Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Dorong Pengelolaan Perikanan Pelagis Kecil Berbasis Data Digital di Forum APEC
Oleh : Redaksi
Selasa | 30-09-2025 | 12:08 WIB
Sekjen-KKP.jpg Honda-Batam
Sekretaris Jenderal KKP, Komjen Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho, dalam APEC Workshop on Promoting Decision Support System (DSS) Using Digital Data to Support Small Pelagic Fisheries Management yang berlangsung di Jakarta, 23-25 September 2025. (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan komitmen menjaga keberlanjutan perikanan pelagis kecil melalui penguatan kebijakan berbasis data digital.

Hal itu disampaikan dalam APEC Workshop on Promoting Decision Support System (DSS) Using Digital Data to Support Small Pelagic Fisheries Management yang berlangsung di Jakarta, 23-25 September 2025.

Sekretaris Jenderal KKP, Komjen Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho, menekankan forum ini menjadi ruang penting bagi negara-negara anggota APEC untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kerja sama dalam pengelolaan perikanan.

"Pertemuan ini menjadi wadah penting untuk berbagi pengalaman, menyelaraskan pendekatan, serta memperkuat komitmen bersama dalam membangun kebijakan perikanan yang berkelanjutan, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi," ujar Rudy dalam siaran resmi, Kamis (25/9/2025).

Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan KKP, Mahrus, menambahkan ikan pelagis kecil seperti sarden, kembung, dan tongkol memiliki peran vital bagi ketahanan pangan serta mata pencaharian jutaan nelayan di Asia Pasifik. Menurutnya, produksi pelagis kecil di Indonesia pada 2024 mencapai 2,2 juta ton dengan nilai sekitar Rp 43 triliun.

Namun, ia mengingatkan bahwa stok ikan pelagis rentan terhadap penangkapan berlebih (overfishing) dan perubahan lingkungan. Karena itu, pengelolaan berbasis data digital dipandang sebagai langkah strategis.

"Sejak 2012, KKP telah mengembangkan Decision Support System (DSS) dan sistem pendataan terintegrasi. Hampir seluruh proses bisnis perikanan tangkap kini terdigitalisasi. Interkoneksi data sistem informasi mempercepat akselerasi penerapan kebijakan perikanan tangkap yang sangat dibutuhkan dalam tata kelola perikanan tangkap," jelas Mahrus.

Workshop ini merupakan inisiatif Indonesia dengan dukungan tujuh ekonomi APEC, antara lain Kanada, Chile, Selandia Baru, Peru, Chinese Taipei, Amerika Serikat, dan Thailand. Kegiatan ini juga menghadirkan pakar internasional dari University of Rhode Island, James Cook University, IPB University, dan Universitas Halu Oleo, serta didukung penuh APEC dengan dana proyek senilai USD 150 ribu.

Selain memperkenalkan DSS, Indonesia juga mempromosikan lima pilar ekonomi biru, yakni perluasan kawasan konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan akuakultur berkelanjutan, perlindungan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pengentasan sampah plastik di laut.

Melalui forum ini, Indonesia berharap dapat memperkuat peran strategisnya di Asia Pasifik sekaligus memastikan perikanan pelagis kecil tetap menjadi sumber pangan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Editor: Gokli