Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Penyerangan KKB Harusnya Membuka Mata Semua Pihak agar Segera Selesaikan Persoalan Papua
Oleh : Irawan
Kamis | 19-12-2019 | 14:40 WIB
filip_dpd_ri.jpg Honda-Batam
Ketua Pansus DPD RI Dr. Filep Wamafma, SH, M. Hum

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Peristiwa kontak senjata Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menyerang anggota TNI di Papua bukanlah sekali dua kali terjadi di daerah rawan konflik semacam Intan Jaya. Dalam satu jam kontak senjata itu, dua personel TNI dari Nanggala 15, yaitu Lettu Inf. Erizal Zuhri Sidabutar dan Serda Rizky meninggal dunia, setelah sempat dirawat akibat terkena tembakan.

"Perulangan berbagai peristiwa sejenis seharusnya membuka mata berbagai pihak bahwa semua persoalan di Papua harus segera diselesaikan," tegas Ketua Pansus Papua DPD RI Dr. Filep Wamafma, SH, M. Hum dalam rilinya diterima Haluan.co, Kamis (19/12/2019).

Pernyaan Filip itu terkait terjadi kontak senjata antara sekelompok orang yang diduga KKB menyerang Satgas TNI yang sedang bertugas Intan Jaya, Selasa (17/12/2019).


"Tentu saja hal ini mengejutkan semua pihak, terutama di saat Pansus Papua sedang bekerja giat untuk menciptakan perdamaian di Tanah Papua. Kami menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa yang mendalam atas gugurnya para personel TNI dalam peristiwa ini," kata Filip.

Persoalan semacam ini jelas Filip, sejatinya membuka hati nurani semua orang bahwa nuansa kebencian sedang berakar dan berkembang di Tanah Papua.

Konflik yang terjadi sesungguhnya menurut dia, merupakan letupan-letupan dendam akibat saling menyerang, saling menuding kesalahan, saling mempertahankan ego, baik pihak pemerintah, maupun pihak KKB.

Dalam keadaan semacam ini, menurut dia pendekatan-pendekatan berkarakter militeristik, sudah sepantasnya ditinggalkan, demikian juga halnya perlawanan yang bernuansa militer.

"Ini berarti, ada kepentingan lain yang lebih besar yang harus dilindungi, yaitu masyarakat sipil yang tidak ingin wilayahnya menjadi ajang pertumpahan darah, atau bahkan menyaksikan sendiri adanya pertempuran antara saudara sebangsa," jelasnya.

Demi kedamaian rakyat sipil pula, dia menghimbau kedua belah pihak, TNI dan KKB, perlu menahan diri untuk memikirkan langkah-langkah konstruktif kooperatif, sehingga kedamaian di Papua dapat dirasakan.

"Sesungguhnya tidak mudah mendudukkan 'singa' dan 'harimau' pada satu meja, kecuali kepada keduanya dihadirkan santapan yang sama lezatnya. Meskipun tidak mudah, negara harus memastikan bahwa baik TNI maupun KKB harus duduk bersama dan bicara dari hati ke hati, tentang masa depan anak-anak Papua, tentang kedamaian yang seharusnya dirasakan di Papua," harapnya.

Dalam pola pikir yang sama, para elit politik daerah, seraya memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, perlu mengambil langkah-langkah konkrit yang mendukung terciptanya ruang dan waktu untuk duduk bersama dan membicarakan masalah Papua secara jujur.

"Inti dari keadilan adalah kejujuran, justice as a fairness, demikian menurut John Rawls. Keadilan yang dicari adalah keadilan yang penuh kejujuran tentang sejarah, perjuangan, pembangunan, dan penegakan Hak Asasi Manusia. Selama semua itu belum ditempatkan pada ruang kejujuran, maka keadilan dan kedamaian di Tanah Papua hanya merupakan sebuah utopia berkepanjangan," tegasnya.

Editor: Surya