Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Frambusia, Penyakit Tropis yang Masih Mengancam Kesehatan Anak
Oleh : Harjo
Sabtu | 23-08-2025 | 11:28 WIB
frambusia-anak.jpg Honda-Batam
Frambusia, penyakit yang disebabkan bakteri Treponema pertenue, paling banyak menyerang anak-anak berusia di bawah 15 tahun. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Frambusia, penyakit yang disebabkan bakteri Treponema pertenue, masih menjadi perhatian serius di sejumlah negara tropis, termasuk Indonesia. Meski kasusnya menurun, penyakit ini berpotensi menimbulkan kecacatan permanen terutama pada anak-anak jika tidak ditangani sejak dini.

Frambusia merupakan infeksi kronis yang menyerang kulit, tulang, dan sendi. Penyakit ini sangat menular melalui kontak langsung dengan kulit penderita, terutama bila terdapat luka terbuka. Lingkungan dengan sanitasi buruk menjadi faktor utama penyebaran.

"Frambusia adalah penyakit menular yang bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Namun bila terabaikan, infeksi dapat merusak jaringan tubuh bahkan menyebabkan cacat seumur hidup," jelas dr Retno Riswati, Kepala Dinas Kesehatan Bintan, Rabu (20/8/2025).

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, Frambusia paling banyak menyerang anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Penyakit ini ditandai dengan munculnya luka pada kulit yang awalnya kecil, kemudian membesar, serta dapat menimbulkan rasa sakit di tulang dan sendi.

Pencegahan menjadi kunci untuk menekan angka penularan Frambusia. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,
  • Menjaga kebersihan lingkungan,
  • Menghindari kontak langsung dengan penderita,
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala mirip Frambusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan eliminasi Frambusia secara global, termasuk di Indonesia. Upaya ini dilakukan melalui surveilans aktif, edukasi masyarakat, dan pengobatan massal di wilayah endemis.

"Kuncinya ada di kesadaran masyarakat. Jika pola hidup bersih diterapkan dan masyarakat segera melapor saat ada gejala, Frambusia bisa benar-benar dieliminasi," tambah Retno.

Dengan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan Frambusia tidak lagi menjadi ancaman kesehatan di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

Editor: Gokli