Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Program 'Berlayar' di Belakangpadang, BI Buka Gerbang Digitalisasi Ekonomi di Pulau-pulau Kecil Kepri
Oleh : Aldy Daeng
Senin | 17-11-2025 | 11:28 WIB
AR-BTD-4799-BI-Kepri.jpg Honda-Batam
Pulau Penawar Rindu menjadi lokasi perdana Program Berlayar, sebuah inisiatif BI Kepri untuk membawa gelombang digitalisasi pembayaran hingga ke wilayah hinterland, pada Sabtu (15/11/2025) malam. (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - Di tengah denting perahu kayu dan kesibukan nelayan yang beranjak pulang, Belakangpadang kembali memikat perhatian publik. Pulau mungil yang dikenal sebagai "Pulau Penawar Rindu" itu menjadi lokasi perdana Program 'Berlayar' --Bersama Rayakan Festival Digital Masyarakat Kepulauan Riau.

Program Berlayar merupakan inisiatif Bank Indonesia (BI) Kepri untuk membawa gelombang digitalisasi pembayaran hingga ke wilayah hinterland. Kegiatan yang berlangsung Sabtu (15/11/2025) malam ini menandai babak baru pemanfaatan teknologi di pulau-pulau terluar Kepri.

Belakangpadang bukan sembarang pulau; ia adalah saksi awal peradaban Batam. Letaknya yang berhadapan langsung dengan Singapura dan Malaysia menjadikannya pintu masuk wisatawan lintas-batas. Keunikan budaya, suasana historis, serta geliat ekonomi yang tumbuh pesat membuatnya terpilih sebagai titik awal perluasan ekosistem digital.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, menyebut pemilihan Belakangpadang sebagai langkah strategis yang dilihat dari sisi ekonomi, geografi, hingga karakter sosial masyarakat. "Belakangpadang punya sejarah, identitas, dan potensi ekonomi besar. Kita ingin memperkuat daya tarik itu melalui digitalisasi," jelasnya.

Melalui Program Berlayar, BI mendorong penggunaan QRIS pada sektor ekonomi lokal --UMKM, pedagang pasar, rumah makan, hingga transportasi air. BI juga tengah memetakan data pengguna QRIS serta potensi transaksi, terutama dari wisatawan Singapura yang kerap berkunjung ke kawasan hinterland Batam.

"Potensinya besar, terutama dari wisatawan lintas-batas. Dengan cross-border QRIS, mereka bisa bertransaksi langsung melalui pembayaran digital," kata Ardhienus.

Agar masyarakat tak hanya menjadi pengguna, tetapi juga paham manfaatnya, BI membuka Pojok Digital. Di sana, warga belajar membuat rekening, mengenal layanan keuangan digital, hingga menggunakan QRIS sebagai alat transaksi.

Meski begitu, BI menegaskan bahwa penggunaan QRIS bersifat sukarela. "Kita tidak mewajibkan, tapi mendorong. Banyak pelaku usaha sebenarnya sudah punya, tinggal dioptimalkan," ujarnya.

BI pun bekerja sama dengan perbankan untuk membantu pelaku usaha memenuhi syarat biaya dan administrasi layanan digital. Harapannya, semakin banyak pelaku usaha yang dapat beradaptasi dan memanfaatkan transaksi nontunai untuk kegiatan sehari-hari.

Program Berlayar di Belakangpadang menjadi permulaan dari rangkaian kegiatan yang akan menyasar pulau-pulau kecil lain di Kepri. BI melihat digitalisasi pembayaran sebagai salah satu kunci memperkuat ekonomi kepulauan, terutama pada sektor wisata dan perdagangan yang memiliki perputaran arus barang serta pengunjung yang tinggi.

"Fokus awalnya adalah pengenalan. Kita ingin masyarakat terbiasa, bukan mengejar target transaksi," kata Ardhienus.

Tak berhenti pada edukasi pembayaran digital, BI juga mulai memetakan blok-blok ekonomi lokal yang bisa dikembangkan melalui sistem cross-border maupun layanan digital lanjutan.

Dengan letak geografis strategis dan potensi wisata yang terus tumbuh, Belakangpadang dipercaya dapat menjadi contoh transformasi ekonomi digital bagi seluruh pulau kecil di Kepri. Program Berlayar pun menjadi simbol pelayaran baru --menghubungkan tradisi, teknologi, dan peluang masa depan bagi masyarakat kepulauan.

Editor: Gokli