PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Keragaman Indonesia Bisa Dilihat dari Sabang Sampai Merauke
Oleh : Nando Sirait
Jum\'at | 19-10-2018 | 09:04 WIB
Karang_Taruna_3.jpg honda-batam
Senator Muhammad Nabil saat melakukan sosialisasi Empat Pilar kepada Karang Taruna Kelurahan Sungai Binti di Hotel Merlion, Batam

BATAMTODAY.COM, Batam - Keberagaman di Indonesia bisa dilihat dari letak geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke, merupakan anugerah yang jarang ditemuai di dunia.

"Ini sekaligus menunjukkan bahwa kita  sebagai bangsa yang dikodratkan hidup dalam lingkungan plural, rukun, aman, nyaman dan damai," kata Senator Muhammad Nabil saat melakukan sosialisasi Empat Pilar kepada Karang Taruna Kelurahan Sungai Binti  di Hotel Merlion, Batam pada 10 September 2018 lalu.

Menurut dia, keberagaman ini tidak hanya sebatas geografis, namun keberagaman ditunjukkan dengan beraneka suku, adat, tradisi budaya, bahasa etnis maupun agama, termasuk para penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang tersebar di masing-masing tempat.

"Melihat kondisi demikian, banyak orang asing/luar Indonesia sangat terkagum dengan kehidupan yang penuh keanekaragaman tersebut," katanya.  

Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama dalam pidatonya dalam Kongres Diaspora Indonesia yang digelar di The Hall Kasablanka, Jakarta beberapa waktu silam menyebutkan pentingnya menjaga toleransi.

"Semangat negara ini (Indonesia) adalah toleransi. Semangat itu adalah salah satu pembeda Indonesia, karakter penting yang harus dicontoh semua negara,Bhinneka Tunggal Ika. Kalau bangsa lain saja menghargai dan mengapresiasi tentang keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia, pastinya kita yang secara langsung merupakan bagian, patut untuk merawat serta menjaganya jangan sampai ada pihak-pihak tertentu hendak meretakkan nilai persatuan dan kesatuan yang sudah tertanam sejak para pahlawan dari berbagai suku di nusantara ini berjuang hingga meraih kemerdekaan," katanya.

Anggota Komite III DPD RI ini mengatakan, dalam telaah berperspektif sejarah, perlu diberikan apresiasi atas kegigihan serta  jiwa besar para founding fathers, para ulama, para tokoh agama, dan para pejuang kemerdekaan dari seluruh nusantara sehingga terbangun kesepakatan dalam masyarakat majemuk yang dapat mempersatukan kita sebagai bangsa Indonesia.

Hal yang tak bisa dilupakan tentunya dasar pijakan sebagai ideologi dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah tercakup dalam nilai-nilai Pancasila sebagai hasil dari rangkaian proses panjang yang disampaikan oleh Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945.

"Sebagai penerus cita-cita bangsa, tentunya kita wajib merawat serta menjaganya serta meneguhkan komitmen untuk mendalami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar berbagai giat sehari-hari dalam bidang apapun. Hanya saja dalam perjalannannya, kemungkinan menghadapi berbagai ancaman yang harus dihindari," katanya.

Senator asal Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ini menilai masuknya organisasi-organisasi radikal yang membawa ideologi bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, tetap harus selalu diwaspadai agar kehidupan berbangsa dan bernegara tetap kondusif.

Demikian pula proses perkembangan atas nama demokrasi (sejak reformasi) hingga  kini tengah berlangsung masih cenderung belum menampakkan citranya. Dilihat dari perkembangan maupun dinamika sosial yang terjadi, masih ditengarai rentan terhadap konflik, fragmentasi dan polarisasi sosial.

Seperti halnya beberapa lembaga sosial dan politik yang ada selama ini masih belum menampakkan perubahan paradigma dalam berdemokrasi. Di kalangan partai politik, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dan lainnya masih menampakkan konfliknya.

"Munculnya kubu-kubuan di kalangan parpol di parlemen, dan juga adanya koalisi-koalisi yang nampak selama ini menandakan adanya pengkotak-kotakan atau pertarungan kepentingan. Dan jika masing-masing parpol tidak mampu mengkonsolidasi diri bisa jadi akan berdampak lebih luas," katanya.

Hal ini juga perlu dilakukan untuk menjaga kerukunan umat beragama dengan menggelar dialog antar tokoh umat, yang semuanya bertujuan untuk mencegah terjadinya konflik antar umat. Sebab, memasuki tahun politik 2018 dan 2019 tidak menutup kemungkinan agama akan disusupi kepentingan politik tertentu.

"Hal-hal tersebut menjadi persoalan mendasar dan patut dicatat untuk kemudian diantisipasi bilamana kita berkomitmen untuk selalu menjaga, merawat dan menjunjung kebhinekaan, menjadi bangsa yang berjati diri, santun, jiwa gotong royong, penuh toleransi sebagaimana telah tercakup dalam nilai-nilai luhur Pancasila, demi keutuhan NKRI," katanya.

Editor: Surya