PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

PTSP BP BatamSebut Ketersediaan Listrik Pengaruhi Investasi di Batam
Oleh : Nando Sirait
Selasa | 07-05-2019 | 16:04 WIB
klinik-berusaha-ptsp-bp1.jpg honda-batam
Klini Berusaha BP Batam. (Foto: Nando)

BATAMTODAY.COM, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam mendapat banyak keluhan dari pelaku usaha di kawasan industri terkait pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini di Batam. Khususnya di daerah industri Kabil.

Mengingat, ketersediaan pasokan listrik yang memadai, termasuk salah satu faktor pendukung untuk menjaga iklim investasi Batam terus meningkat.

Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BP Batam, Evi Elfiana Bangun mengatakan, BP Batam sudah melakukan rapat dengan bright PLN Batam.

Dalam rapat yang diadakan pada 30 April itu, Direktur Utama bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura menyatakan, sistem kelistrikan Batam-Bintan akan kembali normal pada 5 Mei 2019. Itu dengan kembali beroperasinya gas turbin PLTGU DEB dan PLTU Unit 2 Tanjung Kasam.

"Diharapkan pada 5 Mei 2019 kondisi sudah stabil, sehingga tidak ada lagi pemadaman listrik, tetapi nyatanya tanggal 6 Mei 2019, masih ada pemadaman listrik di beberapa daerah. Tidak hanya perumahan tetapi juga kawasan industri Kabil," ujarnya, Selasa (7/5/2019).

Sebelumnya, hal senada juga sempat dilontarkan oleh Kepala BP Batam, Edy Putra Irawady beberapa waktu lalu. Dimana mengenai komitmen Bright PLN Batam, ia mengaku sudah menyampaikan kepada Dewan Kawasan. Edy berharap ada kepastian penyediaan dan kewajaran harga listrik menjadi selling point investasi dan ekspor.

Beberapa masukan untuk permasalahan ini, diantaranya membuka usaha listrik non PLN, industri menyediakan pembangkit listrik sendiri, membebaskan impor listrik dari negara luar agar ada pilihan dan persaingan dengan tidak ada pengekangan harga, dominasi suplai, apalagi kartel.

Menurutnya hal tersebut bisa tercapai jika pasokan listrik di Batam dapat diandalkan. Tidak hanya untuk kebutuhan masyarakat, tetapi juga bagi industri khususnya, yang menjadi jantung perekonomian Kota Batam.

Sementara itu, pemadaman listrik secara bergilir di Batam belakangan ini dikarenakan adanya gangguan atau kerusakan pada salah satu Gas Turbin PLTGU DEB daya 80 MW. Akibat dari kerusakan ini, cadangan daya sistem kelistrikan Batam-Bintan turun dari 60 MW menjadi 20 MW.

Hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh kalangan masyarakat yang tinggal di perumahan, tetapi juga dirasakan langsung para pelaku usaha yang menanamkan modalnya di Batam.

Editor: Yudha