PKP

Hollywood Boikot 'Rumah' Avengers karena Hukum Aborsi
Oleh : Redaksi
Senin | 13-05-2019 | 12:52 WIB
avenger-endgame.jpg honda-batam
Ilustrasi. (Foto: Ist).

BATAMTODAY.COM, Batam - Georgia menjadi lokasi syuting film favorit produser Hollywood beberapa tahun belakangan. Ia jauh dari jantung Los Angeles yang sudah penuh sesak oleh pencari mimpi. Lansekapnya beragam. Pajaknya pun rendah. Biaya hidupnya juga jauh lebih terjangkau.

Tahun lalu, ada lebih dari 450 film yang diproduksi di Georgia. Mereka menghabiskan kurang lebih US$2,7 miliar untuk diputar di negara bagian berlambang buah persik itu. Sejauh ini industri perfilman di Georgia bisa memberikan sampai 92 ribu lapangan pekerjaan.

Film-film laris seperti Black Panther, Avengers: Infinity War, Avengers: Endgame termasuk yang syuting di sana. Tak heran ia disebut 'rumah' bagi Avengers. Lambang buah persik selalu muncul di akhir film-film Marvel. Demikian pula ucapan terima kasih untuk Georgia.

Selain itu, serial televisi Stranger Things dan The Walking Dead juga syuting di sana.

Namun Georgia baru saja membuat banyak pihak tersinggung karena meloloskan aturan soal aborsi. Gubernur Brian Kemp menandatangani larangan itu untuk diloloskan menjadi aturan pada Selasa lalu. Itu nyaris langkah final, meski di pengadilan aturan masih bisa berubah.

Jika tidak ada perubahan, aturan akan mulai berlaku efektif per 1 Januari mendatang.

Aturan itu melarang aborsi dengan batas enam minggu, ketika bayi dalam kandungan sudah memiliki detak jantung yang bisa didengar lewat ultrasonografi. Itu rupanya membuat geram sebagian kalangan perempuan, yang merasa tidak diberi pilihan jika tak boleh aborsi.

Mereka merasa seharusnya perempuan diberi hak untuk menentukan nasib tubuhnya sendiri.

Mereka yang memprotes lolosnya aturan aborsi Georgia, termasuk para selebriti yang selama ini menjadi 'napas' bagi negara yang disebut 'Hollywood di Selatan' itu. Diberitakan AFP, beberapa selebriti seperti Alyssa Milano, Alec Baldwin, Don Cheadle, Ben Stiller, Mia Farrow sampai Amy Schumer mengancam menolak bekerja di Georgia jika aturan itu tembus.

Beberapa rumah produksi independen bahkan menandatangani petisi untuk memboikot Georgia.

"Saya tidak bisa meminta perempuan mana pun dari produksi film apa pun di mana saya terlibat untuk memarjinalisasi diri mereka atau berkompromi terhadap kewenangan yang teralienasi terhadap tubuh mereka sendiri," kata David Simon, penggagas serial The Wire.

CEO Killer Films Christine Vachon berkomentar, "Killer Films tidak akan lagi memikirkan Georgia sebagai lokasi syuting yang bergairah sempai aturan yang konyol ini dibatalkan."

Mark Duplas, seorang aktor yang juga produser bahkan mengimbau dengan tegas. "Jangan serahkan bisnis Anda pada Georgia," tulisnya.

Organisasi tempat para penulis naskah bernaung, The Writers Guild of America mengunggah surat terbuka yang menulis bahwa Georgia akan menjadi tempat yang "tidak ramah bagi orang yang bekerja di industri perfilman dan pertelevisian."

Sementara Chris Ortman juru bicara Motion Picture Association belum melakukan langkah apa pun. Ia hanya mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya akan memantau perkembangan, mengingat Georgia sangat bergantung pada industri film.

"Penting diingat, bahwa legislasi serupa sudah diupayakan di negara bagian lain, dan entah itu ditentang di pengadilan atau menghadapi banyak protes. Di Georgia hasilnya seperti apa, juga akan terlihat melalui proses hukum," ia berkata dengan bijaksana.

Sutradara JJ Abrams dan Jordan Peele mengaku tetap akan syuting di Georgia, namun menyerahkan hasilnya untuk kelompok yang menentang aturan soal aborsi.

Georgia hanya satu dari beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang meloloskan aturan soal aborsi. Kentucky sudah lebih dahulu melakukannya, namun aturan itu 'mental' di pengadilan. Sementara Mississippi meloloskan aturan itu per Maret lalu dan berlaku mulai Juli 2019.

Ohio meloloskannya, namun gubernur menggunakan hak veto untuk menghentikannya pada 2016.

Suber: www.cnnindonesia.com
Editor: Chandra