PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ini Penyebab Terus Menurunnya Angka Partisipan Buruh Batam Peringati May Day
Oleh : Putra Gema Pamungkas
Rabu | 01-05-2019 | 14:34 WIB
may-day-batam1.jpg honda-batam
Buruh Kota Batam unjuk rasa di depan Gedung Graha Kepri (Foto: Putra)

BATAMTODAY.COM, Batam - Setiap tahun pada tanggal 1 Mei, ribuan buruh di Kota Batam selalu merayakan hari Internasional buruh (May Day), tepat di depan gedung Pemerintah Kota (Pemkot) Batam.

Namun, berbeda dengan peringatan May Day 2019 kali ini, dimana konsentrasi massa terlihat berkumpul di Gedung Graha Kepri, Batam Center. Adapun pemilihan lokasi tersebut dikarenakan masih belum adanya kepastian penandatangan Upah Minimum Sektoral Kota (UMSK) Batam, yang menjadi salah satu poin penting dalam tuntutan Serikat Pekerja Kota Batam.

Tidak hanya pemilihan lokasi yang berubah, pantauan BATAMTODAY.COM di lokasi, terlihat angka partisipan buruh dalam melaksanakan May Day semakin menurun pada setiap tahunnya.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Departemen Pengembangan Organisasi FPBI pusat, Azmir Zahra saat ditemui di depan gedung Graha Kepri, Rabu (1/5/2019). Dirinya mengatakan, penurunan angka partisipan buruh dalam merayakan May Day ini dirasakannya di seluruh Indonesia.

"Bukan hanya di Kota Batam, di seluruh Indonesia mengalami penurunan angka buruh yang menjadi partisipan dalam pelaksanaan May Day ini," ungkap Azmir.

Dirinya melanjutkan, penurunan angka tersebut salah satu faktornya dikarenakan semakin sedikitnya buruh yang mau mengikuti serikat pekerja. Para buruh yang telah mengikuti serikat pekerja semakin menurun pada setiap tahunnya karena di PHK secara sepihak.

"Menurut kami ini karena sistem ketenagakerjaan yang tidak baik, dimana banyak pekerja yang diputus kontrak, PHK, dan juga Union Busting (praktek yang dilakukan oleh perusahaan atau pengusaha yang berupaya untuk menghentikan aktivitas serikat pekerja)," ujarnya.

Selain itu, banyak dijumpai di lapangan terkait banyaknya pihak pemerintahan yang melakukan upaya lobi kepada serikat pekerja untuk tidak melaksanakan May Day yang dirayakan secara Internasional.

"Di Jakarta dan di beberapa daerah lainnya kan terjadi terkait upaya lobi-lobi ini dan juga seperti yang kami rasakan di Kota Batam saat ini," tegasnya.

Azmir menjabarkan, sejarahnya terkait May Day ini bukanlah suatu bentuk perayaan, melainkan bentuk protes ketidakadilan para serikat pekerja dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari.

"Seperti contohnya saat ini terkhusus di Kota Batam, ada permasalahan terkait UMSK yang masih belum bisa diselesaikan. Padahal, sesuai waktu yang ditetapkan harus ditandatangai sejak Januari lalu," lanjutnya.

Permasalahan ini diduganya juga bersangkut paut dengan beredarnya statmen dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), apabila pemerintah menetapkan UMSK, maka Apindo akan mengajukan gugatan.

"Di sini kita lihat interpensi kepada Gubernur cukup besar hari ini. Di sini juga menjadi permasalahan kami dimana serikat buruh juga harus menunjukan jati dirinya," tutupnya.

Editor: Yudha