Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Rapper Jangkung
Oleh : Opini
Jum\'at | 08-07-2022 | 08:36 WIB
A-ROBERT-CRIMO.jpg Honda-Batam
Robert Crimo Jr. (Foto: Disway)

Oleh Dahlan Iskan

SAYA sudah menahan diri untuk tidak menuliskan ini selama tiga hari. Sungkan. Terutama kepada pembaca Disway. Itu lagi. Itu lagi.

Apa boleh buat.

Seorang anak, berumur dua tahun, menangis sendirian. Di tengah jalan. Di pusat kota.

Di sekitar anak itu penuh tumpahan darah. Mereka yang semula pesta di jalan raya itu sudah lari terbirit-birit. Lari ke segala arah. Mereka meninggalkan anak itu sendirian.

Ceceran makanan, minuman, plastik, tas, dan kereta pendorong bayi berserakan di sepanjang jalan.

Anak kecil itu tidak bisa ikut lari. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Ada yang memotret anak tanpa siapa-siapa di tengah jalan itu. Foto diunggah ke medsos. Anak siapa itu. Viral.

Memilukan.

Darah siapa di sekitar anak itu.

Ternyata itu darah ayah-ibunyi. Mereka sudah diangkut tergesa-gesa ke rumah sakit. Keduanya meninggal dunia.

Mereka adalah korban penembakan asal-asalan. Pelakunya, lagi-lagi, seorang remaja 21 tahun.

Tidak hanya dua orang itu yang tewas. Masih ada lima lagi yang meninggal. Lebih 30 orang lainnya luka-luka.

Pagi itu penduduk kota tersebut lagi bersuka ria. Mereka merayakan hari kemerdekaan. Ribuan orang ikut parade perayaan Hari Kemerdekaan 4 Juli 2022.

Sudah dua tahun tidak ada parade seperti itu. Di kota itu. Juga di kota-kota lainnya di Amerika. Akibat Covid-19.

Drum band, musik tiup, boneka-boneka besar, kendaraan hias, sepeda lucu-lucu, ikut pawai di tengah kota yang biasanya sangat damai. Itulah kota kecil Highland Park, dekat kota besar Chicago.

Di tengah kegembiraan itu serangkaian bunyi bang! bang! bang! menggema. Banyak yang mengira itu suara mercon --untuk ikut memeriahkan parade.

Ternyata beberapa peserta parade tersungkur. Bersimbah darah. Panik. Teriakan mulai bersahutan: penembakan! penembakan!

Mulailah kepanikan. Mereka lari ke mana pun bisa berlari. Atau bersembunyi di bawah-bawah meja. Mobil hias dan ke emperan toko.

Tidak satu pun ada yang tahu dari mana arah tembakan itu. Dari depan? Belakang? Samping? Tidak jelas. Pokoknya lari.

Tidak semua lari. Yang naluri menolongnya tinggi, langsung menggotong yang roboh. Dinaikkan mobil. Dibawa ke RS. Tertinggal satu anak kecil berumur 2 tahun itu.

Ternyata tembakan itu tidak dari muka, samping atau belakang. Tembakan itu dari atas. Yakni dari atap bangunan di jalan utama kota Highland Park.

Pelakunya, itu tadi, anak berumur 21 tahun. Ia menggunakan senjata laras panjang semiotomatis: Smith & Wesson M&P15. Tidak sama, tapi sejenis dengan yang digunakan remaja 21 tahun yang menembaki anak-anak SD di Uvalde, Texas bulan lalu.

Si remaja di Highland Park tidak mengincar siapa pun. Semua saja.

Sebanyak 30 peluru ia muntahan dari senjata itu. Ia pasang lagi rangkaian peluru berikutnya. Ia muntahan lagi. Semua 60 peluru. Habis. Lalu turun tergesa-gesa dari atap. Juga lewat tangga darurat di belakang bangunan.

Nama remaja itu: Robert Crimo Jr. Nama lengkapnya: Robert Bobby Crimo III. Ia tinggal di sebuah apartemen milik bapaknya di tengah kota itu. Di sana, anak umur 21 tahun sudah malu tinggal bersama orang tua.

Crimo membeli senjata itu secara sah. Ia memenuhi syarat untuk membeli senjata seperti itu.

Ayahnya ikut memberikan rekomendasi saat Crimo membeli senjata. Sang ayah bukan orang biasa. Ia terkenal di kota kecil itu. Dalam Pilwali tahun 2019, sang Ayah maju sebagai calon wali kota. Ia kalah oleh Nancy Rotering --calon dari Partai Demokrat yang maju lagi untuk periode ketiga.

