Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menkes Targetkan Seluruh Provinsi Bisa Lakukan Operasi Jantung Terbuka di 2026
Oleh : Redaksi
Sabtu | 06-09-2025 | 11:48 WIB
ojt-makassar.jpg Honda-Batam
Menkes Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers Kegiatan Alih Iptek Bedah Jantung RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo bersama King Salman Humanitarian Aid and Relief Center, Selasa (2/9/2025) di Makassar. (Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Makassar - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan layanan operasi jantung terbuka di Indonesia terus berkembang pesat. Jika pada awal masa jabatannya layanan ini hanya tersedia di 9 provinsi, kini sudah bisa dilakukan di 27 provinsi.

"Sekarang sudah 27 provinsi bisa melakukan bedah jantung terbuka," ujar Budi dalam konferensi pers Kegiatan Alih Iptek Bedah Jantung RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo bersama King Salman Humanitarian Aid and Relief Center, Selasa (2/9/2025) di Makassar.

Budi menargetkan pada akhir 2026, seluruh provinsi di Indonesia memiliki fasilitas operasi jantung terbuka. "Mudah-mudahan akhir tahun depan, semua 34 provinsi mampu melakukan pembedahan jantung terbuka," katanya.

Ia menjelaskan, ada tiga prosedur utama yang harus dikuasai tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan daerah, yaitu penggantian atau perbaikan katup, operasi bypass (CABG), dan pembedahan pediatrik. Pemerataan layanan ini diharapkan mengurangi kebutuhan pasien untuk bepergian jauh demi mendapatkan tindakan penyelamatan jiwa.

Selain itu, Budi mendorong peningkatan kompetensi rumah sakit agar mampu menangani prosedur yang lebih kompleks. "Harapannya ke depan bukan hanya bypass atau penggantian katup, tetapi juga Tetralogy of Fallot, hingga prosedur kompleks seperti Norwood atau Fontan," jelasnya.

Direktur Utama RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo, Prof dr Syafri Kamsul Arif, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pemerataan layanan operasi jantung bukan hanya menyelamatkan banyak pasien, tetapi juga memperkuat pengembangan teknologi dan keterampilan tenaga medis.

"Program ini bermanfaat besar, baik untuk pasien jantung anak maupun dewasa, sekaligus bagi pengembangan teknologi serta kompetensi tenaga medis. Kolaborasi internasional memberi kami eksposur signifikan pada teknik operatif, kardiologi intervensi, pediatri, hingga pembedahan dewasa," ungkap Syafri.

Ia menambahkan, operasi bersama tim King Salman Humanitarian Aid and Relief Center di RS Wahidin berjalan sukses dan menjadi sarana transfer pengetahuan berharga. "Alhamdulillah sukses, ini sangat berarti sebagai transfer skill dan knowledge bagi kami. Operasi berikutnya juga direncanakan di RS Wahidin," tuturnya.

Syafri juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk donasi peralatan medis berteknologi tinggi. Menurutnya, semakin kuat layanan bedah jantung di RS Wahidin, semakin banyak pasien dari kawasan timur Indonesia yang bisa ditangani tanpa harus dirujuk ke Jakarta.

Editor: Gokli