Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-Prancis Perkuat Mutu Guru Vokasi di Bidang Kuliner
Oleh : Redaksi
Senin | 03-11-2025 | 11:48 WIB
vokasi-kuliner.jpg Honda-Batam
Ditjen Diksi PKLK bekerja sama dengan Pemerintah Prancis melalui Institut Francais d'Indonesie (IFI) dan Institut Disciples Escoffier, resmi menggelar program Training of Trainers on French Cooking for Vocational Culinary Teachers 2025 (Areas of Pastry). (Foto: Kemendikdasmen)

BATAMTODAY.COM, Parung - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Layanan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Diksi PKLK) bekerja sama dengan Pemerintah Prancis melalui Institut Francais d'Indonesie (IFI) dan Institut Disciples Escoffier, resmi menggelar program Training of Trainers on French Cooking for Vocational Culinary Teachers 2025 (Areas of Pastry).

Pelatihan ini berlangsung selama 19 hari, mulai 13 hingga 31 Oktober 2025, di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPMPV) Bisnis dan Pariwisata Parung, Jawa Barat. Program ini menjadi langkah konkret penguatan kompetensi guru vokasi di bidang kuliner melalui pertukaran keahlian dan budaya antara Indonesia dan Prancis.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan jati diri profesional guru vokasi Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.

"Pelatihan ini bukan sekadar belajar memasak, melainkan wadah pertukaran nilai, budaya, dan profesionalisme. Saya berharap para peserta dapat menyebarkan ilmu yang diperoleh ke sekolah masing-masing, agar menjadi inspirasi bagi siswa," ujar Wamen Atip, Jumat (31/10/2025).

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil nyata sinergi antara pemerintah Indonesia dan Prancis dalam meningkatkan kualitas tenaga pendidik vokasi.

"Kami berharap para guru peserta pelatihan dapat menjadi motor inovasi di sekolahnya. Kolaborasi ini menyatukan kekayaan rasa lokal Indonesia dengan teknik dan estetika kuliner Prancis, sehingga lahir lulusan vokasi yang unggul, kreatif, dan berdaya saing global," ungkap Tatang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang revitalisasi pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi nasional.

22 Guru dan 2 Instruktur Jalani 158 Jam Pelatihan Intensif

Sebanyak 26 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 24 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari berbagai provinsi di Indonesia dan 2 instruktur BBPMPV Bisnis dan Pariwisata. Mereka mengikuti total 158 jam pelajaran (JP) yang mencakup materi pastry Prancis, manajemen dapur profesional, standar kebersihan internasional, keamanan pangan, serta teknik pengajaran inovatif.

Pelatihan dipandu oleh dua chef profesional pilihan Institut Disciples Escoffier, yakni Chef Gerald A. Marider sebagai pastry chef dan Chef Arwan sebagai pastry chef assistant. Para peserta belajar membuat berbagai hidangan klasik Prancis, seperti Madeleine au Miel, Tart Citron Meringue, Paris-Brest, Religieuse Vanille, Croissant aux Beurre, Pain aux Chocolat, hingga Macaron Pistachio & Framboise.

Penilaian peserta dilakukan secara komprehensif melalui ujian teori, praktik, presentasi lisan, dan kerja kelompok. Peserta yang lulus dengan nilai minimal "cukup" akan memperoleh Sertifikat Kompetensi Profesional bidang pastry yang dikeluarkan secara resmi oleh Pemerintah Prancis dan Kemendikdasmen RI.

Para peserta mengungkapkan rasa syukur dan antusiasme mengikuti pelatihan ini. Violeta Noya, guru SMKN 5 Ambon, menyebut pelatihan ini membuka wawasan baru tentang kolaborasi kuliner Indonesia-Prancis.

"Saya belajar mengolaborasikan masakan lokal dengan teknik gastronomi Prancis. Ilmu ini akan saya terapkan di sekolah agar siswa memahami dasar kuliner dunia," katanya.

Sri Handayani dari SMKN 4 Balikpapan menilai pelatihan ini memperkaya praktik di teaching factory sekolahnya.

"Kami diajarkan teknik dan penggunaan peralatan yang belum pernah kami coba sebelumnya. Semoga ke depan kami bisa belajar langsung ke Prancis," ujarnya.

Sementara itu, Dwiki Adiatma, guru SMKN 8 Pekanbaru, menilai kegiatan ini sebagai momentum penting untuk peningkatan kualitas guru produktif di bidang kuliner. "Sertifikasi ini sangat berarti bagi kami untuk meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri sebagai pengajar profesional," tuturnya.

Program pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama antara Kemendikbudristek dan Pemerintah Prancis yang ditandatangani pada 29 Juli 2024, mencakup bidang pendidikan vokasi, perhotelan, dan kuliner.

Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk memperluas jejaring internasional pendidikan vokasi, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta memastikan guru sebagai garda terdepan transformasi pendidikan vokasi yang modern, relevan, dan berdaya saing global.

Editor: Gokli