah mendampingi keluarga.

"Kami langsung meminta update perkembangan kasus kepada Kapolsek. Di sana juga hadir kuasa hukum keluarga korban," kata Rizki.

Usai mendengar paparan Kapolsek Batu Ampar Kompol Amru dan tim kuasa hukum, Rizki menegaskan pentingnya penanganan terbuka dan menyeluruh. Ia menuntut agar seluruh pelaku dijerat dengan hukuman paling berat.

"Siapa pun yang ada di belakang Wilson harus dibongkar. Jaringannya harus diusut, agar masyarakat kembali percaya pada aparat penegak hukum," tegasnya.

Rizki turut mengapresiasi pendampingan hukum gratis dari tim Hotman Paris dan memastikan dirinya akan terus mengawal kasus ini hingga selesai.

Rekaman CCTV Buka Fakta Penyiksaan Berhari-hari

Tim kuasa hukum keluarga korban dari Hotman Paris 911, melalui Putri Maya Rumanti, menonton langsung rekaman CCTV pada Sabtu siang dan menemukan rangkaian kekerasan yang berlangsung selama beberapa hari.

Putri Maya menyebut rekaman itu membuktikan seluruh keterangan saksi yang sebelumnya telah disampaikan kepada penyidik.

"Saya ingin memastikan sendiri bentuk penganiayaannya, dan ternyata benar, kekerasan sudah terjadi sejak hari Senin," ujarnya.

Menurut Putri Maya, korban Dwi Putri sudah berada di lokasi sejak Senin. Penyiksaan terus terjadi hingga Selasa dan Rabu, lalu mencapai puncak pada Kamis. Rekaman awal menunjukkan korban berulang kali dipukul dengan ujung sapu lidi, ditendang, dan diseret masuk ke kamar.

"Ada adegan korban dijambak, tangannya diikat, mulut ditutup. Wajah dan matanya sudah bengkak," ungkapnya.

CCTV juga merekam bentuk kekerasan lain seperti pemukulan menggunakan selang, penyemprotan air ke wajah dan tubuh, hingga korban dipaksa berada di dekat mesin cuci dalam kondisi semakin lemah.

"Korban sudah sangat lemas, tapi tetap dibangunkan dan dipukul lagi. Sudah tidak berdaya," kata Putri.

Rekaman paling keji terjadi pada Kamis siang, 27 November 2025, yang disebut Putri sebagai fase paling mematikan. "Puncaknya pada hari itu, korban ditunjang, ditendang. Ada saksi perempuan dan ART yang melihat langsung," ujarnya.

Editor: Gokli