Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Edukasi Ekonomi Digital di Ujung Negeri, BI Kepri Hadirkan 'Pojok Digital' di Pulau Penawar Rindu
Oleh : Aldy Daeng Husbanun
Senin | 24-11-2025 | 09:48 WIB
pembukaan.jpg Honda-Batam
Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, saat membuka Festival BERLAYAR 2025 (Bersama Rayakan Festival Digital Masyarakat Kepulauan Riau) di Pulau Belakangpadang, Kota Batam, Sabtu (15/11/2025). (Foto: Aldy Daeng Husbanun/Batamtoday)

Dari kejauhan, Pulau Belakangpadang tampak seperti titik kecil yang mengapung di antara riak laut Selat Singapura. Namun ketika boat pancung perlahan merapat di dermaga beton yang menatap sibuknya jalur pelayaran internasional itu, suasana pulau mendadak terasa berbeda. Sebuah bangunan sederhana dengan tulisan tegas "Pojok Digital BI Kepri" menyambut setiap pengunjung, sebuah tanda bahwa geliat ekonomi digital mulai menjejakkan kaki di pulau yang selama ini dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu.

Pulau kecil yang dahulu hanya hidup dari kayu, ombak, dan kesahajaan wilayah perbatasan itu kini seperti disapa angin zaman baru. Festival BERLAYAR 2025 (Bersama Rayakan Festival Digital Masyarakat Kepulauan Riau) hadir membawa perubahan yang tidak hanya terasa di pusat keramaian, tetapi juga dalam cara masyarakat memandang masa depan.

Sejak matahari belum tinggi, Pelabuhan Sekupang, Batam, sudah ramai. Boat pancung yang dahulu hanya mengandalkan dayung kini berderu dengan mesin tempel, menjadi jembatan kecil yang menghubungkan kota industri dengan pulau-pulau di sekitarnya. Sabtu, 15 November 2025, hampir seluruh boat yang melintas dicarter oleh Bank Indonesia (BI) Kepri untuk mengangkut ratusan peserta festival.

Boat pancung yang mengangkut ratusan peserta Festival BERLAYAR 2025 dari Sekupang ke Pulau Belakangpadang. (Foto: Aldy Daeng Husbanun)

Salah satunya dikemudikan Ardi, lelaki paruh baya yang akrab disapa Pak Cu. Ia sudah puluhan tahun menjadi pengemudi boat, membaca arah angin dan arus dengan naluri yang terasah oleh waktu. "Alhamdulillah, rezeki hari ini luar biasa. Puluhan kali saya bolak-balik Sekupang-Belakangpadang," ujarnya sambil mengarahkan boat membelah selat.

Pak Cu menyebut hari itu bukan sekadar pekerjaan. Banyak wajah lama yang ia kenal ikut dalam rombongan. "Macam reuni besar rasanya. Ada kawan lama yang tinggal di Batam, balik hari ini. Rindu pun terbayar," katanya dengan dialek Melayu yang khas.

Perjalanan singkat itu seolah menjadi simbol pergeseran zaman. Jika dulu perpindahan orang dan barang menjadi denyut utama pulau, kini arus digital mulai ikut mengaliri kehidupan masyarakat.

Sunset Run: Ketika Senja Mengumpulkan Ratusan Orang

Menjelang sore, rona kuning keemasan mulai memantul di permukaan laut. Di lapangan dekat pelabuhan, ratusan peserta Sunset Run sudah bersiap. Kaos seragam bercorak cerah, suara musik, dan gelak tawa membentuk suasana meriah di tengah kampung.

Ummi, seorang warga yang rumahnya tak jauh dari area lari, tampak mengamati acara itu dengan rasa penasaran. "Kampung kami sering ada acara, tapi yang macam ini, yang bawa pendidikan ekonomi, belum pernah," ujarnya.

Hampir semua peserta berhasil menuntaskan rute. Panitia dari BI Kepri mengalungkan medali, memantik senyum bangga dari para pelari amatir yang menikmati sore itu sebagai pengalaman tak terlupakan. "Sunset Run bagus, bikin badan segar. Senja di perbatasan pun cantik sekali," kata Anton, seorang peserta yang datang dari Batam.

Ratusan peserta Sunset Run saat tiba di garis finis. (Foto: Aldy Daeng Husbanun/Batamtoday)

Acara lari itu tidak hanya meramaikan sore, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat rangkaian edukasi digital yang dibawa melalui Festival BERLAYAR.

Saat malam perlahan turun, Lapangan Indera Sakti berubah total. Puluhan tenda UMKM berjejer rapi. Aroma panganan ikan, otak-otak, dan menu khas pesisir lain tercium memancing selera. Di sisi lain, wahana permainan anak berdiri dengan lampu kelap-kelip, dan komidi putar bergerak pelan mengiringi irama musik dari panggung besar.

