Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Batam Jadi Laboratorium Transisi Energi, Targetnya Kota Rendah Emisi 2028
Oleh : Aldy Daeng
Rabu | 25-06-2025 | 16:28 WIB
Ms-Lisa.jpg Honda-Batam
Lisa Tinschert, Director Energy Programme Indonesia/ASEAN (GIZ). (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - Batam resmi ditetapkan sebagai kota percontohan proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI). Dalam peluncuran proyek di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Lisa Tinschert, Director Energy Programme Indonesia/ASEAN (GIZ), menjelaskan alasan pemilihan Batam dan rencana aksi hingga 2028.

"Batam kami pilih karena kombinasi zona industri khusus, kedekatan dengan Singapura, lonjakan pusat data, dan komitmen pemerintah daerah. Semua itu menciptakan kebutuhan listrik besar sekaligus peluang memasukkan energi terbarukan," ujar Lisa, Rabu (25/6/2025).

Menurutnya, SETI --bagian dari International Climate Initiative (IKI) Pemerintah Jerman-- akan berfokus pada sisi permintaan energi: konservasi dan efisiensi di bangunan pemerintah, komersial, dan residensial. Surabaya menjadi kota pilot lain, sementara untuk Batam, GIZ melihat 'basis kolaborasi yang kuat' antara pemerintah kota, PLN, dan pelaku industri.

Empat agenda utama SETI di Batam

  1. Perencanaan energi terpadu
    Tim teknis GIZ akan membantu Pemkot Batam dan PLN menyusun rencana pasokan-permintaan, termasuk peta jalan penggabungan listrik dari energi terbarukan.
  2. Efisiensi bangunan
    "Bangunan menyumbang porsi signifikan emisi. Kami ingin gedung pemerintah dan swasta menerapkan standar manajemen energi serta desain ramah lingkungan," jelas Lisa.
    Targetnya, semakin banyak gedung yang memenuhi standar Green Building dan memasang panel surya atap (PV rooftop).
  3. Peningkatan kapasitas
    SETI menyediakan pelatihan manajemen energi untuk aparatur daerah dan teknisi PLN, sekaligus membuka jaringan pendanaan hijau bagi investor.
  4. Pemantauan emisi hingga 2028
    Proyek berjalan empat tahun ke depan dengan indikator: kenaikan porsi energi terbarukan di bauran listrik Batam, penurunan intensitas energi bangunan, dan pengurangan emisi CO2 dari sektor perkotaan.

Bantuan teknis, bukan hibah

Lisa menegaskan SETI membawa pendampingan teknis, studi, dan pelatihan, bukan dana hibah langsung. "Investasi fisik tetap datang dari pemerintah dan sektor swasta. Tugas kami memfasilitasi rancangan, kapasitas, dan koneksi pendanaan," tuturnya.

Ia menambahkan, mitra internasional dalam jaringan GIZ akan membantu pemerintah Batam menjajaki skema pembiayaan hijau, tetapi 'pinjaman atau grant berada di luar mandat teknis kami'.

Kontribusi bagi target nasional

Pemerintah Indonesia menargetkan bauran 23 % energi terbarukan pada 2025 dan net-zero emission pada 2060. "Jika Batam berhasil menekan emisi melalui efisiensi dan PLTS atap, kota ini bisa menjadi etalase nasional kota berketahanan iklim," pungkas Lisa.

Peluncuran SETI dihadiri perwakilan Kementerian ESDM, Pemerintah Kota Batam, PLN, pelaku industri, dan akademisi. Kolaborasi multi-pihak tersebut diharapkan mempercepat pengurangan emisi dan membuka peluang investasi hijau di koridor ekonomi Batam-Singapura.

Editor: Gokli