Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Resmikan Pabrik PT STANIA di Kabil, Hashim Optimis Industri Hilirisasi di Kepri Makin Maju
Oleh : Aldy Daeng
Kamis | 10-07-2025 | 19:11 WIB
AR-BTD-5633-Pabrik-Solder.jpg Honda-Batam
Komisaris Utama Arsari Tambang, Hashim S. Djojohadikusumo Optimistis Industri Hilirisasi di Kepri Makin Maju. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Batam - Komisaris Utama Arsari Tambang, Hashim S. Djojohadikusumo, menyatakan optimisme tinggi terhadap masa depan industri hilirisasi di Kepulauan Riau. Keyakinan itu disampaikan disela-sela peresmian pabrik PT Solder Tin Andalas Indonesia (STANIA), di Kawasan Industri Tunas Prima, Kabil, Batam. Kamis (10/7/2025).

Pabrik solder ramah lingkungan pertama di Indonesia ini berdiri di atas lahan seluas 6.500 meter persegi. Pada tahap awal, STANIA ditargetkan mampu memproduksi 2.000 ton solder batangan per tahun, dan akan dikembangkan hingga 16.000 ton per tahun, mencakup produk solder wire, powder, dan paste. Total pendapatan diproyeksikan mencapai Rp1 triliun per tahun.

Ia juga membandingkan dengan proyek-proyek besar sebelumnya seperti pabrik semen di Cibinong dan Cilacap, serta proyek petrokimia di Tuban. "Secara nilai, ini investasi kecil. Tapi secara kebanggaan, ini salah satu proyek terbesar yang pernah saya jalankan," ujar Hashim.

Investasi awal STANIA mencapai Rp400 miliar dan akan meningkat seiring pertumbuhan permintaan pasar. Tak hanya menonjol dari sisi bisnis, pabrik ini juga mengusung prinsip keberlanjutan. Seluruh proses produksinya ditenagai oleh Energi Baru Terbarukan (EBT) milik PLN yang bersertifikat Renewable Energy Certificate (REC), serta memanfaatkan pencahayaan alami demi efisiensi energi.

"Melalui teknologi ramah lingkungan dan kerja sama strategis, kami ingin buktikan bahwa industri tambang bisa menjadi pelopor keberlanjutan," tegas Hashim.

Ia juga mengapresiasi iklim investasi di Batam yang dinilai lebih cepat dan efisien dibandingkan daerah lain. Hal ini dikontraskan dengan pengalaman pembangunan pabrik karet remah di Aceh Barat, yang sempat terkendala birokrasi dan minim dukungan.

"Saya ingin buktikan bahwa kita bisa bangun industri nasional tanpa tergantung siapa yang berkuasa. Yang penting niatnya membangun," ujarnya.

Freeport Indonesia Dukung Hilirisasi, Pasok Perak dan Timbal

Disaat yang sama, STANIA juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Freeport Indonesia untuk pengadaan bahan baku utama berupa perak dan timbal.

Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyebut pihaknya akan memasok 10 ton perak dan 250 ton timbal per tahun untuk kebutuhan produksi solder di STANIA.

"Selama ini tidak semua perak dan timbal kami terserap di dalam negeri. Dengan adanya STANIA, kita punya peluang besar memperkuat rantai hilirisasi nasional. Ini harus terus kita dorong," ujar Tony.

Volume pasokan akan disesuaikan dengan kapasitas produksi STANIA yang berkembang secara bertahap. Harga bahan baku pun akan mengikuti harga pasar global, yang saat ini sekitar USD 30 per pon untuk perak.

Hashim menilai kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat kemandirian industri berbasis mineral di Indonesia, khususnya di Kepulauan Riau.

"STANIA adalah bukti bahwa Indonesia mampu bersaing secara global, menciptakan nilai tambah dari mineral dalam negeri, serta menghasilkan produk ekspor berdaya saing," kata Hashim.

Hashim menambahkan, STANIA siap menambah hingga delapan jalur produksi apabila pasar terus berkembang. "Kami mengajak seluruh pihak untuk bersinergi membangun industri hilirisasi nasional secara inklusif dan berkelanjutan," tutup Hashim.

Editor: Yudha