Bagi warga Belakangpadang, pemandangan ini tidak biasa. Lapangan yang biasanya menjadi tempat upacara dan arena sepak bola kini disulap menjadi pusat festival bertaraf kota.

Pancul, warga yang lahir 35 tahun lalu di pulau ini, datang membawa anaknya. "Saya pulang kerana rindu suasana kampung. Tapi malam ini lain benar. Rasa macam kota besar," katanya sambil mengawasi anaknya bermain.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah sistem pembayaran wahana permainan. Hanya dengan Rp 1 melalui QRIS, anak-anak dapat mencoba permainan sebanyak yang mereka mau. Langkah ini menjadi strategi halus BI Kepri untuk mengenalkan transaksi digital di daerah yang sebagian besar warganya masih menggunakan uang tunai.

"Murah. Anak puas main, saya pun dapat belajar pakai QRIS di kampung sendiri," ujar Pancul.

Tepat pukul 19.15 WIB, suara kompang memecah keramaian. Rombongan tamu dari Batam dan instansi terkait tiba, disambut tabuhan ritmis yang menjadi simbol kebanggaan Melayu. Suasana mendadak berubah khidmat, menandai dimulainya edukasi digital berskala besar di ujung negeri.

Sebuah bangunan sederhana dengan tulisan tegas "Pojok Digital BI Kepri" menyambut setiap pengunjung, di pulau yang selama ini dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu. (Foto: Aldy Daeng Husbanun/Batamtoday)

Tidak jauh dari pelabuhan, Pojok Digital BI Kepri menjadi titik utama edukasi masyarakat. Bangunan sederhana itu menjadi tempat warga mendapat pendampingan mengenai transaksi digital, pembuatan rekening, keamanan layanan keuangan, hingga penggunaan QRIS dalam kehidupan sehari-hari.

Walau hanya satu ruangan kecil, pengaruhnya terasa hingga ke area festival. Warga berdatangan untuk mencoba langsung teknologi yang sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita kerabat atau pelaku usaha dari Batam.

Keberadaan Pojok Digital menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari gedung megah. Sering kali, justru tempat kecil dekat laut seperti itu mampu menyalakan api pembaruan. "BI serius, ini bukan main-main," ujar Pancul yang kini mulai memahami peran digitalisasi bagi usaha kecil.

BI Kepri: Menggerakkan Ekonomi dari Pulau ke Pulau

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, menyatakan bahwa program BERLAYAR dan pembukaan Pojok Digital merupakan upaya memperkuat ekosistem digital di Kepulauan Riau, terutama wilayah hinterland. "Belakangpadang punya sejarah dan potensi ekonomi besar. Dari sisi geografi pun strategis. Digitalisasi dapat memperkuat daya tarik pulau ini," ujarnya saat membuka acara.

BI mendorong penggunaan QRIS oleh UMKM, pedagang pasar, rumah makan, hingga transportasi air. Langkah ini bukan hanya tentang efisiensi transaksi, tetapi juga membaca potensi besar dari wisatawan Singapura yang kerap berkunjung ke hinterland Batam.

Melalui cross-border QRIS, wisatawan mancanegara dapat bertransaksi langsung dengan sistem pembayaran digital dari negara asal mereka. "Potensinya besar sekali," kata Ardhienus.

Penggunaan QRIS oleh UMKM, pedagang pasar, rumah makan dan masyarakat di bazar Festival BERLAYAR 2025. (Foto: Aldy Daeng Husbanun/Batamtoday)

Ia menegaskan bahwa penggunaan QRIS tidak bersifat wajib. "Kami tidak mewajibkan, tetapi mendorong. Banyak pedagang sebenarnya sudah punya QRIS, kini tinggal dioptimalkan," imbuhnya.

Untuk itu, BI juga bekerja sama dengan perbankan agar pelaku usaha dapat memenuhi syarat administrasi tanpa merasa terbebani.

Festival BERLAYAR tidak hanya menghadirkan hiburan. Ia menjadi ruang pertemuan antara tradisi pesisir yang kuat dengan teknologi yang terus berkembang. Masyarakat yang terbiasa menggunakan uang tunai kini perlahan memahami kepraktisan pembayaran digital.

Belakangpadang, dengan letak geografis yang strategis dan identitas budaya yang kokoh, dipandang mampu menjadi contoh transformasi ekonomi digital bagi pulau-pulau kecil lain di Kepri.

Program BERLAYAR akan terus bergerak, menjangkau pulau demi pulau. Belakangpadang menjadi permulaan, mercusuar kecil yang memancarkan sinyal baru: bahwa digitalisasi tidak mengenal batas daratan maupun lautan.

Di ujung negeri, di pulau yang selama ini menjadi tempat menenangkan rindu, masa depan tengah dibangun. Tidak dengan gedung tinggi, tetapi dengan literasi digital, edukasi keuangan, dan semangat warga yang siap berdampingan dengan perubahan. (*)