Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Siap Geser Posisi Dunia, Ekonomi Syariah Jadi Motor Menuju Indonesia Emas 2045
Oleh : Redaksi
Jumat | 10-10-2025 | 14:08 WIB
ISEF-2025.jpg Honda-Batam
Menko Airlangga Hartarto, saat membuka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025 di Jakarta, Rabu (8/10/2025). (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan komitmen pemerintah memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan potensi besar di berbagai sektor halal, Indonesia kini menempati peringkat ketiga dunia dalam ekonomi syariah global dan berpeluang menyalip dua negara teratas dalam waktu dekat.

Dalam Pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025 di Jakarta, Rabu (8/10/2025), Airlangga menyampaikan ekonomi syariah telah menjadi salah satu sektor strategis dalam pembangunan nasional. Indonesia mencatat kemajuan pesat dengan posisi ketiga dunia berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report.

Kekuatan utama ekonomi syariah Indonesia berada pada modest fashion, pariwisata ramah muslim, serta industri farmasi dan kosmetik halal. Namun, masih terdapat ruang luas untuk memperkuat sektor makanan halal, keuangan syariah, dan media serta rekreasi islami.

"Di sektor pakaian, kebutuhan masyarakat terhadap busana muslim mencapai sekitar USD20 miliar atau Rp 289 triliun. Sementara di sektor makanan dan minuman, Indonesia adalah satu-satunya negara yang menerapkan syariah full compliance, sehingga nilai industri ini mencapai USD 109 miliar atau sekitar Rp 1.000 triliun. Jika kita terus memperkuat kepatuhan syariah, bukan tidak mungkin Indonesia naik ke peringkat pertama dunia," ujar Airlangga.

Ekonomi Syariah Tumbuh Pesat di Dalam Negeri

Menurut Airlangga, kontribusi ekonomi syariah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus meningkat. Produk halal tersertifikasi melonjak pesat, ekspor produk halal makin kompetitif, dan aset keuangan syariah tumbuh konsisten hingga lebih dari Rp 10 ribu triliun pada 2025.

"Pemerintah menempatkan ekonomi syariah sebagai prioritas nasional dalam RPJPN 2025-2045. Fokus kami memperkuat peran keuangan syariah, mengoptimalkan dana sosial syariah untuk pengentasan kemiskinan, memperkuat industri halal dan UMKM, serta membangun regulasi dan kelembagaan yang kokoh," jelasnya.

Strategi: Pembiayaan Inovatif, Literasi, dan Digitalisasi
Untuk memperkuat ekosistem keuangan syariah dan industri halal, Airlangga memaparkan tiga strategi utama:

  1. Memperluas akses pembiayaan syariah melalui skema inovatif seperti KUR Syariah dan Bullion Bank.
    Penyaluran KUR Syariah selama 2015-2025 telah mencapai Rp 75 triliun untuk 1,3 juta debitur, sedangkan Bullion Bank yang diluncurkan pada Februari 2025 telah merealisasikan 45 ton emas yang terintegrasi dengan instrumen sosial seperti wakaf produktif.
    “Potensi emas dari tambang nasional mencapai hampir 110 ton per tahun. Ini bisa menjadi dasar penguatan ekonomi syariah dan penting untuk disimpan di pesantren sebagai aset tahan resesi (recession proof),” papar Airlangga.
  2. Meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah melalui Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) agar akses keuangan syariah menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
  3. Mendorong digitalisasi dengan integrasi sistem SIHALAL, yang telah menerbitkan 5,9 juta sertifikat halal dari target 10 juta pada 2025. Transformasi digital juga dilakukan melalui platform wakaf digital dan e-commerce halal untuk memperluas pasar global bagi produk lokal.

“Dengan sinergi antara pembiayaan, literasi, dan digitalisasi, kita bisa membangun ekosistem ekonomi syariah yang kokoh, inklusif, dan berdaya saing tinggi,” tegas Airlangga.

Dorong Inovasi dan Kemandirian Nasional

Pemerintah juga menggandeng seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk memperkuat fondasi ekonomi syariah, di antaranya melalui Pusat Informasi Terpadu Zakat, Infak, dan Sedekah, serta perluasan fitur Sukuk Bank Indonesia (SUK-BI) bagi investor nonbank dan nonresiden.

Selain itu, pemerintah telah memfasilitasi pembentukan empat Kawasan Industri Halal (KIH) di Jababeka Cikarang, Serang, Bintan, dan Sidoarjo, serta pendirian Indonesia Islamic Financial Center (IIFC).

"Ekonomi syariah bukan sekadar urusan halal dan haram, tetapi jalan menuju pembangunan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan semangat optimis dan waspada, mari kita jadikan ekonomi syariah motor penggerak menuju Visi Indonesia Emas 2045," pungkas Airlangga.

Acara ISEF 2025 turut dihadiri oleh Anggota Komisi XI DPR RI, Gubernur Bank Indonesia, Anggota Dewan Komisioner OJK, Wakil Ketua MUI, serta perwakilan negara sahabat, yang menunjukkan dukungan lintas lembaga terhadap penguatan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia.

Editor: Gokli