Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ajak Perkuat Persatuan Bangsa, Bamsoet Ingatkan Aksi Kerusuhan Kemarin Sebagai Pelajaran Berharga
Oleh : Irawan
Jumat | 12-09-2025 | 19:08 WIB
Bamsoet_FKPPI.jpg Honda-Batam
antan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Mantan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan bahwa aksi unjuk rasa yang pecah pada akhir Agustus lalu dan berujung pada pengrusakan serta penjarahan, harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia.

Menurutnya, kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi tidak boleh dicederai dengan tindak anarkis yang justru merugikan masyarakat luas.

"Demokrasi memberikan ruang bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Namun bukan berarti memberikan pembenaran untuk mencederai ketertiban sosial. Kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan kekacauan. Demikian juga kepada pejabat negara, agar bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversi," ujar Bamsoet saat menghadiri Diskusi Kebangsaan HUT FKPPI ke-47 di Jakarta, Jumat (12/9/25).

Hadir antara lain Ketum FKPPI Pontjo Sutowo, Waketum FKPPI Indra Bambang Utoyo, Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan, Mayjen TNI (Purn) I Dewa Putu Rai serta mantan Gubernur Lemhanas Andi Widjajanto.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini memaparkan, aksi unjuk rasa akhir Agustus lalu membuka tiga pelajaran penting.

Pertama, pemerintah harus memperkuat komunikasi publik agar ketidakpuasan tidak meluap di jalanan dengan cara destruktif.

Kedua, aparat keamanan perlu menjaga keseimbangan antara ketegasan hukum dan pendekatan humanis, sehingga unjuk rasa tetap dalam koridor damai.

Ketiga, Kita semua mesti lebih dewasa dalam menyalurkan aspirasi, karena kekerasan hanya akan merugikan rakyat Kita sendiri.

"Kita harus belajar bahwa unjuk rasa bukanlah akhir dari dialog, melainkan bagian dari proses demokrasi. Namun jika jalannya salah, demokrasi bisa berubah menjadi anarki. Karena itu, semua pihak, baik pemerintah, aparat, DPR maupun masyarakat, harus mengedepankan musyawarah, mendengar, dan mencari solusi bersama," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini mengingatkan, di tengah pusaran perubahan global yang kian dinamis, bangsa Indonesia kini diuji dengan ancaman yang jauh lebih kompleks.

Mulai dari konflik geopolitik, krisis iklim, disrupsi teknologi, hingga perang siber dan disinformasi yang merambah ruang digital masyarakat.

Laporan Global Risks Report 2025 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia menempatkan konflik geopolitik, disrupsi teknologi, dan krisis iklim sebagai tiga ancaman teratas dalam beberapa tahun mendatang.

Dampaknya sudah dirasakan masyarakat Indonesia dalam bentuk harga pangan yang naik akibat gangguan rantai pasok global, ketidakpastian energi, serangan siber, hingga potensi migrasi iklim di kawasan Asia Tenggara.

"Ancaman global adalah kenyataan yang memaksa kita harus berbenah. Persatuan tidak boleh hanya menjadi simbol, melainkan harus diwujudkan dalam kesiapan menghadapi segala bentuk ancaman global. Kita harus membentengi kebhinekaan dengan kemampuan, merawat persatuan dengan kebijakan yang berwibawa serta menjaga kedaulatan informasi dengan literasi yang luas,” urai Bamsoet.

Editor: Surya