Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Cinta di Negeri Seribu Menara
Oleh : Redaksi
Senin | 09-04-2012 | 16:38 WIB

Oleh : Rusmini*

CERITA tentang cinta selalu mengesankan aroma wangi. Membuncahkan jiwa, harum semerbak bunga di setiap awal dan akhirnya. Sayangnya, makna cinta seringkali ternodai dengan perumpamaan katak dalam tempurung. Berkutat hanya pada dunia laki-laki dan perempuan.

Perlu sejenak mencerahkan hati, membuka pikiran dan meluaskan makna cinta yang dalam. Atas nama cinta pada Zat Maha Pencipta, mengajak berkelana ke timur tengah untuk menemukan hikmah diawal dan diakhir cerita.

Menjelajahi Mesir dengan panorama piramida, mengingatkan tentang Fir’aun. Popularitas Negara wisata kelas dunia tersebut memiliki daya tarik sejarah peradaban yang unik, menarik minat para pelancong asing untuk berkunjung.

Dr. Mamdouh Baltagi, Menteri pariwisata Mesir mengungkapkan, tahun 2000 terdapat 5,5 juta wisatawan asing. Devisa yang diperoleh mencapai 4,3 miliar USD atau 11 persen dari keseluruhan pendapatan Negara. 

Fenomena wisata tidak hanya satu-satunya daya tarik Negara dengan jumlah penduduk 68 juta jiwa tersebut. Aura spiritual juga turut memeriahkan keelokan ciri khas budaya yang dibingkai dengan aturan agama yang apik.

Makanan berserakan seantero Mesir saat bulan Ramadhan. Hidangan yang biasa disebut maidaturahman, sajian istimewa yang dibagikan secara gratis, dinikmati rata-rata 3 juta orang per hari.

Para dermawan Mesir adalah hartawan muslim di Negara Arab Teluk. Dede Pernama Nugraha, mahasiswa pascasarana di Mesir mendokumentasikan total dana yang dikeluarkan untuk membiayai maidaturahman setiap tahun mencapai 300 juta USD. Jauh lebih besar dibandingkan dana pembangunan perpustakaan Iskandariah yang hanya menghabiskan 220 juta USD. 

Keistimewaan Mesir di blantika tanah Arab, layak diacungi jempol sebagai prestasi gemilang dalam membumikan nilai agama. Kehormatan Islam dijaga tidak hanya oleh penguasa, namun juga oleh rakyat jelata. 

Predikat muslim sebagai orang Mesir menggambarkan kehormatan Islam. Sebagai agama yang menjaga harmonisasi hubungan seorang hamba pada Allah dan kepada sesama manusia. Melestarikan sifat dermawan bagi yang berkecukupan. 

Tidak hanya itu, Mesir yang popular sebagai Negeri Seribu Menara tersebut, juga melestarikan nilai pewarisan tauhid dengan budaya menghapal Al Qur’an tanpa  segmentasi usia. Mulai dari anak-anak dan remaja berusia 10-15 tahun tercatat 2,4 juta jiwa, golongan dewasa usia 26-55 tahun sebanyak 6,2 juta, serta golongan orang lanjut usia 3,7 juta hafiz /hafizoh.

Dari jumlah tersebut sebanyak 3,8 juta jiwa adalah wanita. Mereka saling berlomba menghapal Al Qur’an untuk meperoleh kemuliaan di sisi Tuhannya.

Negeri Al Qur’an

Tradisi menghafal Al Qur’an bukan hanya sebuah trend orang Mesir. Melainkan model ibadah unggulan yang terprogram terutama dalam dunia pendidikan.

Prof. Dr. Mahmoud Hamdi Zaqzouk, Menteri Waqaf Mesir, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa jutaan penghapal Al Qur’an merupakan wujud dari dukungan sistem pendidikan.

Di Universitas Al Azhar misalnya, mahasiswa Mesir program S1 diwajibkan menghapal 15 juz, dan untuk S2 satu mushaf Al Qur’an. Bagi mahasiswa asing non-Arab termasuk Indonesia, diharuskan menghapal 8 juz dan 15 juz di tingkat S2. 

Menelisik kembali catatan Dede Pernama Nugraha, yang menuturkan jika berkesempatan naik bus di Kota Kairo, jangan kaget jika banyak penumpang membaca al-Qur’an. Kendati dalam suasana penuh sesak, para pegawai kantor biasa mengisi waktu senggang dengan membaca Kallam Ilahi. 

Bahkan tidak jarang, polisi penjaga keamanan pun memegang mushaf al-Qur’an, membacanya di saat santai. Kaset bacaan murotal juga dipasang dalam berbagai suasana.  Baik di toko, masjid hingga kedaraan umum.

Sebagai gudang ulama, pada 2002 terdapat 12,3 juta penghapal atau sekitar 18% dari keseluruhan penduduk Mesir. Artinya diantara 6 orang Mesir, satu diantaranya adalah hafiz/hafizoh. 

