Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

SKK Migas Gelar Energy Meet Up di Batam, Yanin: Migas Bukan Hanya Energi, Tapi Penggerak Ekonomi Daerah
Oleh : Aldy Daeng
Jum\'at | 19-09-2025 | 15:08 WIB
AR-BTD-4697-SKK-Migas.jpg Honda-Batam
Yanin Kholison, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut (tengah); Kemal Abduhrahman Massi, Manajer Field Relation KKKS Medco E&P Natuna (kanan); Andri Kristianto, Community Investmen Manager Harbour Energy (kiri). (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menggelar Energy Meet Up di Kota Batam, Kepulauan Riau, Jumat (19/9/2025).

Acara ini menjadi wadah literasi, dialog, dan peningkatan kapasitas bagi insan pers, sekaligus forum untuk memperkuat pemahaman publik mengenai industri hulu migas.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi SKK Migas Sumbagut dengan sejumlah KKKS yang beroperasi di wilayah Kepri, di antaranya Medco E&P Natuna Ltd, Harbour Energy Indonesia, Star Energy (Kakap) Ltd, KUFPEC Indonesia (Anambas) B V, West Natuna Exploration Ltd, Prima Energy Northwest Natuna, serta Pertamina East Natuna. Batam menjadi lokasi pertama dari rangkaian kunjungan SKK Migas Sumbagut ke lima provinsi di Sumatra.

Mengusung tema 'Multiplier Effect Hulu Migas', acara ini menekankan peran migas tidak hanya sebagai penyumbang penerimaan negara, tetapi juga motor penggerak pembangunan sosial dan ekonomi.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, Yanin Kholison, menjelaskan dampak berganda (multiplier effect) industri migas hadir dalam banyak bentuk yang langsung dirasakan masyarakat.

"Industri hulu migas bukan hanya soal energi. Lebih dari itu, migas menggerakkan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, memberdayakan masyarakat, dan memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah serta pelaku usaha lokal," ungkap Yanin.

Secara nasional, kontribusi sektor hulu migas pada 2023 mencapai lebih dari Rp114 triliun terhadap penerimaan negara. Selain itu, ribuan tenaga kerja lokal terserap, UMKM tumbuh di sekitar wilayah operasi, dan pasokan gas bumi menopang kebutuhan listrik PLN di berbagai daerah.

Di wilayah kerja Sumbagut yang meliputi Aceh, Riau, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Kepulauan Riau, manfaat migas semakin terasa. Pada 2024, lifting minyak dari wilayah ini mencapai 183.000 barel per hari atau sekitar 31,7 persen dari produksi nasional, dengan target naik menjadi 193.000 barel per hari pada 2025. Blok Rokan di Riau bahkan tercatat sebagai penopang utama produksi nasional dengan penerimaan USD 5,97 miliar pada 2023, atau 67 persen dari total penerimaan KKKS di Sumbagut.

Selain penerimaan negara, multiplier effect juga tampak melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang disalurkan ke daerah penghasil untuk membiayai pembangunan infrastruktur, layanan publik, hingga sektor pendidikan. Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) turut memperkuat manfaat migas dengan memberikan beasiswa, pelatihan kerja, serta dukungan bagi UMKM lokal.

"Harapan kami, manfaat dari multiplier effect migas ini bisa semakin dirasakan oleh masyarakat luas. Migas adalah milik bangsa, dan hasilnya harus memberi kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat," tutup Yanin Kholison.

Editor: Gokli