Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Transaksi QRIS di Kepri Tembus Rp 7,7 Triliun hingga September 2025
Oleh : Aldy Daeng
Selasa | 04-11-2025 | 16:08 WIB
QRIS1121.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Gelombang digitalisasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus menunjukkan peningkatan signifikan. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga September 2025, nilai transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kepri mencapai Rp 7,7 triliun, melonjak 140,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 4,14 triliun.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, dalam ajang Kepri Economic Forum 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Grand Mercure Batam Center, Selasa (4/11/2025),

Rony Widijarto, menyampaikan, pencapaian ini menunjukkan bahwa masyarakat Kepri semakin terbiasa dengan ekosistem pembayaran digital yang efisien dan aman.

"Pertumbuhan ini membuktikan semakin kuatnya adopsi digitalisasi pembayaran di masyarakat Kepri, khususnya pada sektor UMKM, ritel, dan layanan publik," ujar Rony.

Lebih lanjut, Rony memaparkan, berdasarkan data BI, volume transaksi QRIS di Kepri juga meningkat tajam menjadi 64,94 juta transaksi, atau tumbuh 181,93 persen secara tahunan (year on year). Angka ini menegaskan bahwa masyarakat Kepri kini semakin melek digital dan mulai meninggalkan cara transaksi konvensional.

Secara nasional, kata dia, BI mencatat volume transaksi QRIS mencapai 10,16 miliar transaksi dengan nilai Rp 959,67 triliun hingga September 2025. Meski demikian, laju pertumbuhan di Kepri jauh melampaui rata-rata nasional, menandakan adanya lonjakan adopsi digital di provinsi kepulauan tersebut.

Ia menyebut, lonjakan penggunaan QRIS tak lepas dari perluasan akseptasi di berbagai sektor ekonomi, seperti transportasi, pariwisata, perdagangan, serta kolaborasi antara BI, pemerintah daerah, perbankan, dan pelaku usaha mikro.

"Kepri menunjukkan tren yang sangat impresif. Ini menjadi bukti bahwa pelaku usaha dan masyarakat di daerah kepulauan semakin adaptif terhadap teknologi finansial," papar Rony.

Ronny menilai, gelombang digitalisasi ini bukan sekadar perubahan perilaku transaksi, melainkan juga peluang baru bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi bisnis.

Peningkatan penggunaan QRIS juga memperkuat inklusi keuangan digital, terutama bagi masyarakat di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau layanan perbankan konvensional.

"Pemilik usaha perlu melihat tren ini sebagai peluang, bukan tantangan. Dengan semakin banyak masyarakat bertransaksi digital, potensi pertumbuhan ekonomi daerah juga ikut terdorong," sebutnya.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, Rony menambahkan, BI Kepri menargetkan peningkatan lebih lanjut hingga akhir 2025. Program yang dijalankan antara lain edukasi dan literasi digital kepada masyarakat, onboarding merchant baru, serta penguatan infrastruktur digital di pulau-pulau terluar.

"Kami ingin memastikan seluruh lapisan masyarakat di Kepri, termasuk di wilayah terdepan dan perbatasan, dapat menikmati kemudahan transaksi digital yang cepat, aman, dan efisien," tutur Ronny.

Dengan capaian tersebut, Kepri kini menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan digitalisasi sistem pembayaran tercepat di Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa transformasi digital di daerah kepulauan bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan.

Editor: Yudha