Khasanah 

Menengarai tamsil Drs. H. Muntaha Azhari MA, mantan Purek I PTIQ Jakarta, menjelaskan Nabi Muhammad adalah sosok yang ummy (buta huruf), tidak bisa baca-tulis, maka penerimaan wahyu melalui malaikat Jibril yang dilakukan dengan menghapal.  Demikian pula cara Nabi mengajarkan kepada para sahabat. 

Setiap kali turun ayat Al-Qur’an para sahabat dengan penuh semangat menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka terima. Ada beberapa yang diminta untuk menuliskan. Mereka tidak hanya fasil menghapal, namun juga merefleksikan nilai yang terkandung didalamnya. 

Kedekatan para sahabat dengan Al-Quran menjadi keistimewaan sepanjang sejarah kejayaan Islam. Dalam waktu singkat, 2/3 belahan dunia dapat dikuasai. Tidak berlebihan saat Rasulullah pernah menyanjung dengan mengatakan bahwa tidak akan pernah lagi muncul generasi terbaik setelah mereka.

Generasi terbaik Islam tidak muncul secara spontan, namun telah melalui proses panjang. Pembeda antara manusia dan binatang bukan hanya terletak pada akal saja, tetapi juga dalam memperlakukan cinta. Perjuangan sahabat adalah wujud kecintaan mendalam pada Allah dan Rasul-Nya. Ikhlas tanpa keinginan agar dipuji apalagi mengharap imbalan jabatan, harta atau wanita. 

Anak-anak Mesir terbiasa diajarkan Al-Qur’an sejak kecil. Sebaliknya kecaman buruk bagi Indonesia, tidak jarang orang tua marah dan sebagian melayangkan pukulan karena sang anak melakukan kesalahan. Dalam kondisi ini, seringkali manusia tiba-tiba berubah menjadi tidak cerdas untuk menghitung kebaikan sebagai buah hati, pelipur lara dan anugerah cinta.

Boby de Porter dan Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning, mencatat penemuan Canfield seorang pakar masalah kepercayaan diri. Dalam penelitiannya, setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negatif dan hanya 75 komentar positif. 

Artinya, jika anak ingin mendapatkan masukkan yang membangun jiwa, maka ia harus rela mendapatkan enam kali kritikan. Padahal, tumbuh kembang potensi anak sangat didukung oleh motivasi dari orang tua. Membangun kepercayaan diri anak tidak dapat terbentuk dengan kekerasan.

Indonesia jauh tertinggal dengan Mesir dalam gerakan belajar dan memberi stimulus pada anak untuk mengoptimalkan potensi. Baik dalam lingkup kedekatan agama maupun dunia formal. Harmonisasi diantara keduanya menjadi apik jika orang tua mampu mengkombinasikan secara tawazun atau seimbang.

Mutiara Terserak

Syekh Yusuf Qardhawi, seorang ulama besar menyebutkan bahwa perhatian orang Mesir yang tinggi terhadap Al Qur’an merupakan faktor utama penyebab kegagalan aktivitas misionaris pelencengan aqidah pada abad 21 ini.

Islam mencapai puncak kejayaan pada 14 abad silam. Manusia teragung, kekasih Allah telah memprediksi kegalauan ummat saat ini sebagaimana dialog yang dilakukan kepada sahabat yang bertanya, “Apakah karena kami waktu itu sedikit, hingga kami memperebutkan makanan wahai Rasulullah?”

“Tidak! Bahkan waktu itu jumlah kalian sangat banyak. Akan tetapi kalian seperti buih di lautan. Sungguh, rasa takut dan gentar telah hilang dari dada musuh kalian. Dan bercokollah dalam dada kalian penyakit wahn (Cinta dunia dan takut mati)”.

Makanan itu adalah Indonesia. Diperebutkan orang-orang rakus baik dari dalam dan luar tubuh Negeri. Mutiara yang berserakan perlahan terkikis dan berkurang. Sumber daya alam tidak terkelola dengan baik, money politik, hutang menumpuk, hukum dapat dijual beli dan sederet masalah yang sudah menjadi rahasia umum.

Sebagaimana dipostulatkan Qardhawi, terdapat serangan halus dan sistematis untuk meyerang pemikiran dengan wujud program yang dikemas menarik. Sehingga tanpa disadari, ummat Islam sudah mengikuti mereka bahkan menjadi pendukung didalamnya. Terombang ambing dan terpesona oleh dunia.

Implementasi nilai Al Qur’an tidak kental di Indonesia sebagaimana adanya di Mesir. Negeri mayoritas Islam dengan penduduk muslim terbanyak di belahan bumi se kawasan Timur Tengah, masih terikut arus propaganda dan mengekor pada Barat.

Benar perkataan Rasulullah, jumlah muslim sangat banyak. Namun seperti buih di lautan. Rasa takut dan gentar telah hilang dari dada musuh. Pun berserakan penyakit  cinta dunia dan takut mati. 

Indonesia merindukan pejuang rakyat yang adil, jujur, bertanggung jawab dan mampu menuntasan permasalahan krusial yag terjadi. Menanti kehadiran pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Wallahu Alam.

* Penulis merupakan Pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Medan, Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ar Rahman dan Mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED).