Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Refleksi Pers Indonesia

Jus Soema Di Praja, Teguhnya Prinsip Wartawan Zaman Old
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 22-02-2019 | 14:04 WIB

Oleh : Tjahja Gunawan)*

NAMANYA Jus Soema Di Pradja. Hari Kamis, 14 Februari 2019 lali, usianya genap 72 Tahun. Saya baru kenal dia pertengahan Januari 2019 lalu, dalam peringatan Tritura yang diadakan InDemo, kumpulan para aktivis mahasiswa dari berbagai generasi di Taman Ismail Marjuki Jakarta.


Perkenalan saya dengan dia berawal dari tulisan yg pernah saya buat yang mungkin pernah viral, kemudian dia sempat baca. Lalu dia tanya temen-temannya dan akhirnya menghubungi Saya via WA.

Lalu Bang Jus, saya panggil abang aja, berkirim WA yang intinya menyelidiki dan menanyakan riwayat pekerjaan saya sebagai wartawan. Dan, ternyata sama-sama pernah bekerja di institusi pers yang sama.

Cuma sejak 1978, Bang Jus di usia 31 tahun sudah mengundurkan diri sebagai wartawan. Loh kok mundur? Ya karena dia tidak mau melawan hati nuraninya.

Waktu itu lembaga tempat Bang Jus bekerja menandatangani kesepakatan damai dan permohonan maaf kepada Rezim Orde Baru atas berita-berita yang dianggap mengritik rezim.

Ada 7 media yang pada tahun 1978 pernah dilarang terbit Rezim Orde Baru yakni Kompas, Sinar Harapan, The Indonesia Times, Merdeka, Pelita, Sinar Pagu dan Pos Sore. Setelah membuat surat kesepakatan damai dengan penguasa Orde Baru, akhirnya ketujuh media tersebut bisa terbit kembali.

Kalau pengelola media tersebut bisa kompromi, sebaliknya Bang Jus tidak mau diajak kompromi. Dia lebih mengikuti hati nuraninya sendiri. Oleh karena itu dia memutuskan resign.

Demi sebuah prinsip dan demi hati nuraninya, Bang Jus memutuskan untuk keluar dari Kompas. Selanjutnya dengan bekal uang setengah bulan gaji yakni sebesar Rp 78.000, Bang Jus harus berjuang keras menghidupi istri dan dua anaknya yang masih kecil. Saat mengundurkan diri, Jus juga mengembalikan motor skuter inventaris kantor ke Kompas.

Ketika akhir Januari 2019 lalu Saya bertandang ke rumahnya yang sederhana di Kawasan Perumnas Depok, Jabar, Bang Jus dengan semangat menggebu-gebu mengungkapkan isi hati dan pikirannya.

Sebelum bergabung dengan Kompas tahun 1976, Bang Jus adalah Wartawan Indonesia Raya Pimpinan Mochtar Lubis. Dia memulai karier sebagai wartawan di Indonesia Raya tahun 1970.

Sayangnya, pada tahun 1974, Indonesia Raya dibredel karena peristiwa Malari. "Tapi sebenarnya pembredelan Indonesia Raya berkaitan dengan pemberitaan Indonesia Raya yang mengungkap skandal Korupsi di tubuh Pertamina yang waktu itu dipimpin Ibnu Sutowo," jelas Jus Soema Di Pradja.

Nah, setelah Indonesia Raya dibredel Bang Jus kemudian bekerja di Harian Kompas pada tahun 1976. Namun baru dua tahun berjalan, Kompas dilarang terbit.

Setiap penutupan surat kabar oleh pemerintah tentu menimbulkan rasa prihatin dalam setiap diri wartawan yang mencintai profesinya. Namun, yang membuat Bang Jus kecewa adalah adanya perjanjian perdamaian antara para pemimpin redaksi tujuh media yang dilarang terbit dengan pemerintah.

Hal itu, kata Bang Jus, telah menghilangkan kebebasan pers yang sesungguhnya. Bang Jus menyadari sikapnya tersebut sangat hitam putih. "Saya dinilai sebagian teman-teman, tidak realistis dalam melihat kenyataan," ujar Bang Jus.

Tapi, dia tidak mau ambil pusing. Bang Jus lebih memilih menuruti hati nuraninya. Jus memang bukan saingan Mochtar Lubis atau Rosihan Anwar. Ia juga bukan saingan Jakob Oetama atau Goenawan Muhammad.

Dia seperti kebanyakan wartawan lainnya, biasa berbicara kritis terhadap siapapun termasuk kepada teman-temannya sendiri sesama wartawan. Bang Jus cenderung berbicara ceplas ceplos tentang apapun.