Sang Ayah juga punya toko roti di tengah kota itu: Bob's Deli. Itulah salah satu tempat nongkrong populer warga kota. Sambil menikmati keindahan dan keeleganan kota Highland Park.

Kota ini istimewa. Inilah salah satu kota teraman di Amerika. Belum pernah ada korban penembakan satu pun selama lebih 70 tahun terakhir.

Highland Park memang kota pilihan. Letaknya di pinggir danau Michigan. Jaraknya hanya 30 menit dari kota besar Chicago. Ke arah utara. Ke arah Milwaukee. Kapan-kapan, kalau Anda ke Milwaukee harus mampir di kota ini.

Highland Park itu di tanah datar. Tidak di pegunungan. Penduduknya hanya 30.000 orang. Hampir semuanya kulit putih.

Awalnya memang ada semacam kesepakatan: hanya mau jual rumah ke orang kulit putih. Terutama Yahudi. Agar ketenteraman kota terjamin.

Maka kota ini berkembang menjadi kota kaya. Makmur. Indah. Pendapatan per kapita penduduknya empat kali lipat dari rata-rata nasional.

Beberapa bintang besar basket punya rumah di sini. Termasuk Michael Jordan. Klub NBA Chicago Bull punya camp di kota ini.

Highland Park menjadi seperti surga di dekat "neraka" kebisingan, keruwetan, ketidakamanan Chicago.

Dan surga itu kini tercemar. Oleh putranya sendiri. Tragis. Putra kulit putih. Putra tokoh yang sebenarnya berpotensi menjadi bintang baru kota itu. Ia terobsesi menjadi penyanyi rap yang hebat.

Crimo punya akun hebat di Spotify. Yang salah satunya diputar lebih 2 juta orang. Yakni ketika Crimo mengunggah album rap-nya. Misalnya yang famous itu.

Crimo punya nama pop di akun itu: Awake The Rapper. Kalau di akun Twitter ia pakai nama asli: Robert Crimo.

Awake The Rapper merasa dirinya adalah hip-hop superstar. Badannya tinggi. Jangkung. Hampir 183 cm.

Wajahnya sangat cantik bila ia wanita. Rambutnya lurus. Tipis. Dibiarkan memanjang. Termasuk bagian depannya. Ada tato kecil di wajah itu. Mirip angka 7 dan 4.

Ia keturunan Italia. Anak tengah dari tiga bersaudara. Pendiam. Amat.

Ketika berumur 11 tahun Crimo sudah mulai posting lagu di internet. Tahun 2016 ia merilis lagu Atlas. Dan akhir Desember 2017, "dunia mulai berputar," katanya.

Pada tanggal 10 August 2018, dirilislah lagu L?-Fi Sad B?y. Dan di ulang tahunnya yang ke 18 ia merilis The Future Is Dope. Beberapa bulan kemudian Crimo Awake merilis lagu On My Mind. Ini menjadi lagu yang amat populer di Spotify.

Tahun 2018, tahun dewasanya, Crimo sangat produktif.

Pun di tahun 2022 ini. Crimo masih merilis lagu baru. Nadanya mulai beda. Juga ilustrasinya. Ia mulai memakai background anime dan tokoh carton bersenjata.

Judul lagunya pun ini: I Am the Storm. Saya adalah badai. Atau brainwashed.

Lagu berikutnya berjudul 'Dumb Diddy Dumb, Game By, dan Dead Again'. Mengarah ke nihilis.

Di Twitter-nya Crimo mengutip ayat dari Injil: 'Betapa pun ia mencari keselamatan hidup akan kehilangan juga. And whoever loses his life will preserve it'. Itu ia kutip dari kitab Lukas ayat 17:33.

Crimo juga menyertakan foto ketika hadir di kampanye Donald Trump. Termasuk foto konvoi kendaraan Trump. Juga atribut kampanyenya.

Tapi polisi tidak menemukan motif rasis atau agama dalam aksi Crimo ini.

Ia memang pernah dua kali dicurigai. Pertama, ketika keluarga mengadukan ucapan Crimo. Ia bilang akan membunuh semua orang. Polisi menemukan banyak pisau, belati, dan parang di rumah Crimo. Tapi itu tersimpan rapi seperti sebuah koleksi. Tidak jadi masalah.

