Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dari Indonesia, Muhammadiyah Hantarkan Visi Islam Berkemajuan di Jerman
Oleh : Opini
Senin | 25-07-2022 | 08:52 WIB
A-MAHASISWA-INDO-JERMAN.jpg Honda-Batam
Mahasiswa Indonesia di Jerman. (Foto: Ist)

Oleh Hamzah Fansuri

MUHAMMADIYAH telah mendirikan cabangnya di Jerman sejak 2007. Keberadaan salah satu ormas Islam terbesar Indonesia di pusat benua Eropa ini mengemban amanah selaku anak panah dalam mewujudkan cita-cita persyarikatan.

Salah satu yang menjadi cita-cita tersebut adalah menjalankan mandat dari dua Muktamar Muhammadiyah terakhir di Yogyakarta 2010 dan di Makasar 2015 lalu, yakni revitalisasi dan kontekstualisasi Islam Berkemajuan.

Islam Berkemajuan ini sendiri kelak akan menjadi bagian dari naskah resmi dalam forum Muktamar Muhammadiyah berikutnya di Surakarta bulan November 2022. Bagi pimpinan dan warga Muhammadiyah, tak terkecuali di Jerman, visi Islam Berkemajuan mengacu kepada beberapa pokok pikiran berikut:

1) Islam sebagai agama yang memuat pesan-pesan kemajuan untuk mewujudkan peradaban, 2) Kemajuan itu menyentuh segenap lini kehidupan manusia beserta lingkungan, dan 3) Menjelmakan dakwah Islam yang menebarkan perdamaian dan kasih sayang bagi semesta.

Dalam perumusan Islam Berkemajuan, ide tersebut sejalan dengan cita-cita nasional bangsa Indonesia yakni mendorong terwujudnya kemajuan umat dan bangsa sebagaimana amanat konstitusi UUD 1945.

Artinya, Islam Berkemajuan khususnya bagi Muhammadiyah yang memasuki abad kedua sejak berdirinya ini ikut bertanggung jawab atas masa depan bangsa baik dalam konstelasi nasional maupun global.

Dengan demikian, semangat Islam Berkemajuan sejatinya merupakan upaya yang sejalan bagi diaspora muslim Indonesia di negara manapun untuk mengenalkan wajah Islam, wajah Indonesia, termasuk Islam Indonesia yang berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila sebagai Islam wasatiyah (the middle path) kepada komunitas internasional.

Dengan kata lain, jika masyarakat Barat sampai hari ini masih mengasosiasikan Islam dekat dengan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, yang diantaranya memori itu terbentuk pasca peristiwa 9/11, maka sudah menjadi tanggung jawab bersama khususnya umat Islam Indonesia untuk meluruskan citra buruk tersebut dengan menghadirkan Islam yang humanis dan bervisi peradaban, sebagaimana berulang kali disampaikan Ahmad Syafii Maarif, cendekiawan muslim berpengaruh yang baru saja wafat 27 Mei 2022 lalu.

Oleh karena itu, pengamalan Islam Berkemajuan membutuhkan kesadaran kosmopolitan dalam lingkup masyarakat dan kebudayaan di Jerman untuk tidak semata berdinamika dalam menjaga konsolidasi internal (inward looking), melainkan secara cermat dan peka sembari mengambil peran terhadap segala problematika kemanusiaan termasuk juga masalah lingkungan yang tengah dihadapi bersama masyarakat Jerman maupun Eropa pada umumnya (outward looking).

Sebagai misal, tahun 2021 lalu dan 2022 ini, Amnesty Internasional serta Human Rights Watch meluncurkan laporan perihal permasalahan-permasalahan utama yang perlu menjadi perhatian bersama banyak kalangan di Jerman.

Isu-isu itu mencakup masalah diskriminasi, kebebasan berkumpul, hak pengungsi dan migran, hak atas kesehatan, dan kegagalan mengatasi krisis iklim.

Dari laporan tersebut, persoalan yang paling dekat dengan dinamika komunitas muslim di Jerman adalah kejahatan kebencian, kejahatan antiimigran dan antisemit yang dilakukan eksterimis sayap kanan, di mana jumlahnya meningkat hampir 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pihak berwenang dalam hal ini seakan gagal mengembangkanstrategi komprehensif melawan kekerasan yang berakar pada diskriminasi. Badan intelijen Jerman bahkan mengidentifikasi ekstremisme sayap kanan sebagai ancaman terbesar demokrasi di Jerman.

Di samping itu, permasalahan lain seperti penangan Covid 19, kenaikan harga-harga sebagai dampak perang di Ukraina, serta yang tak kalah krusial yakni komitmen pada pembangunan berkelanjutan tak kurang menjadi bagian yang patut menjadi perhatian serius tidak hanya bagi pemangku otoritas melainkan juga setiap elemen masyarakat.

Dalam konteks itulah, melalui semangat Islam Berkemajuan, diaspora muslim Indonesia di Jerman dapat menggalang solidaritas kemanusiaan dalam mengadvokasi masalah-masalah tersebut di atas.

Saat ini, Muhammadiyah telah resmi berbadan hukum dalam yurisdiksiJerman. Artinya aktivis Muhammadiyah yang tersebar di seluruh negara bagian di Jerman memiliki kesempatan besar untuk mengontekstualisasikan visi Islam Berkemajuan yang dapat berkontribusi sekaligus menjadi penentu bagi masa depan kemanusiaan dan lingkungan.

Tantangan ini tentu tidak mudah, namun peran-peran strategis dapat dibangun misalnya melalui kemitraan lintas sektor. Karena visi Islam Berkemajuan pada hakikatnya tidak sebatas mengenalkan Islam, tetapi juga sebagai salah satu ujung tombak soft diplomacy Indonesia di luar negeri.

Maka jalinan kerja sama setidaknya dapat terbentuk antara Muhammadiyah atas nama elemen masyarakat sipil, perwakilan pemerintah Republik Indonesia, perguruan tinggi, dan sektor swasta.

Tantangan lainnya adalah bagaimana mengenalkan Islam Indonesia di tengah 6,5 persen populasi muslim di seluruh Jerman yang didominasi warga keturunan Turki. Sampai saat ini referensi keislaman di Jerman belumlah mengenal baik Islam Indonesia, lebih-lebih Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang menyejarah di tanah air.

Masyarakat Jerman dan Eropa pada umumnya masih merujuk risalah dunia Islam ke Timur Tengah, Afrika Utara maupun anak benua Asia. Itupun sebagaimana kita ketahui, konflik dan perang di negara-negara mayoritas muslim itu semakin menurunkan citra Islam di tengah peradaban Barat yang kian meroket.

Peluang mempromosikan Islam Indonesia yang relatif damai, sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia, dengan demikian, dapat diperankan salah satunya oleh visi Islam Berkemajuan.

Jikalau Muhammadiyah ibarat salah satu kepak sayap Islam Indonesia, maka bersama sayap lainnya Nahdlatul Ulama merupakan dua kekuatan Islam yang sejatinya cukup menjanjikan untuk mengisi risalah dan khazanah baru dunia Islam bagi masyarakat Jerman, Eropa dan Barat pada umumnya.*

Penulis adalah kader Muhammadiyah Jerman, Mahasiswa Doktoral Antropologi di Universitas Heidelberg, Jerman

Sumber: Republika