Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekonomi Syariah Kian Menguat, Aset Tembus Rp 10.257 Triliun dan Indonesia Naik ke Peringkat 3 Dunia
Oleh : Redaksi
Selasa | 02-12-2025 | 14:28 WIB
Ekonomi-Syariah.jpg Honda-Batam
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Ekonomi syariah Indonesia terus mencatat pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Aset keuangan syariah nasional melonjak dari Rp 6.193 triliun pada 2021 menjadi Rp 10.257 triliun pada 2025, didorong percepatan sertifikasi halal, meningkatnya permintaan produk fesyen dan kosmetik muslim, hingga berkembangnya pariwisata ramah muslim.

Kinerja kuat ini menegaskan peran ekonomi syariah sebagai pilar penting pertumbuhan nasional sekaligus membuka peluang usaha lebih luas bagi masyarakat.

Prestasi Indonesia juga menonjol di tingkat global. Dalam laporan Global Islamic Economy Indicator 2024-2025, Indonesia meraih peringkat ke-3 dunia, naik tajam dari posisi ke-11 sebelumnya, mengungguli negara seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain. Lonjakan peringkat ini mencerminkan penguatan regulasi, struktur industri, serta kapasitas ekosistem halal nasional.

Literasi Syariah Masih Tantangan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keynote speech virtual pada peluncuran Indonesia Sharia Economic Outlook (ISEO) 2026, menilai masih terdapat tantangan besar dalam literasi keuangan syariah.

"Kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan syariah perlu menjadi perhatian. Meski literasi keuangan nasional sudah 66 persen --lebih tinggi dari rata-rata OECD 62 persen-- pemanfaatan layanan syariah masih harus terus ditingkatkan,” ujar Airlangga, Senin (1/12/2025).

Strategi Penguatan Ekonomi Syariah 2025-2029

Pemerintah telah menyiapkan strategi jangka menengah yang mencakup:

  • Penguatan industri halal (makanan-minuman, fesyen muslim, farmasi, kosmetik, pariwisata, ekonomi kreatif).
  • Pemberdayaan UMKM halal melalui percepatan sertifikasi dan ekosistem yang lebih efisien.
  • Peningkatan ekspor halal dan kerja sama internasional.
  • Pendalaman keuangan syariah di sektor perbankan, pasar modal, dan industri non-bank.
  • Penguatan dana sosial syariah (ZISWAF) sebagai instrumen pemerataan.

Empat Kawasan Industri Halal (KIH) juga terus dikembangkan: Modern Halal Valley (Banten), Halal Industrial Park Sidoarjo, Bintan Inti Halal Hub, dan Jababeka Halal Cluster.

Sertifikasi Halal Capai 3 Juta, KUR Syariah Menguat

Percepatan sertifikasi halal menjadi fokus utama untuk memperkuat UMKM halal. Hingga Oktober 2025, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah menerbitkan 3 juta sertifikat halal.

Dari sisi pembiayaan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah mencapai R p89,04 triliun kepada 1,47 juta debitur sejak 2015 hingga November 2025. Capaian ini menunjukkan efektivitas pembiayaan syariah dalam memperluas akses permodalan dan meningkatkan ketahanan UMKM.

Ekosistem keuangan syariah turut diperkuat melalui kehadiran Lembaga Jasa Keuangan Bulion sesuai amanat UU P2SK. Dua lembaga yang beroperasi hingga Oktober 2025 tercatat mengelola 148,77 ton emas. Kehadiran instrumen ini memperluas pilihan investasi syariah dan memperdalam pasar keuangan berbasis prinsip syariah.

Airlangga menegaskan bahwa peluang Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi syariah global semakin terbuka lebar. "Potensi ini lahir bukan hanya karena jumlah penduduk muslim terbesar, tetapi juga karena kebijakan yang tepat, ekosistem yang matang, dan komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Acara peluncuran ISEO 2026 turut dihadiri oleh Mantan Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin, Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah, Wakil Rektor Universitas Indonesia Mahmud Sudibandriyo, Direktur Eksekutif KNEKS Sholahudin Al Aiyub, serta Direktur Utama Bank Syariah Nasional Alex Sofjan Noor.

Editor: Gokli