Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Industri Permesinan Tumbuh Hampir 19 Persen, Jadi Penopang Utama Sektor ILMATE
Oleh : Redaksi
Rabu | 13-08-2025 | 10:08 WIB
FGD-ILMATE.jpg Honda-Batam
Focus Group Discussion Industrial Research and Development di Bandung, Selasa (12/8/2025). (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Bandung - Industri mesin dan perlengkapannya mencatat lonjakan pertumbuhan 18,75 persen pada triwulan II 2025, tertinggi sejak 2012. Capaian tersebut menjadikan subsektor ini sebagai penopang utama pertumbuhan industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE) yang secara keseluruhan naik 5,19 persen secara tahunan (year-on-year).

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Ditjen ILMATE Kementerian Perindustrian, Solehan, menyebutkan peningkatan signifikan ini tidak lepas dari lonjakan belanja modal pemerintah sebesar 30,37 persen. "Kenaikan belanja modal ini berdampak langsung pada peningkatan produksi dan investasi. Kami optimistis pertumbuhan sektor manufaktur bisa lebih tinggi lagi jika kebijakan yang pro-industri terus dijalankan," ujarnya dalam Focus Group Discussion Industrial Research and Development di Bandung, Selasa (12/8/2025), dalam siaran pers Kemenperin.

Solehan menegaskan, penguasaan teknologi industri menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan visi Indonesia masuk 10 besar ekonomi dunia. Transformasi menuju digitalisasi dan otomatisasi, menurutnya, tidak dapat ditunda. "Strategi ini harus diiringi penguatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur digital, serta inovasi berkelanjutan," jelasnya.

Pemerintah, lanjutnya, juga mempercepat kemandirian produksi mesin dan peralatan industri dengan menggandeng pelaku industri dan lembaga riset. Upaya ini di antaranya diwujudkan melalui pembentukan Indonesia Manufacturing Center (IMC) sebagai pusat kolaborasi industri, akademisi, dan lembaga litbang.

"IMC bertujuan mempercepat hilirisasi teknologi dan menghasilkan produk permesinan sesuai tren dan kebutuhan nasional," kata Solehan.

Pengawas Alat dan Mesin Pertanian Madya BRMP Kementerian Pertanian, Harsono, menambahkan adopsi teknologi di sektor pertanian mampu meningkatkan produktivitas 30-50 persen, menghemat tenaga kerja, serta memperbaiki kualitas hasil panen. "Alsintan dan teknologi modern adalah kunci percepatan transformasi pertanian. Jika seluruh pemangku kepentingan bersinergi, visi pertanian Indonesia yang produktif dan berdaya saing global dapat terwujud," ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Robot Industri Indonesia (ASRII), Malik Khidir, juga menekankan pentingnya pengembangan ekosistem inovasi, khususnya di bidang otomasi dan robotik. "Kita perlu membangun ekosistem yang tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga mampu mengkomersialisasikan inovasi menjadi produk yang bermanfaat," katanya.

FGD ini turut dihadiri PT Kubota Indonesia yang telah mengekspor produk mesin diesel ke tujuh negara, termasuk Australia dan Afrika Selatan. Acara mendapat sambutan positif dari pelaku industri dan akademisi yang berharap IMC segera beroperasi untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional.

Editor: Gokli