Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekonomi Kepri Tumbuh 7,48 Persen, Tertinggi di Sumatera: Industri dan Investasi Jadi Penggerak Utama
Oleh : Aldy
Sabtu | 08-11-2025 | 12:08 WIB
ekonomi-kepri2.jpg Honda-Batam
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro. (Foto: Aldy)

BATAMTODAY.COM, Batam - Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat pertumbuhan impresif sebesar 7,48 persen (yoy) pada triwulan III 2025, melampaui capaian triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,14 persen (yoy).

Dengan kinerja ini, Kepri kembali menempati posisi pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera, sekaligus berkontribusi sebesar 7,07 persen terhadap PDRB Sumatera. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), secara kumulatif perekonomian Kepri hingga triwulan III 2025 tumbuh 6,60 persen (ctc).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, menjelaskan pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi, serta perdagangan. "Sektor industri pengolahan tumbuh 6,82 persen, pertambangan 19,83 persen, konstruksi 5,71 persen, dan perdagangan 5,54 persen. Keempatnya memberi kontribusi signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi Kepri," ujar Rony di Batam, Jumat (7/11/2025).

Ia menjelaskan, industri pengolahan tumbuh seiring meningkatnya aktivitas produksi pasca penetapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat, sementara sektor pertambangan terdorong oleh operasional dua sumur migas baru di Natuna. Sementara itu, pertumbuhan konstruksi didukung oleh proyek strategis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) yang terus berjalan.

Rony menambahkan, sektor perdagangan juga mencatatkan peningkatan signifikan, seiring pulihnya aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dan pariwisata. Kinerja ekonomi Kepri turut tercermin dari intermediasi perbankan yang kuat, dengan pertumbuhan kredit sebesar 20,61 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) 14,06 persen, dan aset 13,14 persen secara tahunan.

"Pembiayaan korporasi dan UMKM juga naik, masing-masing 26,37 persen dan 12,96 persen pada triwulan III 2025," tambahnya.

Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 9,05 persen (yoy), didorong oleh iklim investasi yang kondusif, baik dari PMA maupun PMDN, serta kemudahan perizinan yang tertuang dalam PP Nomor 25 Tahun 2025 dan PP Nomor 28 Tahun 2025.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga (RT) tumbuh 4,12 persen (yoy), seiring meningkatnya optimisme konsumen. Net ekspor juga menunjukkan kinerja kuat, tumbuh 16,45 persen (yoy) dengan andil 2,46 persen, seiring meningkatnya permintaan global.

Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, BI terus memperkuat digitalisasi sistem pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Hingga September 2025, transaksi QRIS tercatat mencapai 64,94 juta transaksi dengan nilai Rp 7,71 triliun, meningkat masing-masing 181,93 persen dan 140,62 persen secara tahunan. Layanan QRIS lintas negara (cross-border) dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura juga menunjukkan tren positif.

Meski pertumbuhan ekonomi tetap solid, inflasi di Kepri terjaga stabil. Pada Oktober 2025, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 0,36 persen (mtm), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,01 persen (yoy), terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Ke depan, BI meyakini perekonomian Kepri akan terus tumbuh positif, didukung oleh pengembangan KEK, KI, dan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta peningkatan mobilitas masyarakat menjelang akhir tahun. "Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan pelaku usaha terus menyiapkan langkah terukur untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED)," tutur Rony.

Sementara itu, pengendalian inflasi akan terus dijaga melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), dengan strategi 4K --Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Editor: Gokli