Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menperin Tegaskan Indonesia Siap Jadi Pusat Inovasi dan Pertumbuhan Industri Tekstil Global
Oleh : Redaksi
Sabtu | 25-10-2025 | 15:08 WIB
menperin-agus.jpg Honda-Batam
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam pidato pembukaan ITMF & IAF World Fashion Convention Annual Conference 2025 di Yogyakarta, Jumat (24/10/2025). (Foto: Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Yogyakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa Indonesia siap tampil sebagai mitra strategis sekaligus pusat inovasi dan pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dunia. Hal itu disampaikannya dalam pidato pembukaan ITMF & IAF World Fashion Convention Annual Conference 2025 di Yogyakarta, Jumat (24/10/2025).

Dalam forum internasional tersebut, Menperin Agus menekankan bahwa kehadiran Indonesia bukan sekadar sebagai tuan rumah, melainkan sebagai bagian aktif dari peta industri tekstil global yang tangguh, adaptif, dan kompetitif.

"Indonesia hadir bukan sekadar sebagai tuan rumah, tetapi sebagai mitra strategis yang siap berperan dalam memajukan industri tekstil global," ujar Agus.

Ia menegaskan, sektor TPT Indonesia tidak lagi menjadi "sunset industry". Selama periode pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tepatnya dari Triwulan IV 2024 hingga Triwulan II 2025, industri TPT tumbuh 5,39 persen dan memberikan kontribusi 0,98 persen terhadap PDB nasional.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut, Kementerian Perindustrian telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis. Pertama, penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko yang menyederhanakan proses perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS) agar lebih cepat, transparan, dan terukur.

Kedua, pelaksanaan Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan, yang mendorong industri mengganti mesin lama dengan peralatan modern hemat energi. Program ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga 21,75 persen, efisiensi energi 11,86 persen, penyerapan tenaga kerja 3,96 persen, serta volume penjualan 6,65 persen.

Ketiga, pemerintah menyalurkan Kredit Industri Padat Karya senilai Rp 20 triliun pada 2025, yang ditujukan bagi 2.000 hingga 10.000 perusahaan untuk berekspansi sekaligus menjaga lapangan kerja. Keempat, pemberian Fasilitas Masterlist Impor Barang Modal, yang memungkinkan perusahaan mendapatkan pembebasan bea masuk bagi peralatan produksi untuk meningkatkan efisiensi.

Selain itu, Menperin juga menegaskan komitmen pemerintah melalui berbagai insentif fiskal, seperti tax holiday, tax allowance, investment allowance, hingga super deduction tax bagi industri yang berinvestasi di bidang riset dan pendidikan vokasi. "Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah memperkuat ekosistem industri TPT yang tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing global," ujar Agus.

Menperin juga memaparkan daya saing produk TPT Indonesia di pasar global, terutama di Amerika Serikat. Produk dengan kode HS 61 (pakaian dan aksesori rajutan) menjadi komoditas surplus perdagangan terbesar kedua Indonesia dengan nilai ekspor mencapai USD 1,86 miliar, melampaui alas kaki (HS 64) senilai USD 1,85 miliar.

Agus menjelaskan, efisiensi biaya produksi menjadi salah satu keunggulan utama Indonesia. Di subsektor pemintalan benang, biaya produksi hanya USD 2,71 per kilogram --lebih rendah dibanding India, Tiongkok, dan Turki, serta sebanding dengan Vietnam dan Bangladesh. Untuk subsektor pertenunan, biayanya USD 8,84 per meter, dan di sektor fabric finishing hanya USD 1,16 per meter, menjadikan Indonesia salah satu produsen paling efisien di dunia.

"Data ini membuktikan bahwa industri tekstil Indonesia memiliki daya saing kuat dan siap menjadi pilar pertumbuhan global," ujarnya menegaskan.

Agus menambahkan, di tengah tantangan perubahan iklim, dinamika geopolitik, dan transformasi digital, Indonesia tetap optimistis menjadi mitra tepercaya bagi industri tekstil dunia. "Dengan sumber daya yang melimpah, kebijakan industri yang adaptif, serta tenaga kerja terampil, Indonesia siap menjadi pusat inovasi, manufaktur, dan pertumbuhan industri tekstil global," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa menilai konferensi ini menjadi momentum penting bagi pelaku industri tekstil dan fesyen global untuk berkolaborasi, berbagi inovasi, dan memperkuat sinergi dengan kebijakan pemerintah.

"Kami mengapresiasi dukungan pemerintah yang terus menghadirkan kebijakan protektif dan pro-industri. Dengan fondasi regulasi yang kuat, industri tekstil Indonesia akan semakin siap menghadapi persaingan global," ujarnya.

Editor: Gokli