Waspada! Asing Ingin Memecah Belah Indonesia
Oleh : Gokli
Kamis | 21-04-2016 | 12:32 WIB
hardi-sosialisasi-empat-pil.jpg
Senator Hardi S. Hood saay menyampaikan materi dalam Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bersama kalangan mahasiswa di kampus STIKES Mitra Bunda. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Anggota MPR RI Hardi S Hood menjelaskan bahwa bangsa Indonesia harus waspada sebab pihak asing tidak menginginkan Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera. Mereka ingin mengelola dan menguasai kekayaaan alam dengan memecah belah Indonesia menjadi beberapa negara.

"Asing ingin memecah belah negara kita menjadi beberapa negara, sebab mereka ingin menguasai kekayaan alam. Karena itu kita harus waspada jangan lengah, bahwa ancaman perpecahan NKRI tersebut kini tampak nyata,” kata senator asal Kepri ini dalam Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bersama kalangan mahasiswa di kampus STIKES Mitra Bunda, Selasa (19/4/2016).

Dijelaskan Hardi, mengacu dari fakta yang ada Uni Soviet sudah dipecah menjadi 15 negara merdeka, kemudian Yugoslavia dipecah menjadi enam negara merdeka, dan demikian juga Cekoslowakia. Termasuk Irak saat ini sedang terjadi proses pemecahan dari masing-masing suku.

Indonesia, kini juga sedang digarap untuk dipecah-pecah menjadi beberapa negara bagian oleh kekuatan kelompok kapitalisme dan neoliberalisme yang berpaham pada sekularisme.

DijelaskanHardi, dirinya sudah berkeliling Indonesia, dan dia menyaksikan Indonesia adalah negara besar dengan kekayaan alam yang luar biasa, serta keberagaman budaya dan etnis, tidak banyak negara seperti Indonesia.

Namun, kata senator Hardi, jika tidak dikelola dengan baik, keberagaman itu dapat dijadikan sebagai pemicu untuk memecahbelah bangsa. 

Perbedaan itu dapat disatukan, menurutdnya, lantaran adanya Pancasila, di antara sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa, kemudian dibingkai dalam lambang Burung Garuda, yakni Bhinneka Tunggal Ika.

"Atas nama Tuhan yang Maha Esa, kita dapat disatukan, melalui simbol Pancasila. Oleh karena itu, saya mendorong pemerintah sebaiknya melakukan kaji ulang untuk menerapkan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)," katanya. 

Jika dulu cara penyampaiannya menggunakan model indoktrinasi, ia mengusulkan, saat ini perlu diubah melalui diskusi dan membuka wacana luas, dengan substansi Pancasila masih diperlukan untuk mempererat NKRI. 

Ia menilai, pada dasarnya Indonesia ini mudah akan terjadi perpecahan, jika generasi penerus tidak menyadari adanya pihak asing yang ingin membuat Indonesia tidak kuat.

Editor: Dodo