Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pecahkan Rekor Muri, BI Kepri dan Hotel Santika Masak 1.118 Porsi Ikan Asam Pedas Pakai Cabai Kering
Oleh : Aldy Daeng
Jumat | 24-10-2025 | 17:48 WIB
AR-BTD-4787-BI-Kepri.jpg Honda-Batam
Penghargaan Muri memasak 1.118 porsi ikan asam pedas menggunakan cabai kering. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau bersama Hotel Santika Batam berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan memasak 1.118 porsi ikan asam pedas ikan tongkol menggunakan cabai kering.

Kegiatan ini berlangsung dalam rangkaian acara Pekan Rasa Melayu yang digelar di Hotel Santika Batam, Jumat (24/10/2025).

Senior Customer Relation Manager MURI yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa rekor ini resmi tercatat dan memenuhi kategori kuliner massal yang dapat dihitung.

"Untuk rekor kuliner massal, syaratnya minimal seribu porsi dan makanan harus bisa dikonsumsi," jelasnya.

Ia menambahkan, setiap rekor kuliner yang tercatat di MURI biasanya menonjolkan keunikan khas daerah. Sebelumnya, beberapa kuliner khas Kepri seperti Luti Gendang dan ikan bilis juga pernah masuk dalam daftar rekor.

"Asam pedas khas Kepri ini menjadi yang pertama kali tercatat di Indonesia. Dari hasil perhitungan kami, jumlahnya bahkan mencapai 1.118 porsi," ujarnya.

Makanan Kesukaan Amsakar Achmad

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, turut hadir dan mencicipi hidangan tersebut. Ia mengaku ikan asam pedas merupakan makanan favoritnya sejak kecil.

"Saya kalau pulang kampung (Lingga)selalu makan asam pedas buatan mak ndak (bibi) saya, apalagi kalau pakai ikan kakap. Di Batam, kalau seminggu tak makan asam pedas, pasti saya cari," katanya sambil tersenyum memberi isyarat jempol.

Ia mengapresiasi acara yang digelar yang beriringan dengan hari ulang tahun Hotel Santika itu, sebab membumikan kuliner khas melayu yang menurutnya spesial.

"Mudah mudahan even ini semakin menegaskan wisata kepri di Indonesia," katanya pria kelahiran 1 Agustus 1968 itu.

Dorong Pemanfaatan Produk Lokal dan Stabilitas Harga Melalui Cabai Kering

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, menyebut terselenggaranya kegiatan ini berkat kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan produk lokal sebagai bahan baku utama dalam kegiatan ekonomi daerah.

Ia menjelaskan, kondisi geografis Kepri yang kaya akan hasil laut namun memiliki keterbatasan dalam produksi bahan pangan menjadikan kolaborasi dengan penggunaan cabai kering sebagai strategi yang tepat.

"Bumbu cabai merupakan bahan utama dalam masakan Indonesia. Karena itu, penting untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga cabai di pasaran," ujarnya menjelaskan.

Cabai kering, lanjut Ardhienus, menjadi salah satu solusi untuk menjaga kestabilan harga cabai segar. Melalui kegiatan ini juga dibuktikan bahwa cabai kering tidak kalah lezat jika diolah dengan baik dan tepat.

Ia menambahkan, ekonomi Kepri tumbuh tertinggi ketiga di Sumatera pada triwulan ketiga tahun ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dengan melibatkan pelaku usaha dan masyarakat berbasis potensi lokal.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan ekonomi daerah sekaligus menjaga kestabilan inflasi.

"Diharapkan, event seperti ini dapat dicatat secara nasional karena berbasis potensi lokal dan berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi kerakyatan," tutup Ardhienus.

Editor: Yudha