Yang kedua, ketika Crimo akan bunuh diri. Tapi tidak jadi. Selesai. Itu urusan kejiwaan. Bukan kriminal. Tidak harus polisi yang turun tangan, tapi psikolog profesional.

Selebihnya tidak ada catatan kriminal apa-apa. Karena itu ia bisa lolos ketika membeli senjata semiotomatis. Dan ternyata ia masih punya senjata yang lain lagi di rumahnya.

Bagaimana Crimo bisa lolos dari atas atap?

Rupanya, ketika naik tangga darurat ke atas bangunan, ia membawa tas. Itu tidak hanya berisi senjata. Juga berisi pakaian wanita. Dan make-up.

Begitu selesai memberondongkan peluru Crimo ganti baju. Ia pakai baju wanita. Ia menjadi seperti seorang gadis. Lalu turun tangga belakang. Lalu membaur ke peserta karnaval. Ia ikut lari terbirit. Sambil memanggul tas. Ia lari ke arah barat. Tidak ada yang memperhatikannya.

Di samping untuk menyamar, pakaian wanita itu juga untuk menutupi tato di wajahnya. Bahkan ia melakukan make-up wajah. Tato 7-4 itu tertutup make-up.

7-4.

Juli, tanggal 4.

Hari kemerdekaan Amerika. Hari ketika ia menyapu parade dengan senjata otomatisnya.

Dari arena karnaval Crimo menuju rumah ibunya. Tidak ada kecurigaan sedikit pun. Di situ Crimo meminjam mobil sang Ibu. Ia pergi.

Beberapa saat sebelum kepergiannya, polisi sudah membuat pengumuman: polisi mencurigai seseorang dengan ciri mengarah ke Crimo.

Pengumuman itu begitu pentingnya. Sesaat kemudian seseorang melapor ke polisi: orang yang dicurigai lagi mengendarai mobil dengan ciri disebutkan.

Polisi pun membuat perintah stop mobil dengan ciri dimaksud. Crimo sudah jauh di luar kota. Ia sudah ngebut ke arah barat laut. Ia sudah berada di kota Madison, Wisconsin. Itu empat jam dari Highland Park.

Crimo lagi berputar-putar di Madison. Di sekitar danau yang begitu indah. Polisi menangkapnya. Ditemukanlah senjata yang lain lagi di dalam mobil.

Dari pemeriksaan polisi, Crimo mengaku: di Madison ia lagi merenungkan diri dalam-dalam. Yakni bagaimana cara melakukan penembakan masal lagi di Madison.

Bukan main.

Sampai sejauh ini masih didalami apa motif sebenarnya. Ayahnya memang kalah dalam Pilkada. Yang menang adalah calon dari Demokrat.

Partai Republik memang selalu kalah di kota kecil itu. Tapi anak ini tidak pernah ikut kampanye sang Ayah. Ia lebih sendiri menyendiri. Di depan komputer. Diam.

Kemarin The Daily Beast berhasil mewawancarai seorang wanita di Highland Park. Dia kenal orang-orang yang mati tertembak. Dia kenal orang tua anak kecil yang kini diasuh neneknyi itu. Bahkan dia kenal si penembak itu sendiri: Robert Bobby Crimo III, si Awake The Rapper.

Crimo adalah teman baik anaknyi: Anthony. Hampir seumur. Teman sangat baik. Anthony-lah yang dipercaya Crimo. Hanya kepada Anthony, Crimo bisa menceritakan segala kesepiannya. Semua rahasianya.

Anthony lah yang bisa diajak bergadang, pun sepanjang malam. Juga main skateboard bersama. Jam berapa pun Crimo perlu, Anthony mau datang.

Anthony meninggal. Dua tahun lalu: overdosis obat bius. Di saat pemakaman, Crimo membuat video yang sangat mengharukan. Ia seperti kehilangan belahan jiwa.

Saya jadi ingat remaja yang menembaki teman-teman sesama SMA-nya di negara bagian Michigan. Tahun lalu. Si remaja juga belum lama ditinggal mati sahabat terbaiknya: anjingnya.

Begitu banyak problem remaja di zaman serba online ini. Kemakmuran Highland Park pun tidak bisa mengatasinya. Sebagai kota elite nan makmur Highland Park sebenarnya sudah punya aturan sendiri: warga dilarang memiliki senjata api semi otomatis. Itu senjata untuk perang. Tapi kota itu digugat. Aturan itu harus dicabut. Itu bertentangan dengan UU nasional dan konstitusi.

Senjata itu kini makan warganya sendiri.*

Penulis adalah wartawan senior