PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Tindakan Nyata untuk Benahi Dunia Pendidikan di Batam
Oleh : dodo
Senin | 08-10-2012 | 11:33 WIB
Udin.gif honda-batam
Udin P. Sihaloho, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Batam.

BATAM, batamtoday - Pendidikan dipandang sebagai pondasi dasar membangun masa depan. Dibutuhkan sebuah kebijakan dan langkah nyata untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, bukan hanya sekedar teori maupun wacana saja.


Itulah yang menjadi cara pandang seorang Udin Parsaoran Sihaloho, anggota DPRD Kota Batam dalam menyikapi persoalan pendidikan di Batam. 

"Dunia pendidikan di Batam ini laksana penyakit kanker stadium IV. Keluhan dan permasalahannya itu-itu saja dari tahun ke tahun dan tidak ada pencegahan maupun antisipasi dari pihak terkait," kata Udin dalam perbincangan dengan batamtoday, belum lama ini.

Permasalahan yang selalu menjadi keluhan setiap tahunnya dalam dunia pendidikan di Batam selalu sama, seperti carut marut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), gonjang-ganjing soal Lembar Kerja Siswa maupun pungutan terhadap orang tua siswa baru, disebutnya sebagai lagu lama dengan nada dasar sama yang terus ternyanyikan.

Sebagai orang yang menduduki jabatan wakil ketua di Komisi IV DPRD Batam, atensi politisi dari PDI Perjuangan ini terhadap dunia pendidikan di kota industri tersebut memang tinggi. Tak jarang, komentar kritis dan vokalnya dalam menyikapi pendidikan sering muncul darinya.

"Pendidikan merupakan hal yang penting dan tak bisa dipandang rendah, terutama di Batam, karena hal ini menyangkut nasib para tunas bangsa dan saya tak bisa cuek dengan keadaan ini," kata dia.

Menurut Udin, selain persoalan klasik tahunan, dunia pendidikan di Batam juga dihadapkan pada menurunnya rasa hormat murid terhadap guru. Saat ini, lanjutnya, banyak ditemukan murid-murid sekolah yang sudah berani 'melawan' kebijaksanaan dan aturan yang diterapkan guru melalui sekolah. Hal tersebut memunculkan keprihatinan tersendiri dari bapak dari Hany, Richa, Hans dan Dhiny ini.

Pada sisi lain, Udin juga menyoroti minimnya guru yang memiliki kompetensi memadai. Dari catatannya, pada tahun 2012 hanya sekitar 20 persen guru di Batam yang lulus Ujian Kompetensi Guru (UKG).

"Ini harus menjadi prioritas dari Dinas Pendidikan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik di Batam. Pendidik juga harus kreatif dan jangan hanya bergantung pada keberadaan LKS saja," kata dia.

Udin mengakui dirinya sangat mendukung penggunaan LKS, namun dengan catatan lembar kerja siswa tersebut dibuat langsung oleh guru yang bersangkutan. Selain menghemat biaya, kreativitas guru juga akan terdongkrak.

Kepedulian Udin terhadap dunia pendidikan bukan tanpa alasan. Pengalaman getirnya pada masa lalu, membuat dirinya harus memiliki sumbangsih terhadap dunia pendidikan.

"Saya sejak klas IV sekolah dasar harus membiayai sendiri. Saya harus memulung agar bisa sekolah di sebuah kota besar seperti Medan," ujar Udin dengan mata menerawang.

Udin menyebutkan perjuangan untuk bisa mengenyam pendidikan memang tidak mudah akibat keterbatasan orang tua. Dia harus berjalan kaki setiap hari sejauh 14 kilometer pergi pulang menuju sebuah sekolah yang bernama SD Swasta Methodist. Hal itu juga dia lakukan saat memasuki SMP yang sama dengan lokasi tak jauh dari tempat dirinya mengenyam pendidikan SD.

Memasuki sekolah menengah atas, Udin mendaftar di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Mayjen Sutoyo. Itupun dia lakukan dengan biaya sendiri dari uang yang didapatkannya secara halal.

"Saya tamat SMEA tahun 1991, tapi orang tua saya juga tak bisa membiayai untuk belajar ke perguruan tinggi," kata suami Holong R. Boru Sidabutar ini.

Berbekal kerja keras di Batam, Udin pun akhirnya bisa memasuki dunia perguruan tinggi dan berhasil menamatkan jenjang Strata 1 Hukum di Universitas Batam.

Bagi Udin, pendidikan menjadi kata kunci dalam menentukan masa depan seseorang maupun bangsa. Sehingga butuh tindakan nyata untuk mengelola dan membenahi pendidikan, bukan hanya sekedar teori ataupun wacana.

"Pendidikan adalah paspor menyambut masa depan. Hari esok adalah milik mereka yang hari ini menyiapkan pendidikan," kata Udin mengutip ungkapan dari tokoh kulit hitam, Malcolm X saat menutup perbincangannya.