PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Obituari Ko Aliang, Warga Nusa Jaya Sei Panas Batam

Damai Natal Iringi Perjalanan Panjang Ko Aliang
Oleh : Saibansah
Rabu | 25-12-2019 | 18:41 WIB
ko-aliang-meninggal-dunia.jpg honda-batam
Istri Ko Aliang saat menerima ucapan duka cita dari para tetangga di Rumah Duka Batu Batam. (Foto: Saibansah)

NATAL 2019 nan damai di Batam, menjadi hari terakhir Ko Aliang. Tak mudah mempercayai berita duka yang dikirim para tetangga di kawasan perumahan Nusa Jaya dan Pondok Asri, mengenai kepergian Lim Yiu Liang, biasa kami sapa Ko Aliang. Termasuk saya.

Rabu, 25 Desember 2019, pukul 14.47 WIB, telepon genggam terus berdering. Sayang, saya sedang sibuk, sehingga tak sempat mengangkatnya. Tak berapa lama kemudian, saya telepon balik misscall tersebut. Ternyata dari seorang tokoh masyarakat yang juga mantan Ketua RT di Perumahan Nusa Jaya, Suryanto.

"Sudah mendengar berita duka?" tanya Suryanto dari ujung telepon.
"Belum," saya menjawab cepat, sambil berharap pria yang gila mancing itu segera menyampaikan berita duka tersebut.

"Ko Aliang sudah pergi mendahului."

Karuan, berita duka ini sangat mengejutkan saya. Karena kepergiannya yang begitu mendadak. Juga, karena rumah kami hanya berjarak dua rumah saja. Dan kami sudah bertetangga sejak 16 tahun lalu. Keluarga kami pun saling mengenal dan beriteraksi baik.

Lebih mengejutkan lagi, beberapa hari lalu, saat saya berangkat sholat ke Masjid Istiqomah naik motor, Ko Aliang melempar senyum dari balik kemudi mobil minibusnya. Sambil membunyikan klakson kecil.

Rupanya, itulah senyum terakhir Ko Aliang buat saya. Setelah diabetes memisahkan Ko Aliang dengan istri tercinta dan seorang anak gadis tunggalnya, Vina.

"Senin lalu Ko Aliang berobat ke Rumah Sakit KPJ di Johor, terus dokter menyarankan untuk berobat ke dokter yang biasa menanganinya di Indonesia. Itu saja, tidak diberi obat," tutur istri mendiang Ko Aliang kepada para tetangga yang bertakziah di Rumah Duka Batu Batam, malam ini.

Kebersamaan dan kedamaian kami sebagai tetangga di Perumahan Nusa Jaya terbawa sampai di ujung usia Ko Aliang. Meski kami berbeda suku dan agama, tapi kami sudah seperti saudara. Begitulah suasana kekeluargaan yang kami rasakan selama puluhan tahun hidup bertetangga di Sei Panas Batam.

Kenangan bakar ikan bersama Ko Aliang, makan malam bersama para tetangga, saling berkunjung di hari raya Idul Fitri atau Imlek, serta berbagai kenangan keakraban bertetangga, akan menjadi kenangan tak terlupakan.

Selamat jalan Ko Aliang.
Istirahatlah dengan tenang di sisi Tuhanmu.

Editor: Dardani