Ketika ngobrol dengan Bang Jus di rumahnya, terus terang Saya merasa lelah mendengarkannya. Tapi rasa lelah itu hilang karena Bang Jus bersemangat berbagi pengalaman dan berapi-api menceritakan episode demi episode perjalanan bangsa dan negara Indonesia dalam persepktif wartawan.

Dia juga mengungkapkan kelebihan dan kekurangan para tokoh pelaku sejarah di negeri ini termasuk para tokoh pers Indonesia. Salah satu yang menarik adalah cerita almarhum Ali Sadikin.

Ketika Bang Ali menjadi Gubernur DKI, Bang Jus masih menjadi Wartawan Indonesia Raya. Di kalangan wartawan waktu itu sudah dikenal bahwa karakter Bang Ali orangnya temperamental.

Suatu waktu Bang Jus Soema Di Pradja, sengaja datang ke acara jumpa pers di Balaikota Jakarta. "Sebenarnya waktu itu saya bukan wartawan balaikota tapi wartawan politik. Tapi sengaja saya datang kesana bersama fotografer," kisah Bang Jus.

Tujuan kedatangannya ke balaikota memang sengaja ingin memancing emosi Bang Ali dengan pertanyaan kritis yang akan dia lontarkan dalam acara jumpa pers.

"Saya sudah pesan ke fotografer agar terus memoto kalau sampai Bang Ali memukul Saya. Kalau dia sampai mukul wartawan, kan bisa menjadi berita besar di Indonesia Raya," kata Bang Jus menceritakan peristiwa tersebut.

Ketika itu, tutur Bang Jus, wartawan yang biasa nongkrong di Balai Kota umumnya merasa takut sama Bang Ali bahkan juru warta terkesan bisa dikendalikan oleh Pemda dengan kompensasi 'amplop' atau mendapat keistimewaan untuk berkunjung ke tempat-tempat hiburan di Jakarta.

"Sementara kebijakan di Indonesia Raya setiap ada pemberian amplop dari pihak lain, langsung diumunkan secara terbuka," ungkap Jus.

Kembali ke jumpa pers di Balaikota, setelah mendengar pertanyaan keras dari Jus Soema Di Pradja, Bang Ali memang akhirnya benar-benar terpancing dan dia turun dari mimbar. Kerah baju baju Bang Jus sempat dipegang namun tidak sampai dipukul.

Selang beberapa lama kemudian, staf Pemda DKI yang mengetahui keluarga Bang Jus memberitahukan kepada Bang Ali bahwa Jus Soema Di Pradja masih memiliki kaitan keluarga dengan keluarga Ali Sadikin.

Beberapa hari kemudian, Bang Ali menghampiri Bang Jus. "Maneh teh masih alo urang atuh Jus. Cik atuh mun aya nanaon teh ngomong langsung ka urang". ujar Bang Jus menirukan ucapan Bang Ali dalam Bahasa Sunda. Kalau diterjemmahkan ke bahasa Indonesia: "Kamu itu masih keponakan Saya. Kalau ada apa-apa langsung berbicara ke Saya".

Ya memang di waktu muda semasa masih menjadi wartawan, Bang Jus Soema Di Pradja, berasal dari keluarga berkecukupan. Meski sebagian keluarganya ada yang tinggal di kawasan Menteng Jakarta, namun dia tidak pernah membangga-banggakan keluarganya.

Waktu itu, Bang Jus lebih memilih bekerja sebagai wartawan dengan kehidupan yang sederhana. Pada tanggal 14 Februari nanti, Saya diundang lagi untuk datang lagi ke rumahnya. "Tjahja, nanti datang ya ke rumah, acara ulang tahun saya yang ke 72," demikian pesan WA dari Bang Jus.

Paling tidak jarak umur saya dengan Bang Jus 20 tahun, tapi saat ngobrol tidak berasa ada generation gap. Saya menikmati cerita dan pengalaman dia sebagai wartawan Zaman Baheula.

Waktu terus berjalan, dan setiap jaman melahirkan generasinya masing-masing. Demikian pula pekerjaan juru warta akan senantiasa dibutuhkan.

Dari dialog panjang lebar dengan Bang Jus, Saya menarik kesimpulan bahwa, Pers yang independen adalah pers yang tidak menghamba pada kepentingan kekuasan dan pemilik modal. Pers yang memiliki integritas dan tanggung jawab. Wallahu'alam.

Penulis adalah Wartawan Senior