Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Cerdas Menata Kota Kurangi Polusi
Oleh : dd/hc
Senin | 17-09-2012 | 08:51 WIB

BATAM, batamtoday - Mengelola pertumbuhan kota secara cerdas (smart growth) lebih efektif mengurangi kebutuhan transportasi dibanding strategi peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM).


Dengan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor, kota sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim dan pemanasan global.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian dua ilmuwan San Fransisco State University, Sudip Chattopadhyay dan Emily Taylor, yang diterbitkan dalam B.E. Journal of Economic Analysis and Policy, pekan lalu (11/9).

Strategi pertumbuhan yang cerdas (smart growth) berfokus pada pengembangan kota yang kompak dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki dengan cara mendekatkan fasilitas perumahan dan tempat kerja.

Semakin dekat jarak antara perumahan dan lokasi kerja, semakin besar pengurangan penggunaan energi dan emisi gas rumah kaca. Kota California di Amerika Serikat sudah menerapkan strategi “smart growth” ini guna mencapai target pengurangan emisi sesuai dengan Global Warming Solutions Act (AB 32).

Penelitian yang berbasis perilaku dan ekonomi ini juga menemukan, peningkatan fasilitas kota sesuai dengan strategi pertumbuhan cerdas sebesar 10% – yang mampu mengatur kepadatan perumahan, lapangan kerja per kapita dan infrastruktur transportasi publik – akan mengurangi jarak tempuh kendaraan pribadi oleh keluarga sebesar 20% per tahun.

Menurut Sudip Chattopadhyay, profesor di San Fransisco State University, perilaku transportasi masyarakat akan berubah dan pemakaian mobil akan berkurang jika kota didesain secara cermat.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa menata pertumbuhan kota secara cerdas hanya akan berdampak kecil pada permintaan transportasi.

Chattopadhyay menyatakan, pada masa lalu, ekonom selalu kesulitan menemukan metodologi yang tepat guna memahami dampak sistem tata kota terhadap perubahan perilaku masyarakat.

Dalam studi terbaru ini, Chattopadhyay mengembangkan cara inovatif guna memrediksi perilaku masyarakat, terutama yang terkait dengan keputusan memilih lokasi perumahan mereka. Penelitian ini mengamati 18 wilayah perkotaan di Amerika Serikat dengan sensus data serta informasi dari National Household Travel Survey 2001 dan National Transit Database.

Menurut Chattopadhyay, dalam konteks mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, manfaat strategi “smart growth” ini melampaui manfaat dari kebijakan meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) melalui peningkatan pajak.

Setiap 10% kenaikan harga BBM atau biaya mengemudi per mil, perjalanan menggunakan kendaraan pribadi yang dilakukan oleh anggota keluarga akan berkurang sebesar 18% per tahun. Sementara strategi “smart growth” mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sebesar 20%.

Walau hanya berbeda beberapa persen, manfaatnya strategi “smart growth” ini sangat besar. Strategi “smart growth” menurut Chattopadhyay lebih gradual, menimbulkan dampak perubahan jangka panjang dan bisa menciptakan lapangan kerja baru. Sementara strategi peningkatan harga BMM – melalui peningkatan pajak – bisa diterapkan dengan cepat namun sangat dipengaruhi oleh situasi politik suatu negara.

Manfaat lain dari strategi “smart growth” ini adalah meningkatkan kesehatan masyarakat dengan memromosikan transportasi aktif seperti berjalan kaki atau bersepeda, mengurangi kesemrawutan kota (urban sprawl) dan melestarikan ruang terbuka hijau.