Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Industri Manufaktur Tetap Ekspansif, IKI November 2025 Capai 53,45 di Tengah Tekanan Global
Oleh : Redaksi
Sabtu | 29-11-2025 | 10:28 WIB
febri-kemenperin.jpg Honda-Batam
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ketahanannya pada November 2025, dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tetap berada di zona ekspansi meski mengalami perlambatan tipis di tengah gejolak geopolitik dan geoekonomi global.

Kinerja IKI November 2025 tercatat sebesar 53,45 poin, turun 0,05 poin dari Oktober 2025 yang berada di level 53,50. Kendati demikian, indeks tersebut masih menunjukkan ekspansi, didukung oleh munculnya "mesin baru pertumbuhan industri" dari fasilitas produksi yang mulai dibangun dan beroperasi.

Data SIINas mencatat bahwa penguatan kapasitas industri ini diproyeksikan menjadi pondasi peningkatan PDB Industri Pengolahan Nonmigas serta penyerapan tenaga kerja.

Namun, laju pertumbuhan IKI tertahan oleh penurunan variabel produksi yang merosot 1,08 poin menjadi 47,49. Kondisi ini menandai kontraksi enam bulan berturut-turut. Sementara itu, variabel persediaan tetap berada dalam zona ekspansi di angka 56,19 meski turun 0,33 poin.

"Kontraksi pada variabel produksi dipengaruhi sikap wait and see pelaku industri di tengah permintaan yang belum pulih sepenuhnya serta tekanan eksternal seperti fluktuasi nilai tukar dan dinamika geopolitik," jelas Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, Kamis (27/11/2025).

Febri menyebut IKI November ditopang kenaikan variabel pesanan sebesar 0,68 poin menjadi 55,93, menandai menguatnya permintaan domestik. IKI berorientasi ekspor berada di level 54,18 (turun 0,17 poin), sementara IKI berorientasi domestik naik 0,37 poin ke 52,71.

"Peningkatan pasar domestik menunjukkan efek positif kebijakan belanja dalam negeri, meski kita harus tetap waspada terhadap limpahan produk dari negara yang terdampak perang tarif global," kata Febri.

Optimisme pelaku industri juga meningkat. Proyeksi kondisi usaha enam bulan ke depan naik menjadi 71 persen, sementara tingkat pesimisme turun dari 5,4 persen menjadi 5,2 persen. Secara keseluruhan, 78 persen responden menyatakan usaha mereka berada dalam kondisi membaik atau stabil.

22 Subsektor Industri Nonmigas Mengalami Ekspansi

Kemenperin mencatat 22 dari 23 subsektor industri pengolahan nonmigas memasuki fase ekspansi dan berkontribusi hingga 98,8 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan III 2025.

Dua subsektor dengan IKI tertinggi adalah Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12) dan Industri Farmasi, Produk Obat Kimia, dan Obat Tradisional (KBLI 21).

Industri Tembakau mencatat ekspansi pada seluruh komponen IKI, dengan produksi rokok mencapai 27,9 miliar batang pada Oktober 2025 --naik 7,3 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini terkait pola kebutuhan akhir tahun dan penyesuaian kebijakan cukai.

Namun secara kumulatif Januari-Oktober 2025, produksi rokok turun 1,91 persen menjadi 250,9 miliar batang akibat meningkatnya rokok ilegal. "Rokok ilegal tidak hanya merugikan negara, tetapi juga mengganggu iklim usaha. Kami terus memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk pemberantasannya," tegas Febri.

Sementara itu, ekspansi Industri Farmasi dan Produk Obat Kimia mencapai 57,68 poin, didorong lonjakan pesanan luar negeri. Pada September 2025, nilai ekspor sektor ini mencapai US$ 81,87 juta, naik 12,35 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kebijakan Industri: Perkuat P3DN, Batasi Impor, dan Dorong Hilirisasi

Kementerian Perindustrian memastikan komitmennya menjaga keberlanjutan ekspansi manufaktur melalui sejumlah kebijakan strategis. Upaya tersebut mencakup penguatan pasar domestik melalui P3DN, jaminan energi berharga kompetitif, perlindungan impor melalui SNI dan pembatasan selektif, serta percepatan hilirisasi berbasis sumber daya lokal.

Febri turut menyampaikan dukungan terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat industri nasional melalui pembatasan impor selektif dan pemberantasan barang ilegal. "Kebijakan presiden penting untuk melindungi pelaku usaha dalam negeri dari tekanan global, termasuk banjir impor dari Tiongkok dan tarif resiprokal AS," ujarnya.

Kinerja industri juga ditopang kondisi makroekonomi yang stabil. Inflasi terjaga di level 2,86 persen (yoy), penjualan eceran September tumbuh 3,7 persen, Indeks Keyakinan Konsumen naik ke level 121,2, dan PMI Manufaktur Indonesia mencapai 51,2 --tiga bulan berturut-turut di zona ekspansi.

"Penguatan permintaan domestik menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan aktivitas industri. Kemenperin optimistis dapat menarik lebih banyak investasi, khususnya dari luar negeri. Kami telah menyiapkan fasilitas fiskal, nonfiskal, dan kawasan industri untuk mendukung percepatan tersebut," tutup Febri.

Editor: Gokli