Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Industri Nasional Melesat, 9 Kawasan Baru, Investasi Tembus Rp 827 Triliun
Oleh : Redaksi
Rabu | 22-10-2025 | 08:48 WIB
Agus-Menperin3.jpg Honda-Batam
Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pembangunan kawasan industri di Indonesia terus menunjukkan akselerasi kuat sepanjang 2025. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan, dalam satu tahun terakhir pemerintah berhasil menambah sembilan kawasan industri baru di berbagai daerah, menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap sektor manufaktur nasional.

"Pertumbuhan kawasan industri menjadi bukti nyata bahwa Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi manufaktur di kawasan Asia. Sembilan kawasan baru ini memperkuat ekosistem industri dalam negeri yang sudah ada," ujar Menperin Agus di Jakarta, Selasa (21/10/2025).

Kesembilan kawasan industri tersebut mencakup IPIP Sulawesi Tengah, I-Sentra Jawa Timur, Huadi Bantaeng Industrial Park Sulawesi Selatan, Kawasan Industri Cikembar II Jawa Barat, Losarang, Purwakarta Integrated Industrial Park, Pulau Penebang Kalimantan Barat, Seafer Jawa Tengah, dan Tembesi Kalimantan Barat.

Penambahan kawasan ini menambah luas lahan industri sebesar 4.468,68 hektare (naik 4,81%) dan jumlah tenant sebanyak 132 perusahaan (naik 1,12%). Secara langsung, ekspansi tersebut turut mendongkrak investasi industri hingga Rp571,58 triliun atau naik 9,26% serta menciptakan 310.000 lapangan kerja baru, meningkat 15% dibanding tahun lalu.

Selain perluasan kawasan, Kemenperin juga memperkuat akses pasar global bagi produk manufaktur melalui kerja sama internasional, termasuk keikutsertaan Indonesia dalam BRICS, Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership (ICA-CEP), dan Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership (IPE-CEP).

"Kerja sama ini memperluas peluang ekspor dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global," jelas Agus.

Untuk mendukung daya saing industri kecil dan menengah (IKM), pemerintah meluncurkan program Kredit Industri Padat Karya (KIPK) dengan plafon pembiayaan Rp 500 juta hingga Rp 10 miliar, bunga subsidi 5%, dan tenor hingga 8 tahun. Hingga Oktober 2025, telah disalurkan Rp 754 miliar melalui 13 lembaga penyalur kepada 357 debitur.

Kemenperin juga menerbitkan Permenperin Nomor 37 Tahun 2025 tentang Standar Kegiatan Usaha Berbasis Risiko untuk mempermudah investasi. Selain itu, 89 perusahaan di 116 lokasi telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional Industri (OVNI) guna menjamin keberlanjutan kegiatan strategis.

Berbagai insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan investment allowance turut mendorong investasi industri hingga Rp 827,8 triliun pada periode Oktober 2024 - Oktober 2025, tumbuh 6,44% dari tahun sebelumnya.

Dalam menjaga keberlanjutan industri nasional, pemerintah juga menerapkan trade remedies, seperti Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) terhadap 5 produk impor dan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap 7 produk impor. "Kebijakan ini penting agar keseimbangan antara kebutuhan pasar dan keberlangsungan industri nasional tetap terjaga," ujar Menperin.

Dari sisi inovasi dan standardisasi, Kemenperin mencatat 5.113 Standar Nasional Indonesia (SNI) aktif di sektor industri, dengan tambahan 88 rancangan standar baru dan 72 Standar Industri Hijau (SIH). Upaya ini berkontribusi pada penurunan emisi karbon sebesar 7,2 juta ton CO2e pada 2024.

Transformasi digital industri juga menunjukkan kemajuan pesat: 100 perusahaan telah meraih predikat Champion INDI 4.0, 29 perusahaan berstatus National Lighthouse, dan dua perusahaan sudah mencapai Global Lighthouse.

Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, Kemenperin telah menghasilkan 4.595 lulusan SMK industri, 2.644 lulusan politeknik, serta 2.587 peserta pelatihan vokasi dan 713 pemegang sertifikasi internasional. Program kelas internasional dan magang luar negeri di Jepang dan Tiongkok juga terus diperluas untuk mencetak SDM industri berdaya saing global.

"Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, industri kita tetap tangguh dan menjadi motor utama pertumbuhan nasional. Capaian ini hasil kerja keras bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan," tegas Menperin.

Agus optimistis, dengan dukungan kebijakan adaptif, sinergi lintas sektor, dan semangat inovasi berkelanjutan, industri Indonesia akan semakin mandiri, tangguh, dan berdaya saing global.

Editor: Gokli