Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Transaksi Digital BRI Capai 99,1 Persen, AgenBRILink Tembus Rp 1.145 Triliun
Oleh : Irawan
Minggu | 28-09-2025 | 13:33 WIB
BRI_Link.jpg Honda-Batam
Ilustrasi (Foto: istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat layanan digital banking telah mendominasi 99,1 persen dari total transaksi. Kurang dari satu persen sisanya masih dilakukan di outlet konvensional.

Corporate Secretary BRI Dhanny menyebut, optimalisasi jaringan e-channel maupun layanan digital menjadi fondasi penting dalam memperkokoh peran BRI.

"Seluruh kanal yang ada menjadi pilihan utama nasabah dalam bertransaksi dengan mudah, cepat, dan aman," katanya dikutip di Jakarta Minggu (28/9/2025).

Ekosistem digital BRI mencakup ATM, CRM, BRILink, Internet Banking, dan superapp BRImo. Kanal-kanal tersebut saling melengkapi untuk menghadirkan akses merata, baik di perkotaan maupun di pelosok desa.

Hingga Agustus 2025, jumlah AgenBRILink menembus lebih dari 1 juta agen di 66.691 desa, setara 80,96 persen dari total desa di Indonesia.

Volume transaksi melalui agen ini mencapai Rp 1.145,22 triliun dengan total lebih dari 734 juta transaksi.

Sementara itu, pengguna aplikasi BRImo tumbuh 20,35 persen secara tahunan menjadi 43,9 juta. Nilai transaksi BRImo naik 25,05 persen menjadi Rp 4.436,49 triliun dengan jumlah transaksi mencapai 3,51 miliar.

Dilengkapi lebih dari 100 fitur, superapp BRImo memudahkan nasabah mengakses berbagai layanan dalam satu genggaman.

Mulai dari isi saldo Brizzi, top up e-wallet, hingga pembayaran tagihan listrik, air, dan internet melalui Briva.

"Ke depan, BRI pun akan terus memperkuat ekosistem digital agar semakin relevan sebagai solusi menjawab kebutuhan transaksi masyarakat," ujar Dhanny.

Sementara itu, Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN mencabut keterangan ihwal rencana kenaikan bunga deposito dolar AS menjadi 4 persen dari situs resmi mereka.

Pengumuman serentak pada 24 September lalu kini tidak lagi dapat diakses, dan hingga Ahad (28/9/2025) belum ada konfirmasi lanjutan dari Himpunan Bank Negara (Himbara).

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak pernah menginstruksikan perbankan menaikkan bunga deposito dolar. Dia menyebut, isu itu hanya kesalahpahaman pasar.

Ekonom Yanuar Rizky menilai, langkah Himbara yang serentak menaikkan bunga valas justru membebani sistem keuangan nasional.

Menurut dia, dinaikkan ke 4 persen juga masih di bawah bunga komersial di perbankan luar negeri, yang menunjukkan kebijakan populisme BI dan Menkeu Purbaya berbiaya mahal.

"Dengan volatilitas rupiah atas US dolar per tahun 6,48 persen dan deposito rupiah populis diturunkan bunganya melalui counter cyclical BI menurunkan BI rate, maka pengalihan rupiah ke USD adalah fakta," kata Yanuar kepada Republika.

Menurut dia, kebijakan itu sulit menarik dana asing kembali ke Tanah Air karena masalah utama ada pada persepsi pasar.

"Kalau bunga yang dijadikan daya tarik, maka bunganya relatif sama, akan sulit untuk memindahkan balik ke Indonesia, karena ada juga sisi global channelling. Jadi, aspek trust itu yang utama," ucap Yanuar.

Dia menilai, pasar merespons negatif langkah serentak bank pelat merah tersebut. Pasar, lanjutnya, juga melihat Menkeu Purbaya terlalu masuk ke ranah otoritas moneter, dan BI dalam posisi lemah karena bersikap populis mengikuti pemerintah.

"Ini yang direspons pasar di saat global tak pasti, Indonesia malah ke arah menantang pasar dengan retorika," kata Yanuar.

Editor: Surya